efektivitas serapan karbon biru karbon hijau - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Ekosistem Pesisir Lebih Efektif Menangkap Karbon Dibanding Hutan Darat?

Mengapa Ekosistem Pesisir Lebih Efektif Menangkap Karbon Dibanding Hutan Darat?
images info

Mengapa Ekosistem Pesisir Lebih Efektif Menangkap Karbon Dibanding Hutan Darat? | Unsplash @Joel Vodell


Topik seputar efektivitas serapan karbon biru vs karbon hijau kini menjadi perbincangan di kalangan pemerhati lingkungan, terutama seiring meningkatnya urgensi mitigasi iklim global dan keadaan alam yang semakin mengkhawatirkan.

Namun sebelum membahasnya lebih lanjut, apakah Kawan familiar dengan istilah karbon biru dan karbon hijau? Kira-kira dari mana asalnya serta apa perbedaannya?

Meski keduanya berbeda, baik karbon biru maupun karbon hijau sama-sama memegang peranan penting dalam menurunkan dampak pemanasan global. Terlebih, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia tentu memiliki potensi maritim yang besar. Indonesia pun dulunya juga dilabeli paru-paru dunia.

Nah, sebelum mendalami pembahasan mengenai kapasitas simpan karbon mangrove dan mitigasi iklim pesisir, mari kita terlebih dahulu berkenalan dengan konsep dasar serta perbedaan karbon biru dan karbon hijau.

baca juga

Memahami Perbedaan Karbon Biru dan Karbon Hijau

Perbedaan Karbon Biru dan Karbon Hijau, Ada Juga Karbon Hitam!
info gambar

Perbedaan Karbon Biru dan Karbon Hijau, Ada Juga Karbon Hitam! | Unsplash @Timothy


Secara definisi, penelitian Jang dan Awiati (2023) menjelaskan bahwa karbon biru mengacu pada karbon yang diserap melalui fotosintesis oleh tanaman air asin di daerah pesisir atau juga karbon yang terperangkap di celah-celah dataran pasang surut (lumpur) oleh proses fisik gelombang.

Berdasarkan pedoman IPCC saat ini, ekosistem laut yang diakui sebagai penyerap karbon baru meliputi rawa-rawa asin, hutan bakau (mangrove), dan dataran garam.

Lebih lanjut, konsep blue carbon ini berbeda dengan karbon hijau yang merujuk pada karbon tersimpan di ekosistem darat, seperti hutan dengan pepohonan tinggi dan hijau yang tentu tidak asing di telinga Kawan.

Selain itu, ada juga sebutan karbon hitam yang dapat ditemui di dalam bahan bakar fosil, misalnya batu bara.

Di samping persoalan ekosistem, terdapat perbedaan lain antara karbon biru dan karbon hijau. Dikutip dari Lindungi Hutan, ancaman utama terhadap kelestarian ekosistem blue carbon umumnya berasal dari alih fungsi lahan hutan mangrove, sementara green carbon lebih rentan terhadap ancaman penggundulan hutan.

Kemudian dari segi efektivitas, ekosistem karbon biru diklaim mampu menyerap karbon dalam jumlah yang jauh lebih besar per satuan luas jika dibandingkan dengan ekosistem darat. Seberapa banyak itu?

baca juga

Melihat Perbandingan Laju Penyerapan Karbon: Hutan Tropis vs Hutan Mangrove

Perbandingan Laju Penyerapan Karbon: Hutan Tropis vs Hutan Mangrove
info gambar

Perbandingan Laju Penyerapan Karbon: Hutan Tropis vs Hutan Mangrove | Unsplash @Hongbin


Dikutip dari Lindungi Hutan, ekosistem karbon biru dapat menyerap karbon secara masif, bahkan angkanya hingga empat kali lebih banyak per hektare. Jika dibandingkan dengan hutan tropis, ekosistem ini dapat menyerap 30–50 kali lebih cepat.

Indonesia punya sejumlah hutan tropis, seperti Kalimantan, Papua, dan Sumatera. Mereka merupakan salah satu contoh penyerap karbon alami terbesar di dunia. Dikutip dari Mutu Certification, hutan tropis bisa menyerap sekitar 2,4 miliar ton CO₂ setiap tahun secara global, di mana satu hektar hutan tropis dapat menyerap rata-rata 50 ton CO₂ selama masa hidupnya.

Sebagai pembanding, kapasitas simpan karbon mangrove mampu menyimpan karbon hampir lima kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis biasa. Seperti yang disinggung oleh Ristianto Pribadi, Direktur Rehabilitasi Mangrove, dalam presentasinya di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (COP30) pada akhir 2025, luas hutan mangrove di Indonesia mencapai 3,44 juta hektare, yang angka tersebut sepadan dengan sekitar 23% dari total mangrove global.

Jika membandingkannya lebih lanjut dengan ekosistem karbon biru lain, rawa memiliki potensi menyimpan karbon sekitar 800 ton per hektare, dan padang lamun menyimpan sekitar 600 ton karbon per hektare.

Meskipun ekosistem green carbon mencakup area daratan yang jauh lebih luas dan menyerap karbon lebih sedikit per satuan luas, perlu dipahami juga bahwa cadangan karbon yang tersimpan dapat bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun, bergantung pada kesehatan dan pengelolaan ekosistemnya.

baca juga

Menjadikan Pesisir Indonesia Benteng untuk Menghadapi Krisis Iklim

Indonesia memiliki sebaran ekosistem karbon biru yang sangat luas dan strategis, terutama di wilayah timur seperti Papua. Apabila dirawat dengan baik melalui aksi restorasi dan rehabilitasi yang berkelanjutan, kawasan mangrove ini tentu dapat menjadi benteng untuk menghadapi krisis iklim yang makin memprihatinkan.

Kawan GNFI juga bisa turut ambil bagian lewat langkah-langkah kecil, seperti menghindari tindakan membuang sampah sembarangan atau mencemari ekosistem hutan bakau dan padang lamun di sekitar kita.

Lebih dalam, penting untuk diingat bahwa tingginya efektivitas penyerapan pada ekosistem karbon biru tidak lantas berarti bahwa ekosistem karbon hijau seperti hutan tropis menjadi kurang penting.

Hutan darat tetap memiliki fungsi ekologis yang tak tergantikan, mulai dari mengikat cadangan air tanah, menjadi sumber mata air, menyediakan rumah bagi satwa terancam punah, hingga mencegah bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, menjaga kelestarian kedua ekosistem ini secara bersamaan sangat penting dan bisa disebut menjadi kunci utama penyelamatan Bumi.

Ingin terus terhubung dengan ragam informasi menarik seputar alam dan kelestarian Nusantara? Yuk, jelajahi berbagai artikel edukatif lainnya hanya di kanal berita Good News From Indonesia!

baca juga

 

REFERENSI:

  • Jang, J., & Awiati, W. (2023). Karbon Biru Di Indonesia: Memahami Pentingnya Konservasi Dan Restorasi Untuk Mencapai Netralitas Karbon. Jurnal Hukum dan Bisnis (Selisik), 9(1), 18-36.
  • https://goodnewsfromindonesia.pages.dev/ragam/alam-lingkungan/potensi-karbon-biru-indonesia
  • https://dlhk.bantenprov.go.id/berita/MENGENAL-EKOSISTEM-PESISIR-DAN-LAUT
  • https://mutucertification.com/peran-hutan-dalam-atasi-emisi-karbon/
  • https://lindungihutan.com/blog/green-carbon-blue-carbon-blue-economy/

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.