unnes bekali keterampilan technopreneurship secara inklusif bagi siswa paket c pkbm orkapi - News | Good News From Indonesia 2026

UNNES Bekali Keterampilan Technopreneurship Secara Inklusif Bagi Siswa Paket C PKBM ORKAPI

UNNES Bekali Keterampilan Technopreneurship Secara Inklusif Bagi Siswa Paket C PKBM ORKAPI
images info

Pelatihan technopreneurship Bagi Siswa Paket C PKBM ORKAPI


Pendidikan kesetaraan kini tidak lagi sekadar mengejar ijazah, melainkan mulai bertransformasi menjadi inkubator kewirausahaan digital yang inklusif. Hal ini dibuktikan oleh tim pengabdi dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang sukses menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada hari Minggu, 12 Juli 2026, di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ORKAPI, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, yang dipimpin oleh Alfansyah Bagus Triambada.

Kegiatan bertajuk “Peningkatan Keterampilan Technopreneurship dengan Model Universal Design for Learning (UDL) Berbantu Multimedia Interaktif” merupakan kerja sama antara UNNES dan UNINUS dengan DPPM Kemendiktisaintek yang bertujuan memberikan teknologi inovatif yang berdampak pada aksesibilitas pendidikan yang setara bagi seluruh warga belajar Paket C dengan latar belakang yang beragam.

Inovasi pembelajaran untuk semua, Ketua tim pengabdi Tri Suminar, menjelaskan bahwa pendekatan Universal Design for Learning(UDL) menjadi kunci utama dalam kegiatan ini. UDL memungkinkan konten pembelajaran disajikan dalam berbagai format seperti teks, audio, dan visual. Media dikemas secara multiinteraktif sehingga dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik dengan karakteristik gaya belajar yang berbeda-beda.

“Model UDL berbantuan multimedia interaktif ini kami terapkan agar setiap warga belajar, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan waktu belajar atau hambatan kognitif tertentu, tetap dapat menyerap materi kewirausahaan secara optimal,” ungkap Tri Suminar dalam keterangannya.

baca juga

Puncak kegiatan pada 12 Juli tersebut diisi dengan praktik rebranding secara intensif serta pembuatan konten produk untuk dipromosikan di tiktok, Instagram, dan Facebook. Warga belajar diajak untuk merombak kemasan produk lokal unggulan, seperti tiwul milenial, camilan singkong, dan dimsum, agar lebih menarik dan layak masuk ke pasar digital.

Berdasarkan dokumentasi praktik, para peserta tampak antusias mengikuti instruksi pembuatan produk, seperti pembuatan tiwul instan rasa gula merah. Tidak hanya berfokus pada produksi, tim pengabdi juga memberikan pelatihan teknis tentang pembuatan konten kreatif menggunakan smartphone. Konten berupa foto dan video pendek tersebut dirancang khusus untuk dipromosikan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta platform marketplace. Materi praktik ini disajikan secara interaktif dan kolaboratif oleh anggota tim, Arini Dwi Cahyani, Badriah dan Farhan Saiful Ibrahim.

Keberhasilan kegiatan luring di PKBM Orkapi ini merupakan hasil dari persiapan yang matang. Sebelumnya, tim pengabdi telah melakukan koordinasi intensif dengan mitra melalui pertemuan virtual via Zoom pada 11 Mei dan 3 Juni 2026. Koordinasi ini memastikan bahwa modul pembelajaran, alat teknologi tepat guna yang disiapkan, seperti perangkat lunak multimedia interaktif dan platform marketplace, sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Program ini ditindaklanjuti dengan pendampingan yang melibatkan kolaborasi multidisiplin yang kuat, menghadirkan para ahli di bidang pendidikan nonformal seperti: Arini Dwi Cahyani, serta ahli teknik elektro dan IT, Muhammad Zimamul Adli, untuk merancang infrastruktur digital marketing bagi para siswa.

baca juga

Membangun kemandirian ekonomi melalui keterampilan technopreneurship ini, lulusan Paket C PKBM OKAPI diharapkan tidak hanya memiliki ijazah formal, tetapi juga memiliki daya saing untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) terkait pendidikan berkualitas dan pekerjaan yang layak.

“Dengan pengemasan yang profesional dan strategi digital marketing yang tepat, kami optimis omzet penjualan produk warga belajar dapat meningkat secara signifikan,” pungkas Tri Suminar.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan sarana maupun keragaman karakteristik peserta didik bukan penghalang untuk menguasai teknologi digital, asalkan didukung oleh model pembelajaran yang inklusif dan adaptif.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.