Setiap negara di kawasan Asia memiliki lagu kebangsaan yang menjadi simbol identitas, sejarah, dan kebanggaan nasionalnya. Di balik melodi yang indah, beberapa lagu kebangsaan di Asia memiliki usia yang sudah sangat tua dan masih aktif dinyanyikan hingga saat ini.
Beberapa lagu bahkan sudah ada sejak tahun 1800-an. Hal ini menjadikan lagu kebangsaan setiap negara unik dan sakral karena memiliki sejarah yang sangat panjang.
Salah satu lagu kebangsaan tertua di Asia yang masih dinyanyikan sampai saat ini adalah Kimigayo. Lagu kebangsaan Jepang ini konon melodinya sudah ada sejak tahun 1880. Namun, dikatakan bahwa liriknya yang berasal dari puisi klasik Jepang malah berusia lebih tua dari melodinya karena sudah ada sejak abad ke-10.
Selain itu, beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, juga masuk ke dalam daftar negara di Asia yang memiliki lagu kebangsaan tertua. Kira-kira, negara Asia mana yang memiliki lagu kebangsaan dengan usia yang sudah ‘uzur’?
Daftar Lagu Kebangsaan Tertua di Asia
Mengutip data yang dirilis SeasiaStats, berikut adalah daftar 10 lagu kebangsaan tertua di Asia:
- Jepang – Kimigayo (1880)
- Filipina – Lupang Hinirang (1898)
- Armenia – Mer Hayrenik (1918)
- Turki – İstiklal Marşı (1921)
- Lebanon – Kulluna lil-Watan (1927)
- Indonesia – Indonesia Raya (1928)
- Taiwan (Republik Tiongkok) – Lagu Kebangsaan ROC (1930)
- Kamboja – Nokor Reach (1941)
- Laos – Pheng Xat Lao (1947)
- Korea Utara – Aegukka (1947)
Kawan GNFI, di antara sepuluh lagu kebangsaan di atas, Kimigayo adalah yang tertua di Asia. Uniknya lagi, lagu ini juga memiliki keterikatan dengan Indonesia di masa lalu.
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), anak-anak sekolah dan masyarakat Indonesia diwajibkan menyanyikan lagu Kimigayo. Tak hanya itu, masyarakat juga wajib memberikan hormat dengan membungkuk ke arah matahari terbit atau disebut seikerei.
Sebenarnya, di awal kedatangannya, Jepang sempat mengizinkan Indonesia Raya berkumandang. Akan tetapi, Jepang kemudian melarangnya dan mewajibkan masyarakat untuk mengumandangkan Kimigayo saja.
Fakta Unik Lagu Indonesia Raya
Lagu Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini sudah sangat akrab dengan masyarakat sejak kecil karena selalu diperdengarkan dan dinyanyikan oleh anak sekolah tiap upacara bendera di hari Senin dan upacara peringatan hari besar lainnya.
Lagu ini ditulis oleh Wage Rudolf Supratman. Dikutip dari sebuah jurnal Historia Madania tulisan Putra, dkk., inspirasi penulisan lagu ini bermula saat W.R. Supratman membaca artikel di majalah Timboel yang mempertanyakan keberadaan komponis pribumi yang bisa menciptakan lagu kebangsaan untuk menyatukan seluruh Bangsa Indonesia.
Hatinya tergerak. Supratman kemudian mengurung diri di kamarnya di Gang Tengah Salemba untuk merangkai notasi dan lirik. Lagu perjuangan ini kemudian pertama kali diperdengarkan secara instrumental dengan biolanya pada penutupan Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928.
Setelah kongres selesai, lirik Indonesia Raya dipublikasikan secara luas untuk pertama kalinya melalui koran Tionghoa Sin Po edisi 10 November 1928. Supratman yang juga bekerja sebagai wartawan di koran tersebut turut mengabadikan lagunya ke dalam piringan hitam bersama sahabatnya, Yo Kim Tjan.
Kepopuleran lagu ini sempat membuat pemerintah kolonial Belanda merasa terancam hingga melarangnya dinyanyikan di muka umum pada tahun 1930. Namun akibat gelombang protes dari berbagai pihak, Belanda melunakkan aturan dan hanya mengizinkan lagu ini dinyanyikan di ruangan tertutup.
Hal menarik lain dari lagu ini adalah adanya perubahan irama lagu dari versi awal ciptaan Supratman. Pada tahun 1944, Panitia Lagu Kebangsaan yang diketuai Ir. Sukarno mengubah irama awal waltz 6/8 menjadi irama mars 4/4 agar terasa lebih tegas dan bersemangat.
Selain itu, Indonesia Raya yang sering dinyanyikan saat ini adalah lagu di stanza pertama saja. Indonesia Raya sejatinya memiliki tiga stanza. Alasan mengapa hanya stanza pertama yang diyanyikan adalah untuk mempermudah penggunaannya di acara-acara seremonial.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


