Apakah Kawan GNFI selalu sarapan sebelum memulai aktivitas yang padat di pagi hari? Jika iya, apa menu andalan Kawan untuk sarapan?
Masyarakat Asia umum dikenal dengan kebiasaan menyantap hidangan sarapan yang hangat, gurih, dan mengenyangkan. Kebiasaan ini berbeda dengan pola makan masyarakat Eropa yang umumnya lebih menyukai menu sarapan manis serta bertekstur ringan.
Di Indonesia sendiri, ada banyak menu yang biasa ditemukan di meja makan keluarga, seperti nasi goreng, sup, soto, hingga bubur ayam. Sarapan dianggap bisa membantu memenuhi kebutuhan energi sebelum memulai rentetan aktivitas yang melelahkan.
Kawan GNFI, TastaAtlas baru saja merilis daftar hidangan sarapan terbaik di kawasan Asia untuk tahun 2026. Menariknya, hidangan khas Indonesia, yakni bubur ayam, berhasil masuk daftar sebagai salah satu menu sarapan terbaik di Asia.
Daftar Menu Sarapan Terbaik di Asia Versi TastaAtlas
Melansir dari situs TasteAtlas, di bawah ini adalah sepuluh menu sarapan terbaik di kawasan Asia:
- Beyran ΓorbasΔ± β Turki (Skor: 4,5)
- Roti Canai β India (Skor: 4,4)
- Mercimek ΓorbasΔ± β Turki (Skor: 4,4)
- Bal Kaymak β Turki (Skor: 4,4)
- Katmer β Turki (Skor: 4,3)
- Jianbing β Tiongkok (Skor: 4,3)
- Chole Bhature β India (Skor: 4,3)
- Nan-e Barbari β Iran (Skor: 4,3)
- Bubur Ayam β Indonesia (Skor: 4,3)
- Sfiha β Lebanon (Skor: 4,3)
Peringkat ini disusun berdasarkan ribuan penilaian sah dari para penikmat kuliner di seluruh dunia. Masing-masing hidangan mencerminkan kekayaan bumbu rempah dan kebiasaan makan pagi masyarakat di negara asalnya.
Sebagai tambahan, dari daftar yang dipublikasikan TastaAtlas, ada makanan Indonesia lainnya yang masuk daftar, yaitu nasi goreng (peringkat 16), gado-gado (peringkat 52), gudeg (peringkat 87), dan bubur ketan hitam (peringkat 92).
Sejarah dan Alasan Bubur Ayam Jadi Favorit Masyarakat Indonesia
Di balik kenikmatannya, bubur ayam memiliki sejarah panjang yang berakar dari tradisi bubur nasi khas Tiongkok kuno. Menurut catatan sejarah, olahan beras yang dimasak dengan air dalam jumlah banyak ini ternyata sudah dikenal masyarakat sejak ribuan tahun lalu.
Tradisi pembuatan bubur ini awalnya lahir saat krisis pangan atau musim kemarau panjang melanda Tiongkok pada era Kaisar Shih Huang Ti. Untuk menghemat persediaan beras yang terbatas, nasi dimasak dengan air kaldu secara masal agar dapat dikonsumsi oleh lebih banyak rakyat.
Seiring berjalannya waktu, tradisi santap bubur ini menyebar ke Nusantara melalui para imigran dan pedagang Tionghoa. Di Indonesia, olahan bubur tersebut berakulturasi dengan bumbu lokal serta variasi topping khas seperti suwiran ayam, kecap, dan kerupuk.
Ada beberapa alasan utama yang membuat bubur ayam begitu dicintai masyarakat Indonesia hingga menjadi menu sarapan harian. Teksturnya yang halus serta disajikan dalam kondisi hangat membuatnya sangat aman dan nyaman bagi saluran pencernaan.
Kandungan air dan karbohidrat yang tinggi pada bubur ayam juga siap memberikan pasokan energi cepat tanpa membebani kerja lambung. Selain itu, perpaduan rasa gurih kaldu ayam serta aneka topping melimpah memberikan kepuasan cita rasa tersendiri bagi penikmatnya.
Bubur ayam juga sangat mudah dijumpai, mulai dari gerobak kaki lima hingga kedai makan. Kombinasi nilai sejarah, kemudahan penyajian, serta kelezatan rasa inilah yang menjaga posisi bubur ayam sebagai menu andalan sarapan masyarakat Indonesia.
Kawan GNFI ada yang suka bubur ayam?


