Bagi sebagian orang, sejarah mungkin identik dengan buku, arsip, prasasti, atau dokumen lama. Namun, ketika menyusuri berbagai pelosok daerah, saya menemukan bahwa sejarah juga hidup dalam ingatan masyarakat.
Cerita tentang sebuah batu, pohon tua, nama kampung, atau petilasan terrkadang hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Tidak semuanya tercatat dalam dokumen sejarah, tetapi keberadaannya tetap menjadi bagian dari ingatan masyarakat setempat.
Pengalaman tersebut saya temukan ketika mengeksplorasi wilayah Garut, Jawa Barat.
JejakBatudiGunungCikurayΒ

Abah Jajang Jaga Raksa (Kanan), Batu Satangtung di Ciela kawasan Gunung Cikuray/Foto : Abah Jajang Jaga Raksa
Saat menelusuri jejak sebuah desa bernama Tjiela atau Ciela di kawasan Gunung Cikuray, Kecamatan Bayongbong, saya menemukan sejumlah batu dengan berbagai bentuk.
Keberadaan batu-batu tersebut kemudian saya tanyakan kepada Warjita, seorang sejarawan Garut. Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk fisiknya, ia menilai batu-batu tersebut memiliki kemiripan dengan peninggalan tradisi megalitik. Ia menyebut kemungkinan bentuknya berkaitan dengan menhir atau dolmen.
Pendapat tersebut menarik karena berasal dari pengamatan fisik dan pengalaman dalam melihat peninggalan masa lalu.
Namun, di tempat yang sama terdapat cerita lain yang berasal dari masyarakat.
Abah Jajang Jaga Raksa, salah seorang warga asli di wilayah Gunung Cikuray, menuturkan bahwa batu tersebut dipercaya sebagai petilasan Prabu Siliwangi. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, tempat itu juga dikaitkan dengan jalan menuju Mekah.
Cerita tersebut tentu berbeda dengan pendekatan sejarah berdasarkan pengamatan benda secara fisik.
Cerita mengenai batu sebagai jalan menuju Mekah mungkin sulit diterima jika hanya dilihat menggunakan logika modern. Bukti tertulis yang mendukung cerita tersebut juga belum ditemukan.
Namun, bagi saya, cerita itu tetap menarik untuk didokumentasikan. Bukan berarti cerita lisan tersebut harus langsung dianggap sebagai fakta sejarah, melainkan sebagai bagian dari pengetahuan dan ingatan masyarakat yang masih hidup hingga sekarang.
Di sinilah pentingnya membedakan antara fakta, pendapat, dan cerita lisan.
Jika sebuah informasi belum memiliki bukti yang cukup, maka sebaiknya tetap disebut sebagai cerita masyarakat. Dengan demikian, kita tidak mengubah legenda menjadi fakta, tetapi juga tidak menghilangkan cerita yang mungkin suatu saat dapat menjadi petunjuk bagi penelitian berikutnya.
Menelusuri Asal-Usul Kadungora

Kampung Kadungora/Foto Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Pengalaman serupa saya temukan ketika menelusuri asal-usul nama Kadungora, Garut.
Untuk mengetahui sejarah administratif suatu wilayah, kita mungkin dapat dengan mudah menemukan informasi melalui internet, dokumen pemerintah, ensiklopedia, atau berbagai tulisan yang sudah terdigitalisasi.
Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika kita ingin mengetahui asal-usul sebuah kampung. Saya pernah menulis mengenai Kadungora pada 2017 dan mencoba mendatangi langsung sumber cerita di Kampung Kadungora yang dipercaya berkaitan dengan asal-usul nama tersebut.
Di lokasi tersebut terdapat sebuah pohon durian yang tumbuh berdampingan dengan rumah warga. Menurut keterangan Dian, warga asli Kadungora, pohon itu dipercaya memiliki hubungan dengan asal-usul nama kampung.
Konon, buah dari pohon tersebut tidak pernah sempat menjadi tua karena selalu jatuh sebelum matang. Dalam bahasa Sunda, kadu berarti durian, sedangkan ngora berarti muda. Dari sinilah muncul penafsiran bahwa Kadungora berarti βdurian mudaβ.
Cerita tersebut kemudian membuat saya tertarik melihat Kadungora tidak hanya dari asal-usul namanya, tetapi juga dari kehidupan masyarakatnya.
Saya pernah memiliki pengalaman tinggal di wilayah tersebut. Dari pengalaman itu, saya melihat adanya fenomena menarik: sebagian warga meninggalkan kampung setelah dewasa dan berkeluarga di luar Kadungora, bahkan di luar Garut.
Saya kemudian menghubungkan fenomena tersebut secara reflektif dengan cerita tentang buah durian yang selalu jatuh sebelum tua. Tentu, hubungan tersebut bukan fakta sejarah yang telah terbukti, melainkan interpretasi pribadi berdasarkan pengalaman dan cerita masyarakat.
MenjagaCerita agarTidakHilang
Dua pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa sejarah lokal tidak selalu hadir dalam bentuk dokumen.
Ada cerita yang hanya tersimpan dalam ingatan seseorang.
Ada nama tempat yang diwariskan tanpa catatan tertulis.
Ada benda tua yang masih berada di lokasi, tetapi tidak diketahui secara pasti sejarahnya.
Karena itu, mendokumentasikan cerita lisan menurut saya tetap penting. Cerita tersebut dapat dicatat sebagai cerita masyarakat, kemudian dibandingkan dengan sumber tertulis dan bukti yang tersedia.
Dengan cara seperti itu, cerita lisan dan sejarah tertulis tidak harus dipertentangkan. Cerita lisan dapat menjadi pintu masuk untuk mencari fakta. Sebaliknya, sumber tertulis dapat membantu menguji cerita yang berkembang di masyarakat.
Pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh kejadian yang berlangsung ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu.Β Kita hanya dapat mengumpulkan jejak yang tersisa, mendengarkan orang-orang yang masih mengingatnya, mencari sumber pembanding, kemudian menyusun kembali potongan-potongan masa lalu tersebut.
Bagi saya, itulah menariknya menjelajahi sejarah lokal. Sebab sejarah bukan hanya tentang apa yang tertulis, tetapi juga tentang apa yang masih diingat. Dan sebelum sebuah cerita benar-benar hilang bersama generasinya, mungkin ada baiknya kita mencatatnya terlebih dahulu.


