job hugging ketika bertahan di pekerjaan terasa lebih aman daripada resign - News | Good News From Indonesia 2026

Job Hugging, Ketika Bertahan di Pekerjaan Terasa Lebih Aman daripada Resign

Job Hugging, Ketika Bertahan di Pekerjaan Terasa Lebih Aman daripada Resign
images info

Job Hugging, Ketika Bertahan di Pekerjaan Terasa Lebih Aman daripada Resign | Sumber: Unsplash @Ocult Store


Seseorang mungkin sudah tidak lagi terlalu menyukai pekerjaannya, merasa ruang geraknya terbatas, atau menyimpan keinginan mencari tantangan baru. Namun, langkah untuk mengajukan pengunduran diri diurungkan karena pindah kerja dirasa jauh lebih berisiko. Situasi kontradiktif ini kerap melanda para pekerja di tengah dinamika dunia profesional saat ini.

Beberapa tahun sebelumnya, narasi job hopping atau sering berpindah kerja sempat mendominasi pembicaraan publik. Fenomena tersebut dikaitkan dengan ambisi besar, pencarian kompensasi finansial lebih tinggi, serta percepatan karier.

Kendati demikian, situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar bagi para pekerja. Apa yang terjadi ketika berpindah tempat kerja justru mendatangkan rasa takut lebih besar daripada bertahan?

Di sinilah istilah job hugging diperkenalkan secara natural ke dalam diskursus ketenagakerjaan modern. Para pekerja yang memilih bertahan tentu tidak bisa serta-merta dicap sebagai individu yang malas atau tidak ambisius.

Sebaliknya, keputusan berdiam diri di posisi sekarang sering kali menjadi langkah yang sangat rasional. Terlebih lagi, langkah tersebut diambil ketika kondisi pasar kerja sedang berada dalam fase ketidakpastian. Apakah job hugging merupakan wujud loyalitas, strategi bertahan hidup, atau tanda seseorang terjebak rutinitas?

Job Hugging, Ketika Bertahan Bukan Selalu Berarti Bahagia

Istilah job hugging dipahami sebagai kecenderungan pekerja mempertahankan posisi saat ini meski kurang puas. Keputusan ini diambil akibat bayang-bayang ketidakpastian ekonomi serta tingginya risiko kegagalan pindah kerja.

Perlu ditekankan bahwa tidak semua orang lama bekerja di satu perusahaan otomatis melakukan job hugging. Seseorang yang bertahan karena puas dan mendapat ruang berkembang tentu tidak termasuk job hugger.

Agar lebih objektif, perbedaan antartren dunia kerja ini perlu dipetakan dengan cermat:

  • Job hopping: Tindakan berpindah pekerjaan secara relatif sering guna mencari peluang baru.
  • Job hugging: Kecenderungan bertahan karena segala bentuk perubahan dianggap terlalu berisiko.
  • Quiet quitting: Sikap tetap bekerja, namun membatasi kontribusi secara ketat pada tugas dasar.
  • Loyalitas: Keputusan setia yang didasari keterikatan emosional serta kepuasan positif organisasi.

Perlu dicatat bahwa job hugging bukanlah diagnosis psikologis formal yang kaku. Istilah ini dipahami sebagai label tren dunia kerja, bukan kategori ketenagakerjaan resmi.

baca juga

Istilahnya Baru Muncul, tetapi Mengapa Tren Ini Ramai Sekarang?

Perilaku dasar bertahan di tengah pekerjaan kurang ideal bukanlah hal baru. Orang-orang sudah sejak lama melakukannya demi menyambung hidup di tengah tekanan ekonomi. Sehingga, fenomena perilakunya sama sekali tidak bisa dikatakan baru muncul pada tahun 2025.

Namun, sejarah penyebutan istilahnya mencatat Agustus 2025 sebagai titik penting. Korn Ferry menerbitkan artikel bertajuk “Job Hugging, for Dear Life” pada 12 Agustus 2025. Artikel tersebut memicu diskusi luas mengenai fenomena pekerja yang enggan berpindah instansi. Meski demikian, klaim absolut bahwa Korn Ferry menciptakan istilah ini harus dihindari.

Berbagai literatur menyatakan perusahaan tersebut mungkin mempopulerkannya, namun tidak dapat memastikan penemunya. Kemunculan istilah ini sangat erat kaitannya dengan realitas pasar kerja global.

Faktor seperti mobilitas berkurang, rekrutmen lambat, ketidakpastian ekonomi, dan kekhawatiran AI menjadi latar belakangnya. Oleh sebab itu, job hugging dipahami sebagai kebalikan dari narasi job hopping.

Dari Takut PHK hingga Sulit Menemukan Pekerjaan Baru, Mengapa Orang 'Memeluk Pekerjaannya'?

Keputusan profesional melakukan job hugging tidak lahir dari satu alasan tunggal. Fenomena ini merupakan akumulasi kondisi ekonomi makro, dinamika pasar kerja, serta pertimbangan personal.

Pertama, pasar kerja tidak pasti membuat proses rekrutmen semakin sulit dan berisiko tinggi. Pekerja akhirnya memilih mempertahankan pekerjaan yang ada sambil menunggu situasi membaik. Kedua, ada kekhawatiran besar kehilangan stabilitas pendapatan, tunjangan, dan jaringan relasi. Pindah kerja berarti menghadapi masa percobaan baru serta risiko pemutusan hubungan kerja.

Ketiga, ketakutan mendapati kondisi perusahaan baru yang ternyata jauh lebih buruk. Keempat, perkembangan teknologi dan restrukturisasi korporasi meningkatkan persepsi risiko karier. Kelima, pertimbangan personal seperti tanggung jawab keluarga dan faktor usia turut memengaruhi. Keputusan bertahan ini tentu tidak boleh disederhanakan sekadar sebagai bentuk ketakutan semata.

baca juga

Saat Rasa Aman Datang dengan Harga: Dampak Job Hugging bagi Pekerja

Bertahan di suatu pekerjaan tidak otomatis mendatangkan keburukan bagi individu. Langkah ini mampu memberikan kepastian pendapatan, stabilitas finansial, serta perlindungan transisi. Namun, job hugging menjadi persoalan ketika rasa aman membuat seseorang kehilangan kesempatan berkembang.

Potensi risiko negatif mengintai mulai dari stagnasi karier hingga penurunan motivasi kerja. Apabila ketidakpuasan dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini memicu burnout serta kelelahan mental. Besar kecilnya dampak tersebut sangat bergantung pada alasan dasar seseorang bertahan.

Penting membedakan retensi sehat dan retensi yang semata-mata didasari oleh rasa takut. Korn Ferry mengingatkan bahwa retensi tinggi bisa terjadi karena ketakutan, bukan loyalitas.

Bukan Cuma Pekerja, Perusahaan Juga Perlu Membaca Sinyal di Balik Job Hugging

Perusahaan biasanya melihat tingkat retensi tinggi sebagai indikator keberhasilan positif. Namun, manajemen harus jeli mengetahui alasan mengapa karyawan memilih bertahan. Karyawan yang bertahan karena puas tentu berbeda dengan mereka yang takut menganggur.

Fenomena ini berisiko menurunkan tingkat keterlibatan serta menghambat inovasi perusahaan. Meskipun demikian, tidak bijak menyimpulkan job hugging pasti menurunkan produktivitas secara mutlak.

Penelitian pada karyawan milenial dan Gen Z menemukan hubungan negatif dalam konteks sampel terbatas. Karena bersumber dari satu perusahaan, hasil tersebut tidak boleh digeneralisasi nasional. Perusahaan dianjurkan membaca angka retensi bersama indikator kepuasan pegawai lainnya.

baca juga

Kalau Sudah Terlanjur “Memeluk” Pekerjaan, Apa yang Bisa Dilakukan?

Solusi menghadapi job hugging tidak harus selalu bermuara pada instruksi resign. Bagi para pekerja, langkah awal yang dapat ditempuh meliputi:

  • Melakukan evaluasi jujur mengenai alasan utama masih bertahan di posisi sekarang.
  • Memeriksa apakah instansi masih menyediakan ruang belajar dan pengembangan diri.
  • Meningkatkan kompetensi dan keterampilan secara bertahap di sela kesibukan.
  • Membangun kembali jejaring profesional secara aktif dengan kolega luar kantor.
  • Menyiapkan bantalan finansial berupa dana darurat serta rancangan transisi karier.

Pembaca tentu tidak boleh didorong mengambil keputusan resign tanpa kesiapan finansial. Sementara itu, perusahaan perlu membuka ruang dialog karier dan program peningkatan keterampilan. Benang merah seluruh solusi ini adalah mengubah “bertahan karena takut” menjadi pilihan sadar.

Job Hugging sebagai Cermin Pasar Kerja yang Sedang Berubah

Job Hugging tidak bisa dihakimi secara hitam-putih sebagai tren baik atau buruk. Keputusan bertahan lahir dari spektrum luas antara pilihan sadar maupun rasa cemas. Dunia kerja bergerak dari satu narasi ekstrem ke narasi ekstrem lainnya.

Meskipun Gen Z dan milenial sering disorot, fenomena ini dialami berbagai kalangan. Kesehatan ekosistem kerja diukur dari alasan di balik keputusan serta ruang berkembang. Narasi yang mengharuskan setiap orang keluar dari zona nyaman patut ditinjau ulang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Revaldy Maulana Latumeten lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Revaldy Maulana Latumeten.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.