dingklik kursi kecil di warung kopi itu kini jadi nama pameran seni yang ditonton 1000 orang di kebumen - News | Good News From Indonesia 2026

Dingklik, Kursi Kecil di Warung Kopi Itu Kini Jadi Nama Pameran Seni yang Ditonton 1.000 Orang di Kebumen

Dingklik, Kursi Kecil di Warung Kopi Itu Kini Jadi Nama Pameran Seni yang Ditonton 1.000 Orang di Kebumen
images info

Suasana workshop dalam rangkaian DINGKLIK Art Exhibition & Pop Up Market di Roemah Martha Tilaar, Gombong, Kebumen.


Dalam tiga hari, sekitar seribu orang berbondong-bondong datang ke sebuah rumah tua di Gombong, Kebumen. Mereka datang untuk melihat karya seniman yang selama ini nyaris tidak punya tempat untuk dipajang.

Sebab, Kebumen memang bukan nama yang biasa disebut kalau bicara soal seni rupa Indonesia. Kota ini lebih dikenal sebagai jalur lintasan di pantai selatan Jawa, tempat bus dan truk melintas menuju Jogja atau Cilacap.

Makanya, ketika DINGKLIK Art Exhibition & Pop Up Market digelar, masyarakat antusias untuk hadir.

DINGKLIK Art Exhibition & Pop Up Market diinisiasi Komunitas Berkarya Diluar di bawah naungan Creact. Berkarya Diluar merupakan komunitas seni dan ruang kreatif di Kebumen yang mewadahi kegiatan menggambar, melukis, serta kolaborasi di ruang publik.

baca juga

Mereka sukses menggelar DINGKLIK Art Exhibition & Pop Up Market pada 4–6 September 2026 di Roemah Martha Tilaar, Gombong, Kebumen.

Ya, salah satu pengusaha ternama, Martha Tilaar memang berasal dari Kebumen. Roemah Martha Tilaar sebelumnya merupakan rumah masa kecilnya yang kemudian direstorasi pada 2012. Pada 2014, Roemah Martha Tilaar diresmikan menjadi ruang publik, galeri, dan museum yang menyimpan jejak perjalanan Martha Tilaar.

Sadar Kebumen punya fasilitas yang mendukung, DINGKLIK Art Exhibition & Pop Up Market pun digelar di sana sebagai bentuk pemanfaatkan bangunan bersejarah.

Lebih dari 1.000 orang datang selama tiga hari penyelenggaraan. Selama tiga hari itu, berbagai agenda dihadirkan. Ada lebih dari 70 karya visual dari 70 seniman lokal, talkshow, lima creative workshop, pertunjukan seni, hingga pop-up market yang melibatkan enam tenant kreatif.

baca juga

Acara ini, sebenarnya juga menjadi sebuah tantangan sekaligus eksplorasi yang berani untuk menjawab bagaimana anak muda di daerah bisa punya ruang untuk berkarya ketika kotanya bukan pusat industri kreatif?

Dingklik Menjadi Simbol Kesetaraan

Kenapa dingklik? Bagi masyarakat Jawa, dingklik bukan benda yang asing. Dingklik adalah bangku pendek atau kursi kecil tanpa sandaran punggung dan tangan yang biasanya memiliki tiga atau empat kaki. Kursi kayu kecil ini mudah ditemui di warung, angkringan, atau ruang-ruang komunal.

Benda tersebut kemudian dijadikan gagasan utama dalam penyelenggaraan Art Exhibition & Pop Up Market yang tentunya bukan tanpa alasan.

Dingklik dinilai tidak mengenal kursi khusus untuk orang penting atau kursi untuk orang biasa. Siapa pun bisa duduk di atasnya.

baca juga

Konsep itu kemudian diterjemahkan menjadi ruang seni yang terbuka. Pengunjung tidak harus memiliki latar belakang seni untuk datang. Karya-karya yang dipamerkan juga bisa dinikmati secara gratis.

Project Leader DINGKLIK, Putra Akbar Wahyu Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari gagasan bahwa seni tidak harus tumbuh dari tempat yang mewah.

“Seni yang tumbuh di Kebumen bukan lagi seni yang berdiri sendiri, melainkan ruang yang membuka banyak kesempatan untuk saling berkolaborasi, mengenal, dan berinteraksi lintas bidang maupun berbagai latar belakang,” katanya.

Putra juga menekankan filosofi dingklik sebagai bagian dari semangat acara.

baca juga

“Berkarya tidak harus dari tempat yang mewah atau empuk, tapi bisa dari sesederhana dari sebuah dingklik (kursi kecil),” imbuhnya

Bukan Sekadar Pameran Seni

Apa uniknya DINGKLIK? Berbeda dengan konsep pameran pada umumnya, DINGKLIK memungkinkan pengunjung untuk ikut membuat karya.

Selama tiga hari, penyelenggara mengadakan lima creative workshop. Materinya beragam, mulai dari hand lettering, macrame keychain, walking sketch, melukis genteng, hingga digital illustration.

Ada pula Zona Interaktif. Di dalamnya terdapat Mural Collaboration dan Glow in the Dark Room.

baca juga

Gebrakan ini membuat pengunjung tidak hanya menjadi penikmat seni. Mereka ikut menjadi bagian dari subjek di ruang pameran.

Acara juga menghadirkan Art Performance dari Stand Up Indo Kebumen dan Sanggar Tari Dhea.

Dengan format seperti itu, DINGKLIK mencoba mempertemukan beberapa bentuk ekspresi dalam satu tempat. Seni visual, ilustrasi, kerajinan, tari, pertunjukan, hingga komedi berada dalam ruang yang sama.

Mengapa Ruang seperti Ini Penting bagi Kebumen?

Kawan. Kebumen memang memiliki banyak ruang berkumpul. Ada angkringan, warung kopi, kafe, dan berbagai ruang publik menjadi tempat masyarakat bertemu dan bertukar cerita.

baca juga

Sayangnya, ruang untuk mengembangkan keterampilan kreatif tidak selalu mudah ditemukan.

Keterbatasan fasilitas dan ruang berekspresi dapat membuat anak muda di daerah kesulitan menemukan tempat untuk mengenali sekaligus mengembangkan bakatnya.

Persoalannya bukan semata-mata soal ada atau tidaknya seniman. Yang sering menjadi persoalan adalah ruang untuk mempertemukan orang-orang tersebut.

Untuk itu, DINGKLIK dalam hal ini mencoba mewadahi kemampuan para pemuda di Kebumen yang punya ketertarikan terhadap seni.

baca juga

Acara tersebut melibatkan 70 seniman visual, enam tenant kreatif, serta lima kolaborasi komunitas. Selain itu, penyelenggara mencatat ada 134 penerima manfaat dari rangkaian workshop kreatif dan kelas daring.

Dari Kebumen, Tidak Harus Pindah Kota untuk Berkarya

Ada satu gagasan yang cukup kuat dari DINGKLIK. Anak muda tidak selalu harus pergi dari daerahnya untuk menemukan ruang kreatif. Hal tersebut menjadi salah satu topik dalam talkshow “Rasan-rasan Dingklik”.

Sesi ini membicarakan strategi tumbuh dan berkarya di tanah sendiri. Para pengunjung juga diajak melihat proses kreatif para seniman.

Bagi kota yang tidak dikenal sebagai salah satu pusat seni di Indonesia, gagasan tersebut menjadi penting. Sebab, ekosistem kreatif tidak terbentuk hanya karena ada seniman, tapi juga ruang pamer hingga komunitas, contohnya Berkarya Diluar.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.