Enam minggu di Hai Phong, Vietnam, menjadi pengalaman berharga bagi Tesalonika Rosian Angel Sidabutar, mahasiswa S-1 Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret, yang telah menyelesaikan programΒ Global Volunteer AIESEC pada 9 Juli hingga 19 Agustus 2026. Melalui proyek Happy Bus yang dijalankan bersama CEA Education Joint Stock Company, ia berperan sebagai pengajar bahasa Inggris bagi anak usia dini, specialized children, dan siswa sekolah menengah. Proyek ini mendukung SDGs 4.2, yaitu memastikan anak-anak memperoleh akses pendidikan usia dini yang berkualitas.
Perjalanan tersebut berawal dari proses pendaftaran yang ia lakukan melalui AIESEC in UNS. Tesalonika kemudian memilih Vietnam karena letaknya relatif dekat dan budayanya terasa akrab, sehingga perhatian nya dapat diarahkan pada tujuan utama nya mengikuti program ini, yaitu mengembangkan kemampuan komunikasinya dalam bahasa asing dan mengenal budaya lain secara langsung.
Setelah diterima oleh AIESEC in NEU sebagaiΒ host committee dan menandatangani acceptance note pada akhir Maret 2026, Tesalonika mulai mempersiapkan keberangkatan. Persiapan tersebut tidak berhenti pada urusan administrasi. ia juga membekali diri dengan pemahaman mengenai karakteristik anak dengan autisme dan ADHD, sekaligus mengumpulkan ide aktivitas belajar yang menyenangkan dan mudah diikuti anak-anak.
Setibanya di Hai Phong, Tesalonika mengajar di PEA Pre-School & English Academy dengan jadwal rutin setiap Selasa hingga Sabtu. Ia berpindah dari satu kelas ke kelas lain dan menyusun teaching plan untuk setiap pertemuan bersama rekan volunteer. Untuk anak usia dini, pembelajaran dikemas melalui English stories, lagu, permainan, dan flashcard. Anak-anak diajak mengenal nama warna dan buah, menirukan ekspresi perasaan seperti senang, marah, takut, dan mengantuk, lalu menebak benda yang ditunjuk oleh pengajar di sekitar kelas.
Tantangan berbeda muncul ketika ia harus mendampingi specialized children, yaitu anak-anak dengan autisme dan ADHD. Kegiatan bersama kelompok ini menuntut kesabaran, instruksi yang lebih sederhana, serta kepekaan dalam membaca respons setiap anak. Sementara itu, pada kelas siswa sekolah menengah, pendekatannya bergeser ke arah latihan percakapan dan materi yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Perbedaan ketiga kelompok tersebut membuatnya harus terus menyesuaikan metode, bahkan ketika rencana yang telah disusun tidak berjalan sesuai harapan.
"Di kelas saya belajar bahwa tidak ada satu cara mengajar yang cocok untuk semua anak. Setiap kelompok punya ritmenya sendiri, dan tugas saya adalah menyesuaikan diri dengan mereka, bukan sebaliknya," ujar Tesalonika.
Keberhasilan kegiatan tersebut juga ditopang oleh kerja sama banyak pihak. Ia berkoordinasi dengan pengajar lokal di sekolah tersebut, pihak penyelenggara, serta volunteer lokal maupun internasional dalam menyiapkan materi dan menjalankan kelas. Kolaborasi ini melatihnya untuk membagi tanggung jawab, memberi dan menerima masukan, serta menyelesaikan pekerjaan bersama orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Baginya, perbedaan bahasa dan kebiasaan justru menjadi ruang untuk saling belajar, bukan penghalang dalam bekerja sama.
Di luar kelas, kehidupan sehari-hari di Vietnam mengajarkan Tesalonika untuk lebih beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan, pola komunikasi, dan ritme hidup yang berbeda dari keseharian di Indonesia. Penggunaan bahasa Inggris setiap hari, baik di kelas maupun dalam interaksi dengan sesama volunteer, membuatnya semakin terbiasa dan percaya diri dengan kemampuan berkomunikasinya. Interaksi tersebut sekaligus membuka pemahamannya tentang keberagaman budaya dan pentingnya menghargai cara pandang orang lain.

Menjelang berakhirnya program, Tesalonika juga memperoleh pengalaman yang tidak terduga. Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, penulis berkesempatan mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi dan bertemu langsung dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam.
Meskipun kegiatan tersebut bukan bagian dari rangkaian proyekΒ Happy Bus, tetapi menjadi salah satu momen paling berkesan untuknya selama berada di Vietnam. Kegiatan ini memberikan kesan bahwa setiap mahasiswa yang berkegiatan di luar negeri turut membawa nama Indonesia, sehingga sikap dan kontribusi yang ditunjukkan selama program menjadi bagian dari cara memperkenalkan bangsa kepada masyarakat internasional.
Sebagai mahasiswa hukum, Tesalonika melihat pengalaman ini sebagai pelengkap yang berharga bagi proses belajarnya di kampus. Kemampuan berkomunikasi yang dia terapkan selama di Vietnam, cara memahami kebutuhan orang lain, dan bekerja dengan orang-orang lintas budaya merupakan bekal yang relevan untuk dunia akademik maupun profesional yang akan ia jalani.
Tesalonika menyampaikan apresiasi kepada AIESEC in UNS, AIESEC in NEU, serta CEA Education Joint Stock Company atas kesempatan dan dukungan selama program ini berlangsung. Ia berharap kontribusi kecil yang diberikan di Hai Phong dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif bagi anak-anak.


