stasiun ngrombo stasiun terbesar dan teramai di grobogan yang sudah ada sejak 1924 - News | Good News From Indonesia 2026

Stasiun Ngrombo: Stasiun Terbesar dan Teramai di Grobogan yang Sudah Ada Sejak 1924

Stasiun Ngrombo: Stasiun Terbesar dan Teramai di Grobogan yang Sudah Ada Sejak 1924
images info

Stasiun Ngrombo | Adhi Kurniawan/WikimediaCommons


Stasiun Ngrombo adalah stasiun kereta api kelas I terbesar dan teramai di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Stasiun ini terletak di Desa Depok, Kecamatan Toroh, dan masuk dalam pengelolaan Daerah Operasi IV Semarang.

Berada di ketinggian +38 meter, stasiun ini menjadi simpul pergerakan utama bagi masyarakat setempat. Lokasinya juga strategis karena terletak di tepi jalan raya Purwodadi–Solo.

Aksesnya yang dekat dengan pusat pemerintahan kabupaten di Purwodadi membuat stasiun ini selalu padat penumpang. Selain menjadi sarana transportasi publik, Stasiun Ngrombo menyimpan nilai historis yang panjang.

Stasiun ini telah beroperasi sejak era kolonial Belanda pada dekade 1920-an. Berbagai pembenahan fasilitas hingga perluasan layanan kereta terus melengkapi perjalanannya hingga saat ini.

Bangunan dengan Arsitektur Khas Kolonial yang Masih Kental

Dilansir dari Instagram @infosepur4, Stasiun Ngrombo dibangun pada 1924 oleh perusahaan kereta api Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Pembangunan stasiun ini adalah bagian dari proyek jalur kereta api Semarang–Surabaya.

Bangunan lamanya mengusung gaya kolonial Belanda dengan fungsionalisme tropis khas arsitektur Indies. Ciri khasnya bisa dilihat dari atap perisai ganda (double gevel) dan jendela krepyak serta pintu simetris.

Rancangan ini disesuaikan untuk memperlancar sirkulasi udara di iklim tropis yang hangat. Pintu-pintu berukuran besar juga dibuat demi memberi kenyamanan dan kelancaran arus penumpang.

Di era kolonial, stasiun ini berfungsi mengirimkan hasil bumi dari pedalaman ke Pelabuhan Semarang. Jalur ini juga menyokong pengangkutan logistik militer serta pergerakan pasukan Belanda.

Dulu, ada jalur percabangan di sisi timur yang mengarah ke pusat Purwodadi dan Gundih. Namun, jalur tersebut kini sudah tidak aktif.

baca juga

Renovasi di Era Modern

Seiring meningkatnya pengguna kereta api, Stasiun Ngrombo pun direnovasi besar-besaran pada 2013. Bangunan baru di sebelah barat dijadikan pusat pengatur perjalanan kereta. Sementara itu, bangunan lama di sisi timur dijadikan ruang tunggu.

Saat jalur ganda dioperasikan, jumlah jalur di stasiun ini bertambah dari tiga menjadi empat jalur. Sistem persinyalan mekanik lama juga diganti dengan teknologi elektrik Len-02.

Fasilitas untuk penumpang ikut ditingkatkan lewat peninggian peron, penambahan kanopi, perluasan parkir, serta musala dan toilet baru. Pemanjangan peron pulau kembali dilakukan pada 2020 untuk menampung rangkaian kereta panjang.

Di timur laut stasiun, ada gedung workshop Balai Perawatan Perkeretaapian milik DJKA Kemenhub. Fasilitas ini terhubung langsung ke jalur utama untuk merawat sarana kereta api.

Melayani Perjalanan KAJJ hingga Kereta Lokal

Sebagai stasiun teramai di Grobogan, Stasiun Ngrombo melayani berbagai layanan kereta api antarkota maupun lokal. Stasiun ini membantu mempermudah mobilisasi warga Grobogan dan sekitarnya.

Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) eksekutif misalnya. Ada KA Pandalungan relasi Gambir–Jember via Semarang dan Surabaya. Layanan ini menjadi andalan warga menuju Jakarta maupun Jawa Timur.

Kelas campuran dilayani KA Jayabaya (Pasar Senen–Malang) dan KA Blambangan Ekspres (Pasar Senen–Ketapang). Ada juga KA Gumarang, KA Dharmawangsa Ekspres, serta KA Harina.

Di kelas ekonomi, stasiun ini disinggahi KA Kertajaya, KA Airlangga, dan KA Ambarawa Ekspres. Rangkaian kereta tersebut menghubungkan Jakarta, Semarang, hingga Surabaya.

Bagi penglaju lokal, ada KA Blora Jaya relasi Semarang Poncol–Cepu dan KA Kedung Sepur. Uniknya KA Kedung Sepur menjadikan stasiun ini sebagai terminus dari Semarang Poncol.

baca juga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.