sejarah desa mori jejak tionghoa di kelokan bengawan Kwfssg - News | Good News From Indonesia 2026

Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan
images info

‎Desa Mori merupakan kelokan kecil yang menjadi bagian dari jaringan besar peradaban sungai terpanjang di Jawa. Lintasan jalur ekonomi yang menyimpan jejak kultur Tionghoa. 

‎Desa Mori Kecamatan Trucuk Bojonegoro memang tak banyak diperbincangkan dalam diskursus kebudayaan. Namun, kami meyakini bahwa tak ada desa yang tak memiliki aset budaya. Sebab selama masih dihuni manusia dalam lapis generasi yang berlipat-ganda, sebuah desa pasti menyimpan kearifan budayanya sendiri. Begitupun di Desa Mori ini.

‎Seperti mayoritas desa di kawasan lembah Kendeng Utara, tak banyak objek studi masa silam yang masih tersisa di Desa Mori. Kalaupun ada hanya sejumlah punden yang diyakini sebagai Danyang Desa. Satu di antaranya Punden Mbok Rondo Mori, yang terletak di tengah sawah dan amat jauh dari pemukiman warga.

‎Punden Mbok Rondo Mori dibangun dengan cungkup motif arsitektur Cina. Bangunan punden ini memang baru dibangun belum lama. Sehingga terkesan tidak kontekstual terhadap lokasi keberadaannya. Meski begitu, bukan berarti tidak bisa dibaca. Sebab, komponen utama pembentuk budaya desa, adalah bentang alamnya.

Dalam konteks penyusunan dan pendokumentasian narasi budaya desa, Jurnaba ‎menggunakan framework yang berlapis. Baik itu melalui pembacaan folklore dan jejak legenda, maupun analisa literatur dan historiografi ilmiah yang memiliki relasi kuat terhadap kawasan tersebut.

Jejak Legenda

‎Dalam konteks legenda rakyat, Desa Mori terdapat tokoh bernama Mbok Rondo Mori, sosok perempuan yang menjadi danyang (leluhur) Desa Mori. Mbok Rondo Mori juga dikenal dengan sebutan lain seperti Dewi Nawang Wulan atau Dewi Ulan Sari. Nama-nama ini kerap dikaitkan dengan masa ketika Islam mulai masuk di kawasan tersebut.

Ilustrasi: punden Mbok Rondo Mori

‎Diceritakan bahwa setiap musim paceklik, Mbok Rondo Mori akan membasahi selendangnya, dan mengibaskan selendang itu ke area pertanian, sehingga paceklik tidak terjadi. Dalam narasi yang sama, Mbok Rondo Mori juga diceritakan menggali tanah, hingga galian itu menjadi sumber mata air yang menyuplai irigasi pertanian warga hingga saat ini.

Seperti desa-desa lain di kawasan Bukit Kapur Utara Jawa, legenda Mbok Rondo Mori identik produk budaya abad 19 M yang berfokus pada penggambaran makna “kesuburan” melalui kisah legenda. Konstruksinya bertumpu pada bias ingatan masa lampau yang tak mampu ditangkap secara utuh oleh generasi setelahnya. Ini alasan utama abad 19 M dikenal sebagai masa pembuatan kisah babad dan cerita legenda.

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.