Pada era digital saat ini, gawai atauย smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja.ย Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari tiga puluh enam persen anak usia lima hingga lima belas tahun di Indonesia sudah memiliki gawai sendiri.
Tingginya tingkat penggunaan telepon seluler di kalangan anak usia remaja awal berdampak langsung pada kebiasaan harian mereka. Waktu yang biasanya digunakan untuk bermain bersama teman sebaya di luar rumah perlahan berganti dengan permainan digital berbasis aplikasi.
Fenomena ini membuat ruang interaksi fisik anak menjadi berkurang. Anak-anak menjadi jarang bergerak secara aktif dan makin asing dengan ragam permainan tradisional Nusantara.
Melihat fenomena tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tahun 2023 menggelar kegiatan pengenalan budaya lintas daerah di SMP Maulana Pegayaman, Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng, Bali pada Rabu, 6 Mei 2026.
Aktivitas ini bertujuan memperkenalkan permainan tradisional Betawi, seperti Galasin (Benteng), Tuk-Tuk Ubi, dan Deprok (Dampu Bulan) sebagai langkah nyata melestarikan warisan budaya Nusantara di tengah maraknya penggunaan gawai.
Mengenalkan Budaya Betawi di Tanah Bali
Desa Pegayaman merupakan wilayah yang unik di Bali karena memiliki sejarah panjang pembauran budaya, khususnya desa dengan penduduk penganut agama islam terbanyak di Bali.
Saat tim melakukan survei awal melalui angket, ditemukan fakta bahwa 85,7 persen siswa kelas VII SMP Maulana Pegayaman sama sekali belum pernah mendengar atau memainkan permainan tradisional khas Betawi. Sebagian besar dari mereka mengaku lebih familiar dengan game online seperti Free Fire di ponsel masing-masing.
Untuk membuka wawasan kebudayaan tersebut, melalui kegiatan interaktif, para siswa diajak untuk mengalami langsung tiga jenis permainan tradisional khas Betawiย yang membutuhkan gerak fisik dan kerja sama kelompok:
Galasin (Bentengan): Dua kelompok saling berhadapan di lapangan terbuka. Satu tim bertugas menjaga garis pertahanan, sementara tim lawan berusaha menerobos tanpa tersentuh oleh penjaga. Permainan ini mengandalkan kecepatan lari dan strategi tim.
Tuk-Tuk Ubi: Permainan lingkaran yang diiringi dengan nyanyian sederhana khas Betawi. Para pemain saling berpegangan tangan dan melatih kekompakan serta komunikasi kelompok.
Deprok (Dampu Bulan): Permainan melompat dengan satu kaki di atas petak-petak garis yang digambar menggunakan kapur. Permainan ini melatih keseimbangan tubuh dan ketelitian pemain.
Proses pengenalan permainan dilakukan secara langsung di halaman sekolah. Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan bergantian mencoba setiap pos permainan yang didampingi oleh mahasiswa fasilitator.
Respon anak-anak ternyata sangat dinamis. Setelah mencoba memainkan ketiga permainan tersebut, pandangan mereka terhadap permainan tradisional mulai berubah:
Lebih Seru Dibandingkan Gawai: Separuh dari total peserta (50 persen) menyatakan secara terbuka bahwa bermain permainan fisik bersama teman di lapangan ternyata jauh lebih menyenangkan daripada bermain game di gawai.
Mempererat Hubungan Pertemanan: Sebanyak 57,1 persen siswa merasa hubungan mereka dengan kawan sekelas menjadi lebih akrab dan kompak setelah berjuang bersama dalam satu tim.
Menyadari Arti Pelestarian Budaya: Sebanyak 71,4 persen siswa memahami bahwa memainkan permainan tradisional adalah cara nyata untuk menjaga warisan budaya Indonesia agar tidak punah.
Permainan Galasin menjadi jenis permainan yang paling disukai oleh siswa. Karakter permainan yang aktif, penuh kejar-kejaran, dan kompetitif terbukti cocok dengan jiwa anak remaja yang energik.
Tantangan Kesempatan, Bukan Ketidaktertarikan
Temuan dalam kegiatan pengabdian ini memberikan gambaran penting mengenai kondisi anak-anak saat ini. Kurangnya pengetahuan mereka terhadap permainan tradisional sebenarnya bukan disebabkan oleh rasa tidak suka atau acuh, melainkan karena minimnya ruang dan kesempatan untuk memainkannya.
Ketika diberikan ruang yang tepat serta arahan yang menyenangkan, anak-anak dengan cepat menikmati permainan tradisional.
Aktivitas fisik ini memberi mereka kesempatan untuk tertawa bersama, berinteraksi secara jujur, dan belajar memecahkan masalah dalam kelompok. Kegiatan-kegiatan inilah yang sulit didapatkan saat menatap layar gawai secara individu.
Pengenalan permainan tradisional Betawi di Desa Pegayaman, Bali, membuktikan bahwa pelestarian budaya Nusantara dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, langsung, dan menyenangkan.
Langkah ini tidak hanya memperluas wawasan kebudayaan anak-anak terhadap tradisi daerah lain, tetapi juga menjadi opsi nyata untuk menyeimbangkan pola aktivitas harian mereka dari ketergantungan digital.
Melalui dukungan lingkungan sekolah dan masyarakat, permainan tradisional diharapkan dapat terus dimainkan di waktu luang sekolah maupun di lingkungan rumah, sehingga nilai-nilai kebersamaan dan identitas budaya bangsa tetap terjaga lintas generasi.


