Setiap 2 Oktober, kita merayakan batik sebagai warisan yang diakui dunia. Tahun ini, saya ingin merayakannya dengan mengingat sebuah kampung di Surabaya yang kata "malam"-nya pernah bermakna lain.
Selama bertahun-tahun, Kampung Dolly dikenal karena kehidupan malamnya, sebuah kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Kini, di gang-gang yang sama, warga memanaskan malam yang berbeda, yakni lilin batik yang dicapkan ke kain, helai demi helai.
Beberapa tahun terakhir saya mendampingi warga yang membatik di kampung ini. Sejak lokalisasi Dolly ditutup pada 2014, banyak warga harus mencari penghidupan baru, sekaligus menghadapi stigma yang tidak ikut hilang bersama papan nama wisma. Sebagian menemukan jalannya lewat batik. Mereka berhimpun dalam kelompok usaha bersama.
Namun, membatik saja ternyata belum cukup. Ada pertanyaan yang lebih rumit: cerita apa yang ingin mereka tuliskan di atas kain? Sebab kain yang dibatik bukan sekadar barang dagangan, tetapi batik adalah salah satu cara sebuah kampung membangun identitasnya.
Dolly Tak Lagi Menggambar Kupu-Kupu
Dulu, batik buatan warga identik dengan motif kupu-kupu. Bagi mereka, kupu-kupu itu adalah "kupu-kupu malam", sebutan yang lama melekat pada kampung ini dan pada orang-orang yang hidup di dalamnya. Motif itu adalah jawaban yang paling mudah, karena itulah citra Dolly yang sudah dikenal orang luar.
Saya masih ingat sesi-sesi ketika kami bersama warga mencari motif yang paling mewakili kampung mereka. Perlahan, kupu-kupu ditinggalkan. Warga tidak lagi bertanya bagaimana orang lain memandang Dolly. Mereka mulai bertanya: apa yang dilihat setiap hari? Pertanyaan itu terdengar sepele, tetapi mengubah banyak hal.
Jawabannya ternyata sangat sederhana. Warung kopi, lengkap dengan gorengannya, muncul sebagai motif. Bagi warga, warung kopi adalah ruang bertemu, tempat kabar kampung beredar dan tetangga saling menyapa.
Bagi orang luar, motif ini mungkin tampak remeh. Justru di situlah kekuatannya. Warga Dolly jujur tentang kehidupan sehari-hari sebuah kampung yang kini berjalan seperti kampung-kampung lain di Surabaya.
Lalu ada taman bermain. Dari sana lahir Batik Dollan, yang akrab di telinga sebagai 'dolan', istilah dalam Bahasa Jawa untuk bermain, dari kampung yang kini menyebut dirinya Kampung Dollynan.
Motif ini menyimpan harapan besar: kelak Dolly dikenal sebagai kampung ramah anak. Kampung yang dulu dijauhkan dari dunia anak-anak kini ingin menjadi tempat anak-anak tumbuh dengan riang.
Wader dan Keberanian Menamai Diri
Adapula batik WADER, singkatan dari Wanita Dolly Kreatif dan Religius. Nama itu lahir dari warga sendiri. Di dalamnya ada keberanian dan kepercayaan diri. Perempuan-perempuan Dolly yang selama bertahun-tahun ikut menanggung sebutan dari luar kini memilih nama untuk diri mereka sendiri. Jika dulu mereka dinamai, kini mereka menamai.
Dalam bahasa Jawa, wader juga nama ikan kecil yang hidup di sungai. Bukan ikan besar, tetapi cukup kuat untuk bertahan di arus. Mungkin kebetulan, mungkin tidak.
Namun, gambaran itu pas untuk menggambarkan transformasi sosial yang sedang mereka jalani: kecil, tekun, dan terus bergerak. Di atas kain, kupu-kupu malam telah berganti menjadi perempuan yang kreatif dan religius.
Menyala Tanpa Api
Transformasi itu juga tampak pada cara mereka membatik. Rumah-rumah di Dolly berdempetan, dan memanaskan malam dengan kompor di ruang sempit bukan perkara aman. Karena itu, warga mengembangkan canting cap dari limbah kertas dan kayu, dengan pemanas malam tanpa api.
Alat sederhana ini membuat membatik lebih aman, termasuk ketika anak-anak ikut belajar. Canting yang sama kini juga dipakai sebagai perangkat edukasi batik bagi siapa pun yang ingin belajar.
Ada simbol yang indah di situ. Di kampung yang dulu dikenal karena kehidupan malamnya, kini ada malam yang menyala tanpa api. Tidak berkobar, tidak riuh, tidak mengundang sorotan. Apinya hanya hangat secukupnya untuk mencairkan lilin dan menuliskan cerita baru di atas kain. Pemulihan Dolly pun berjalan seperti itu: tenang, pelan, tetapi terus menyala.
Tahun ini, pameran batik terbesar di negeri ini, Puspa Nuswantara, mengusung tema "Rupa Makna Tambal Nusantara". Motif tambal tersusun dari bidang-bidang kain yang tampak disatukan satu sama lain, dan kerap dimaknai sebagai harapan untuk memulihkan apa yang rusak. Di Dolly, saya melihat makna itu bekerja dengan cara yang paling nyata.
Warga tidak berusaha menghapus masa lalu kampungnya. Mereka menambalnya, helai demi helai, dengan warung kopi, taman bermain, dan nama yang mereka pilih sendiri. Setiap motif baru adalah satu tambalan kecil pada citra yang lama koyak. Kupu-kupu malam itu tidak dibuang dengan marah. Kupu-kupu menjadi salah satu cerita masa lalu yang cukup untuk dikenang, bukan diulang.
Pekan depan, kita biasa merayakan batik sebagai warisan yang diakui dunia. Dari Dolly, ada kabar baik lain yang juga layak kita rayakan bahwa batik bukan hanya warisan yang perlu dijaga, tetapi juga menjadi jalan untuk pulih.
Di sana, malam tidak lagi identik dengan gelap. Batik dari kampung Dolly 'menyala' tanpa api, di tangan warga yang sedang menggambar ulang dirinya sendiri.


