Kawan GNFI, kalau Indonesia sedang mengalami kemarau, seharusnya hujan tidak turun deras dan banjir tidak terjadi. Benarkah sesederhana itu? Tidak juga.
Pada awal Oktober 2026, sebagian wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi kering. Namun, di waktu yang hampir bersamaan, hujan lebat tetap dapat terjadi di wilayah lain dan memicu bencana hidrometereologi.
Sekilas, kondisi ini terlihat bertolak belakang. Padahal, ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika membaca cuaca Indonesia: kita tidak hidup di ruang yang seragam.
Kawan GNFI, Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kondisi geografis yang sangat beragam. Karena itu, kondisi cuaca dan risiko yang dihadapi masyarakat juga tidak selalu sama antardaerah. Maka, pertanyaannya bukan hanya“Indonesia sedang musim apa?”, tetapi juga: “Apa yang sedang terjadi di wilayah saya?”
Satu Indonesia, Banyak Kondisi Cuaca
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia, akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
Kondisi ini berkaitan dengan El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang turut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan.
Kawan GNFI,BMKG juga mencatat bahwa sebanyak 556 ZOM yang mencakup 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau. Bahkan, sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.
Namun, kondisi kering tersebut bukan berarti seluruh Indonesia bebas dari hujan.
Dalam prakiraan cuaca periode 2–8 Oktober 2026, BMKG menyebut atmosfer Indonesia masih relatif kering, tetapi hujan lebat hingga sangat lebat tetap berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Pada 28–30 September, misalnya, hujan hingga 102 mm/hari tercatat di Papua Tengah dan 96 mm/hari di Jawa Barat. Artinya, kondisi kering secara umum dapat berlangsung bersamaan dengan hujan intens di lokasi tertentu.
El Nino Tidak Berarti Indonesia Tidak Akan Hujan
El Nino merupakan fenomena iklim berskala besar yang dapat memengaruhi pola curah hujan Indonesia. Pada 2026, BMKG mengidentifikasi kondisi El Nino dalam kategori sangat kuat dan memperkirakan fenomena tersebut bertahan hingga awal 2027. Bersama IOD positif, kondisi ini berkontribusi terhadap periode kering yang lebih panjang dan mundurnya awal musim hujan di banyak wilayah Indonesia.
Namun, El Niño bukan berarti hujan berhenti di seluruh Indonesia.
Hujan lebat di suatu wilayah tetap dapat terjadi karena dinamika atmosfer regional maupun lokal. Karena itu, kurang tepat jika kondisi nasional yang kering digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap wilayah sedang mengalami kondisi yang sama.
Label “kemarau” bisa benar pada skala tertentu, tetapi belum tentu cukup untuk menjelaskan cuaca yang dialami masyarakat di tingkat lokal.
Risiko Cuaca Selalu Memiliki Lokasi
Kawan GNFI, Hujan deras sendiri tidak selalu berarti bencana. Dampaknya bergantung pada di mana hujan tersebut turun dan seperti apa kondisi wilayah yang menerimanya.
Dua wilayah dapat menerima hujan dengan intensitas yang sama, tetapi menghadapi risiko berbeda. Wilayah dengan drainase baik, ruang terbuka, dan kapasitas sungai memadai mungkin dapat mengalirkan air dengan lebih cepat. Sebaliknya, kawasan padat dengan banyak permukaan kedap air, drainase terbatas, dan riwayat genangan dapat lebih rentan mengalami banjir.
Hal yang sama berlaku pada kekeringan. Dua wilayah yang sama-sama mengalami sedikit hujan belum tentu memiliki tingkat kerentanan yang sama. Ketersediaan sumber air, kebutuhan irigasi, kepadatan penduduk, hingga pola penggunaan air dapat menentukan seberapa besar dampaknya.
Karena itu, risiko bukan hanya tentang apa yang terjadi di atmosfer, tetapi juga tentang kondisi ruang yang menerima fenomena tersebut.
Ketika Kemarau dan Banjir Bisa Terjadi dalam Periode yang Sama
Data di lapangan memperlihatkan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar kemungkinan.
Dalam laporan perkembangan situasi per 30 September 2026, BNPB mencatat kejadian banjir di Kabupaten Langkat dan Kota Subulussalam, serta banjir bandang di Kabupaten Solok. Kejadian tersebut berkaitan dengan hujan berintensitas tinggi di wilayah masing-masing.
Di sisi lain, BMKG masih mencatat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia pada awal Oktober. Dua kondisi tersebut tidak harus saling bertentangan.
Indonesia dapat mengalami periode kering secara luas, sementara hujan intens tetap terjadi di lokasi tertentu. Karena itu, kurang tepat jika kita berpikir, “Karena sedang kemarau, banjir tidak mungkin terjadi.”
Yang perlu dilihat adalah di mana hujan turun, seberapa intens hujan tersebut, dan bagaimana kondisi wilayah yang menerimanya.
Dari "Musim Apa?" menjadi "Apa yang Terjadi Di Sini?"
Kawan GNFI, Selama ini kita cukup terbiasa dengan pertanyaan: “Sekarang musim hujan atau musim kemarau?”
Pertanyaan tersebut berguna, tetapi belum cukup untuk memahami risiko.
Informasi cuaca menjadi lebih bermakna ketika diterjemahkan ke dalam konteks lokasi. Ketika ada peringatan hujan lebat, misalnya, kita perlu melihat apakah rumah berada di wilayah rawan banjir, bagaimana kondisi sungai dan drainase, atau apakah perjalanan sehari-hari melewati daerah yang sering tergenang.
Begitu pula saat menghadapi kekeringan. Pertanyaannya bukan hanya apakah hujan berkurang, tetapi bagaimana kondisi sumber air dan kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.
Kawan GNFI, Di sinilah informasi cuaca perlu bertemu dengan informasi spasial. Peta risiko, data curah hujan, penggunaan lahan, kondisi sungai, kepadatan permukiman, dan riwayat bencana dapat membantu menerjemahkan informasi atmosfer menjadi gambaran risiko yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Jangan Membaca Indonesia dengan Satu Label Musim
Kawan GNFI, Indonesia tidak dapat dibaca sebagai satu ruang dengan satu kondisi cuaca.
Ada wilayah yang masih mengalami hari tanpa hujan panjang. Ada wilayah lain yang menerima hujan lebat. Ada daerah yang mulai bersiap menghadapi kekurangan air, sementara daerah lain perlu mengantisipasi limpasan air.
Karena itu, daripada hanya bertanya “Sekarang musim apa?”, mungkin sudah waktunya kita bertanya: “Apa yang sedang terjadi di tempat saya?”
Sebab membaca risiko cuaca berarti membaca ruang. Bukan hanya kapan hujan turun, tetapi di mana hujan turun, bagaimana kondisi wilayah tersebut, dan apa yang terjadi ketika air sampai di sana.


