kemenyan tak lagi sekadar getah nilainya bisa berlipat setelah diolah - News | Good News From Indonesia 2026

Kemenyan Tak Lagi Sekadar Getah, Nilainya Bisa Berlipat Setelah Diolah

Kemenyan Tak Lagi Sekadar Getah, Nilainya Bisa Berlipat Setelah Diolah
images info

Dok. Wibowo Djatmiko (Wie146)/Wikimedia


 

Indonesia menghasilkan ribuan ton kemenyan dari hutan rakyat di Sumatra Utara. Namun, sebagian besar komoditas tersebut masih meninggalkan Indonesia dalam bentuk getah mentah.

Data Badan Pusat Statistik pada 2024 mencatat produksi kemenyan di Sumatra Utara mencapai sekitar 5.000 hingga 8.000 ton. Komoditas itu banyak dikirim ke India, Singapura, dan negara-negara Uni Eropa untuk diolah menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut membuat manfaat ekonomi terbesar belum sepenuhnya berada di wilayah penghasil. Padahal, getah kemenyan dapat diproses menjadi minyak, parfum, produk pengobatan, pangan, hingga senyawa tunggal.

Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Ganis Lukmandaru mengatakan pengolahan di dalam negeri dapat menjadi bagian dari pengembangan kemenyan.

 

Minyak kemenyan dapat bernilai 20 kali lipat

Getah kemenyan dapat diolah melalui proses distilasi. Produsen memanaskan getah padat untuk memisahkan komponen yang mudah menguap dari bagian yang tidak menguap.

Uap yang terbentuk kemudian didinginkan hingga menghasilkan minyak kemenyan.

“Getah padat ini dipanaskan. Jadi, kalau dipanaskan, ada yang menguap, ada yang tertinggal. Yang menguap ini didinginkan jadi minyak. Ini namanya minyak kemenyan,” jelas Ganis dikutip dari UGM.

Menurut Ganis, minyak kemenyan dapat memiliki nilai hingga 20 kali lipat dibandingkan getah mentah. Produk tersebut masih dapat dikembangkan menjadi parfum atau diproses untuk memperoleh senyawa tertentu.

“Menjadi minyak ini sudah dipisah antara yang mudah menguap dan yang tidak. Menjadi parfum itu sudah produk lagi. Apalagi dipisah sampai level senyawa tunggal, itu lebih mahal lagi. Visinya ke sana,” tuturnya.

Peluang tersebut berkaitan dengan karakter kemenyan Indonesia yang berasal dari genus Styrax. Jenis ini berbeda dari kemenyan genus Boswellia yang dikenal dari Turki dan kawasan Arab.

Kemenyan Indonesia memiliki aroma menyerupai madu dan permen. Karakter itu berkaitan dengan keberadaan asam sinamat.

 

Pengolahan dapat dimulai dari daerah penghasil

Pembangunan pabrik besar bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan nilai kemenyan. Masyarakat dapat memulai pengolahan melalui unit penyulingan berskala rumah tangga atau kelompok tani.

Model tersebut telah diterapkan pada pengolahan minyak kayu putih dan minyak kenanga. Petani mengumpulkan bahan, lalu mengolahnya menggunakan peralatan distilasi.

Menurut Ganis, teknologi dasar untuk mengubah getah kemenyan menjadi minyak relatif mudah. Pelatihan dan percontohan juga telah diberikan oleh sejumlah pihak, termasuk kolega dari BRIN.

“Kalau sekadar mendistilasi, yang paling mudah. Dari getah menjadi minyak, dipanaskan, itu sudah mudah. Ini sudah banyak penyuluhan dari kolega-kolega dari BRIN. Mereka sudah training, memberi percontohan, dan sebagainya,” katanya.

Pengolahan lokal dapat menahan sebagian nilai ekonomi di wilayah penghasil. Petani tidak hanya menerima pendapatan dari penjualan getah, tetapi juga dari produk yang telah melalui tahap pengolahan.

Pemasaran digital dapat membantu memperpendek hubungan antara petani dan pembeli. Generasi muda di keluarga petani dapat berperan dalam mengenalkan produk serta mengakses pasar yang lebih luas.

 

Pasokan dan mutu belum seragam

Industri pengolahan membutuhkan kemenyan dalam jumlah yang stabil. Bahan baku juga harus memiliki mutu yang relatif seragam agar proses produksi dapat berjalan konsisten.

Indonesia telah memiliki standar kualitas kemenyan. Jumlah kelas mutu yang sebelumnya mencapai enam pada era 1980-an kini disederhanakan menjadi tiga.

Namun, standar tersebut belum sepenuhnya digunakan dalam transaksi perdagangan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan penyadap memenuhi kebutuhan industri.

Regenerasi penyadap juga perlu diperhatikan. Banyak penyadap kemenyan berasal dari generasi tua, sedangkan generasi muda mulai melirik kopi atau komoditas lain.

Perubahan tersebut dapat mendorong penggantian tanaman kemenyan. Jika lahan menyusut, industri akan menghadapi persoalan pasokan bahan baku.

 

Hilirisasi perlu menjaga sumber daya

Kemenyan Indonesia terkonsentrasi di Sumatra Utara, terutama Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Luas arealnya sekitar 23.000 hektare dan tanaman tumbuh pada ketinggian sekitar 800 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut.

Luas tersebut jauh lebih kecil dibandingkan areal pinus di Jawa yang mencapai sekitar 290.000 hektare. Karena itu, pengembangan industri kemenyan perlu menyesuaikan kapasitas sumber daya yang tersedia.

Ganis mengatakan pengolahan getah pinus dapat menjadi rujukan. Komoditas tersebut berkembang dari produk dasar gondorukem dan terpentin menjadi berbagai produk turunan.

Namun, peningkatan permintaan tanpa pengaturan dapat mendorong pemanenan berlebihan. Nilai tambah dapat membantu petani memperoleh penghasilan lebih besar tanpa harus meningkatkan volume panen.

“Kalau nilai tambahnya tinggi, dengan jumlah produk yang sama, pendapatan yang diperoleh bisa lebih besar. Jadi, harapannya, petani tidak perlu memanen dalam jumlah banyak untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi,” papar Ganis.

Data produksi kemenyan Sumatra Utara mencapai sekitar 5.000 hingga 8.000 ton pada 2024, sementara luas arealnya berada di kisaran 23.000 hektare.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.