stasiun pariaman gerbang pesisir minangkabau yang berdiri di depan pantai gandoriah - News | Good News From Indonesia 2026

Stasiun Pariaman: Gerbang Pesisir Minangkabau yang Berdiri di Depan Pantai Gandoriah

Stasiun Pariaman: Gerbang Pesisir Minangkabau yang Berdiri di Depan Pantai Gandoriah
images info

Stasiun Pariaman | Abireese12/WikimediaCommons


Stasiun Pariaman adalah stasiun kereta api kelas II yang berlokasi di Kampung Pondok I, Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Berada di ketinggian dua meter di atas permukaan laut, stasiun ini berada di bawah naungan KAI Divisi Regional II Sumatera Barat.

Stasiun ini melayani perjalanan kereta api lokal Pariaman Ekspres yang menghubungkan Kota Padang hingga Stasiun Naras. Moda transportasi ini menjadi urat nadi utama mobilitas harian masyarakat pesisir.

Uniknya, stasiun ini hanya berjarak 20 meter dari bibir Pantai Gandoriah. Posisinya yang berhadapan langsung dengan laut menjadikannya salah satu stasiun pesisir paling ikonik di Indonesia.

Sejarah Stasiun Pariaman

Stasiun Pariaman pertama kali diresmikan dan beroperasi pada tahun 1908 dengan nama awal Station Priaman. Jalur relnya dibangun era kolonial Belanda untuk menghubungkan rute Teluk Bayur hingga Naras.

Pada awal abad ke-20, fungsi utamanya adalah mengangkut komoditas hasil bumi seperti kopra dan ikan kering.

Bangunan stasiun mengusung gaya arsitektur kolonial fungsional akhir yang tahan terhadap angin dan kelembaban pantai. Ciri khasnya bisa dilihat pada jendela kayu berukuran besar serta kanopi logam tua yang dipertahankan sampai sekarang.

Sistem persinyalan di stasiun ini juga terus diperbarui seiring berjalannya waktu. Setelah memakai sinyal mekanik Alkmaar sejak 1979, sistemnya diganti dengan Siemens & Halske oleh DJKA pada tahun 2021.

Perubahan penting terjadi saat jalur rel menuju Stasiun Naras resmi diaktifkan kembali pada tahun 2019. Sejak reaktivasi itu, aktivitas langsir lokomotif di emplasemen Stasiun Pariaman tidak lagi dilakukan.

Saat ini Stasiun Pariaman juga merupakan salah satu cagar budaya yang dilindungi. Stasiun ini menjadi bukti perjalanan kereta api bersejarah di Sumatra Barat.

baca juga

Dekat dengan Pantai Gandoriah

Letak geografis yang sangat dekat dengan pantai menjadi keunikan utama yang sulit ditemukan di stasiun lain. Penumpang bahkan bisa langsung menikmati pemandangan laut begitu turun dari gerbong kereta.

Melansir dari situs resmi Pemkot Pariaman, tahun 2023, Pemkot setempat dan PT KAI membuka alur khusus dari sisi barat stasiun menuju kawasan Pantai Gandoriah. Fasilitas ini memudahkan wisatawan untuk pergi ke pantai tanpa perlu memutar rute.

Perjalanan naik kereta Pariaman Ekspres menempuh waktu sekitar 1,5 jam dari Kota Padang. Sepanjang rute, penumpang disuguhi panorama alam pesisir pantai serta pemandangan pedesaan.

Naiknya Jumlah Wisatawan Asing

Kawan GNFI, jumlah wisatawan asing yang menggunakan layanan kereta api lokal di Sumatera Barat tercatat mengalami peningkatan pesat.

Berdasarkan data PT KAI Divre II Sumbar dari ANTARA, secara keseluruhan di Sumbar, jumlah pelanggan WNA melonjak dari 1.007 orang pada 2022 menjadi 10.169 orang pada 2024. Pertumbuhan tersebut berlanjut hingga periode Januari sampai Agustus 2026 dengan raihan 5.427 penumpang.

Pada Stasiun Pariaman, tercatat ada 679 penumpang WNA pada periode Januari hingga Agustus 2026. Angka ini naik 21,25 persen jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang berjumlah 560 orang.

Secara akumulatif sejak 2022 hingga Agustus 2026, Stasiun Pariaman telah melayani sebanyak 2.889 penumpang WNA. Capaian ini menempatkan Stasiun Pariaman di posisi ketiga tertinggi di Sumbar setelah BIM dan Stasiun Padang.

Secara gabungan, Stasiun Pariaman dan empat stasiun utama lainnya menyumbang 74,63 persen total penumpang asing di Sumatera Barat. Aksesibilitas langsung menuju kawasan objek wisata pantai menjadi faktor utama tingginya angka kunjungan tersebut.

baca juga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.