boreout kebosanan kerja yang mengintai gen z di kantor - News | Good News From Indonesia 2026

Boreout: Kebosanan Kerja yang Mengintai Gen Z di Kantor

Boreout: Kebosanan Kerja yang Mengintai Gen Z di Kantor
images info

Boreout, kebosanan kronis akibat kerja yang monoton. Foto: Unsplash | Resume Genius


Kawan GNFI pasti sering mendengar istilah burnout, kondisi kelelahan akibat beban kerja berlebihan. Namun, pernahkah Kawan mendengar istilah boreout?

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh konsultan perusahaan bernama Peter Werder dan Philippe Rothlin pada 2007, sebagai lawan dari burnout.

Menurut Jurnal “Adaptasi Instrumen Boreout Scale: Validitas dan Realibilitas dalam Konteks Indonesia”, boreout ditandai oleh menurunnya motivasi dan keterlibatan kerja secara drastis akibat kurangnya tantangan kerja.

Sederhananya, boreout adalah perasaan ‘mati rasa’ karena kerjaan yang itu-itu saja tanpa adanya ruang untuk berkembang, sehingga menyebabkan kebosanan kronis.

Boreout sendiri terdiri dari tiga dimensi psikologis yang saling berkaitan satu sama lain:

  • Crisis of meaning: Krisis makna di tempat kerja.
  • Job Boredom: Kebosanan kerja yang drastis.
  • Crisis of Growth: Krisis pertumbuhan diri.
baca juga

Kenapa Boreout Bisa Muncul?

Ada beberapa faktor yang mendorong adanya boreout, mulai dari jenis pekerjaan itu sendiri hingga bagaimana karyawan memaknainya.

  • Rasa Bosan Kronis

Rasa bosan di sini bukan sekadar ngantuk saat rapat panjang, melainkan perasaan hampa yang muncul hampir setiap hari.

  • Tantangan Terlalu Ringan

Pekerjaan yang terlalu ringan atau monoton, seperti tugas yang diberikan jauh di bawah keterampilan yang dimiliki, sehingga tidak lagi menstimulasi.

  • Tidak Adanya Minat

Selain kerjaan yang monoton, boreout juga muncul saat karyawan sudah kehilangan minat sama sekali. Hal ini biasanya dikarenakan karyawan sudah telalu ‘nyaman’ dengan rutinitas yang itu-itu saja, sehingga lupa bagaimana rasanya penasaran atau tertantang akan sesuatu.

Dampak Boreout

Salah satu dampak yang paling sering disebut adalah fenomena zombie workforce, kondisi ketika karyawan hadir secara fisik di tempat kerja, namun tidak lagi terlibat secara emosional maupun psikologis.

Dari sisi kesehatan mental, kebosanan kronis berkaitan dengan crisis of meaning. Ketika pekerjaan terasa tidak lagi berarti, motivasi ikut menurun, dan lama-kelamaan berdampak pada semangat hidup secara umum.

Boreout juga meningkatkan turnover intention, yaitu niat untuk keluar dari pekerjaan yang tumbuh perlahan seiring rasa stuck yang terus menumpuk. Karyawan bisa saja memutuskan resign untuk beristirahat dari pekerjaannya ataupun memilih untuk berkembang di tempat lain.

Dari sisi perusahaan, boreout jelas merugikan. Karyawan yang berada dalam fase zombie workface akan tetap menerima gaji, tetapi kontribusi yang diberikan minim, sehingga perusahaan pada dasarnya membayar untuk kehadiran, bukan hasil kerja.

Pola Perilaku yang Memperburuk Boreout

Selain faktor pekerjaan, ada juga pola pikir yang diam-diam memperparah boreout. Dari sudut pandang psikologi populer, beberapa keyakinan berikut sering menjebak orang yang sebenarnya sedang bosan berat:

  • "Harga diri saya tergantung pada seberapa produktif saya", yang membuat karyawan menyamakan nilai diri hanya dari pekerjaan.
  • "Saya tidak berhak mengeluh", yang menganggap orang lain punya masalah lebih berat sehingga memendam rasa bosannya sendiri.
  • "Kalau saya bilang saya bosan, saya bisa di-PHK", ketakutan berlebih yang menghambat komunikasi jujur dengan atasan.
baca juga

Cara mengatasi Boreout

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah atau mengatasi boreout, baik dari sisi karyawan maupun perusahaan.

  • Ruang untuk Berkembang dan Mandiri

Perusahaan dapat menyediakan pelatihan atau proyek baru yang sesuai dengan minat karyawan agar mereka mempunyai ruang untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan.

Perusahaan juga dapat memberikan karyawan otonomi lebih besar dalam bekerja. Karyawan yang terus-menerus diawasi oleh atasan cenderung merasa tidak dipercaya, dan hal ini justru mempercepat munculnya boreout.

  • Menjaga Keseimbangan Kerja

Memberikan ruang untuk beristirahat akan membantu karyawan kembali bekerja dengan energi yang lebih segar, alih-alih terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja.

  • Komunikasi yang Jujur

Diskusikan kondisi Kawan kepada atasan secara tenang dan profesional. Salah satu teknik komunikasi asertif yang bisa dicoba adalah DESC scripting, yaitu menjelaskan fakta (Describe), perasaan (Express), usulan proyek baru (Specify), kemudian sertakan manfaatnya bagi tim (Consequences).

Boreout memang tidak seterkenal burnout, tapi sama-sama berbahaya. Kalau Kawan GNFI merasa kerjaan sekarang sudah mulai terasa hampa, mungkin ini saatnya Kawan berbicara ke atasan, bukan hanya dipendam sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ZS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.