Jaringan ritel modern terus memperluas jangkauan di Indonesia. Dalam enam tahun, lima jaringan ritel besar menambah hampir 14.000 gerai.
Pertumbuhan itu belum mengubah kebiasaan utama masyarakat ketika membeli kebutuhan sehari-hari. Warung dan toko tradisional masih menjadi tempat terjadinya sebagian besar transaksi.
Menurut riset dari Pradipta,Β tiga dari empat transaksi kebutuhan sehari-hari masih berlangsung di warung dan toko tradisional.
Pada 2025, kanal tradisional menyumbang sekitar 76 persen transaksi. Nilainya mencapai sekitar Rp1.276 triliun.
Β
Jumlah Gerai Modern Naik 41,3 Persen
Pradipta menganalisis perkembangan ritel nasional pada periode 2019 hingga 2025. Analisis itu mencakup lima jaringan ritel modern, yaitu Indomaret, Alfamart, Circle K, Alfamidi, dan Lawson.
Jumlah gerai kelima jaringan tersebut meningkat dari 33.738 gerai pada 2019 menjadi 47.681 gerai pada 2025.
Dengan demikian, terdapat penambahan sekitar 13.943 gerai dalam enam tahun. Jumlah tersebut setara dengan pertumbuhan sekitar 41,3 persen.
Pertumbuhan gerai menunjukkan ekspansi jaringan minimarket masih berlangsung. Namun, bertambahnya gerai tidak otomatis membuat warung kehilangan peran dalam transaksi harian.
Β
Konsumen Menggunakan Dua Kanal Belanja
Nilai transaksi ritel modern memang meningkat selama periode tersebut. Pada 2019, ritel modern menyumbang sekitar 18,6 persen transaksi kebutuhan sehari-hari dengan nilai sekitar Rp319,14 triliun.
Pada 2025, kontribusinya meningkat menjadi sekitar 24 persen. Nilai transaksinya mencapai sekitar Rp403,09 triliun.
Kenaikan itu berjalan bersamaan dengan kuatnya peran warung dan toko tradisional. Data tersebut menunjukkan konsumen tidak sepenuhnya berpindah ke satu kanal belanja.
Masyarakat menggunakan minimarket dan warung sesuai kebutuhan. Minimarket dapat menjadi pilihan untuk belanja dengan pilihan produk yang lebih teratur. Warung tetap digunakan untuk akses yang dekat dan pembelian kebutuhan harian.
Β
Jawa Menjadi Pusat Warung dan Toko Kelontong
Pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan konsentrasi warung dan toko kelontong yang besar. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat termasuk provinsi dengan jumlah warung serta toko kelontong terbanyak.
Jawa Timur tercatat memiliki 8.432 warung. Jawa Tengah memiliki 8.559 toko kelontong.
Jawa Barat berada di posisi berikutnya dengan 5.829 warung dan 5.950 toko kelontong. Jika enam provinsi di Pulau Jawa digabungkan, jumlahnya mencapai 24.656 warung dan 25.244 toko kelontong.
Angka tersebut menunjukkan luasnya keberadaan kanal tradisional di Jawa. Namun, bahan yang tersedia belum menjelaskan metode pendataan serta apakah angka warung dan toko kelontong tersebut mencakup unit usaha yang sama atau kategori berbeda.
Β
Warung Belum Tergeser oleh Ritel Modern
Pertumbuhan ritel modern memperluas pilihan belanja masyarakat. Pada saat yang sama, warung dan toko tradisional tetap menjadi kanal utama untuk kebutuhan harian.
Perubahan jumlah gerai modern tidak berjalan sebagai penggantian langsung terhadap warung. Kedua kanal tersebut berkembang dalam ekosistem belanja yang sama.
Pada 2025, sekitar 76 persen transaksi kebutuhan sehari-hari masih terjadi di warung dan toko tradisional. Nilainya tercatat sekitar Rp1.276 triliun.


