Dag van het Nederlands atau Hari Berbahasa Belanda 2026 menjadi salah satu kesempatan untuk mengenal lebih dekat bahasa dan budaya Belanda. Perayaan tahunan ini tidak hanya mengajak masyarakat mempelajari Bahasa Belanda, tetapi juga mengingatkan kembali hubungan sejarah antara Indonesia dan Belanda.
Hubungan tersebut meninggalkan berbagai jejak, mulai dari kosakata yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia hingga penggunaan nama tokoh dan pulau Indonesia sebagai nama jalan di Belanda.
Acara yang diselenggarakan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta ini berlangsung pada 31 Oktober 2026, pukul 11.00–17.00 WIB. Kegiatan tersebut menjadi ruang interaktif bagi pelajar, akademisi, pencinta bahasa, dan masyarakat umum untuk mengeksplorasi keterkaitan sejarah serta budaya kedua negara.
Rangkaian Acara Dag van het Nederlands 2026
Dalam penyelenggaraannya, Dag van het Nederlands 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan bahasa, seni, dan budaya. Pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas yang memberikan pengalaman untuk mengenal kehidupan masyarakat penutur Bahasa Belanda.
Berikut rangkaian acara yang tercantum dalam poster Dag van het Nederlands 2026:
- Fashion Show Competition atau kompetisi peragaan busana.
- Movie Screening atau pemutaran film.
- Food and Beverage Booths atau bazar makanan dan minuman.
- Country Booths atau stan negara.
- Special Music Performances atau pertunjukan musik spesial.
- Dutch Language Corner atau sudut pembelajaran Bahasa Belanda.
- Photobooth.
Melalui kegiatan tersebut, pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas sekaligus mengenal kebudayaan Belanda secara lebih dekat.
Jejak Bahasa Belanda dalam Bahasa Indonesia
Hubungan panjang antara Indonesia dan Belanda turut meninggalkan pengaruh dalam perkembangan bahasa. Salah satunya terlihat dari sejumlah kosakata Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Belanda.
Beberapa kata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari memiliki akar dari bahasa tersebut. Contohnya adalah kantor, gratis, handuk, wortel, dan setir. Kosakata tersebut menjadi bagian dari Bahasa Indonesia yang digunakan masyarakat hingga sekarang.
Penyerapan kosakata ini menjadi salah satu bukti keterkaitan bahasa kedua negara. Pengaruh tersebut tidak hanya terlihat dari penggunaan kata, tetapi juga dapat ditemukan melalui nama-nama tempat di Belanda yang mengambil inspirasi dari Indonesia.
Nama Jalan Indonesia di Belanda

Mohammed Hattastraat dan Sjahrirstraat, Nama Jalan Tokoh Indonesia di Belanda | Foto: Google Maps
Selain kosakata, hubungan sejarah Indonesia dan Belanda juga terlihat dari penggunaan nama tokoh nasional, pahlawan, hingga pulau-pulau Indonesia sebagai nama jalan. Beberapa nama tersebut tersebar di sejumlah kota di Belanda.
1. Mohammed Hattastraat
Mohammad Hatta merupakan salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menempuh pendidikan ekonomi di Rotterdam pada 1921 dan tinggal di Belanda hingga 1932. Selama berada di sana, Hatta juga aktif dalam pergerakan melalui Perhimpunan Indonesia.
Namanya kemudian diabadikan sebagai Mohammed Hattastraat di kawasan Zuiderpolder, Haarlem. Jalan tersebut menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap peran Hatta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
2. R.A. Kartinistraat
Tokoh emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ayu Kartini (1879–1904), juga diabadikan sebagai nama jalan di Belanda. Pemikirannya dikenal melalui surat-surat yang dikirimkan kepada teman-temannya di Eropa.
Pada 1911, kumpulan surat tersebut diterbitkan dalam buku Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.
Nama Kartini digunakan di beberapa kota, yaitu Utrecht, Haarlem, dan Venlo. Sementara itu, di Amsterdam, namanya diabadikan secara lengkap menjadi Raden Adjeng Kartinistraat.
3. Sjahrirstraat
Sutan Sjahrir (1909–1966) pernah menempuh pendidikan hukum di Universitas Amsterdam dan Universitas Leiden. Ia juga aktif dalam pergerakan bersama Perhimpunan Indonesia dan Mohammad Hatta.
Sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia, Sjahrir berperan dalam diplomasi kemerdekaan Indonesia. Namanya diabadikan di tiga kota Belanda, yakni Leiden, Gouda, dan Haarlem. Di Leiden terdapat Sjahrirstraat, sedangkan di Gouda terdapat Sjahrirsingel. Adapun di Haarlem, namanya digunakan sebagai Sutan Sjahrirstraat.
4. Pattimurastraat
Thomas Matulessy atau Pattimura (1783–1817) merupakan tokoh perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda di Maluku. Ia memimpin penyerangan Benteng Duurstede di Saparua pada 16 Mei 1817.
Namanya kemudian digunakan sebagai Pattimurastraat di Wierden pada 2011. Pemberian nama tersebut merupakan usulan komunitas Maluku yang telah menetap di wilayah itu selama beberapa dekade.
5. Martha C. Tiahahustraat
Tidak jauh dari Pattimurastraat, terdapat Martha C. Tiahahustraat yang menggunakan nama Martha Christina Tiahahu (1800–1818). Ia merupakan pejuang perempuan asal Maluku yang ikut berjuang bersama pasukan Pattimura sejak usia muda.
Setelah beberapa kali terlibat dalam perlawanan, Tiahahu ditangkap dan dikirim ke Jawa untuk menjalani kerja paksa. Ia meninggal dalam perjalanan pada usia 17 tahun.
6. Irawan Soejonostraat
Irawan Soejono (1919–1945) merupakan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Leiden sejak 1934. Ketika Belanda diduduki Jerman pada Perang Dunia II, ia bergabung dengan gerakan bawah tanah untuk melawan fasisme.
Ia juga terlibat dalam penerbitan surat kabar propaganda ant fasis, De Bevrijding. Irawan gugur setelah ditembak tentara Nazi-Jerman pada 13 Januari 1945. Namanya kemudian diabadikan sebagai Irawan Soejonostraat di Amsterdam pada 4 Mei 1990.
7. Javastraat, Balistraat, dan Lombokstraat
Tidak hanya tokoh nasional, sejumlah pulau di Indonesia juga digunakan sebagai nama jalan di Belanda. Di Amsterdam, terdapat Javastraat yang penamaannya berasal dari Pulau Jawa dan digunakan sejak 1900.
Selain itu, terdapat Balistraat di kawasan Timorpleinbuurt-Zuid dan Lombokstraat di Timorpleinbuurt-Noord. Ketiganya menjadi contoh penggunaan nama wilayah Indonesia dalam penamaan jalan di Belanda.
Berbagai nama jalan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan Belanda meninggalkan jejak yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. Melalui Dag van het Nederlands 2026, masyarakat juga dapat melihat keterkaitan kedua negara dari sisi bahasa, sejarah, dan kebudayaan.


