tobat ekologis antara pemikiran dan praktik - News | Good News From Indonesia 2026

Tobat Ekologis, antara Pemikiran dan Praktik

Tobat Ekologis, antara Pemikiran dan Praktik
images info

(Industrial Area Yangzhou: Wikimedia Commons)


Ketika karhutla melanda tanah air dan erupsi gunung Anak Krakatau mengirimkan debu vulkaniknya ke Jakarta, seorang imam di sebuah gereja Katolik kecil di tengah-tengah kota besar itu berkhotbah mengenai pertobatan ekologis.

Dalam suasana yang mencekam di mana beberapa umat memakai masker untuk melindungi organ pernapasannya, seruan tersebut terdengar semakin keras serta gaungnya lebih dalam masuk ke telinga dan mengetarkan hati.

Sebenarnya, pesan itu bukan merupakan hal yang baru, melainkan sudah disampaikan oleh Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo sejak akhir tahun 2025 dalam momen perayaan natal. Dikutip oleh Detik.com (25/12/2025), Bapak Kardinal mengungkapkan bahwa Keuskupan Agung Jakarta akan memberikan perhatian kepada lingkungan hidup serta tanggung jawab manusia terhadapnya. Untuk itu, ia melanjutkan kalau keuskupan yang ia pimpin akan mengaungkan pertobatan ekologis.

Kawan GNFI, wacananya kemudian diturunkan ke dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta Tahun 2026, di mana temanya adalah ‘Keutuhan Alam Ciptaan’. Berikutnya, tema itu memengaruhi pesan-pesan yang disampaikan oleh para imam ketika berkhotbah di atas altar, merefleksikan ajaran-ajaran Kristiani dalam Injil dan membicarakan karya-karya gereja Katolik serta para paus mengenai lingkungan alam sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

baca juga

Tobat Ekologis

Mendiang Paus Fransiskus, pendahulu Paus Leo ke-XIV sekarang, pernah menulis sebuah ensiklik atau surat tentang bagaimana merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Di dalam Laudato Si’ (2015), ia menuangkan pikiran, keresahan tentang kerusakan lingkungan alam sebagai akibat dari perbuatan manusia, serta visinya bagaimana umat Katolik dan peradaban manusia seharusnya menghadapi permasalahan tersebut.

Mengutip ensiklik Paus Paulus ke-VI Octogesima Adveniens pada tahun 1971, Paus Fransiskus menekankan kalau kerusakan lingkungan alam yang terjadi di depan mata kita sekarang ini merupakan akibat dari eksploitasi manusia secara sembarangan. Ia melanjutkan bahwa manusia pada gilirannya akan menjadi korban dari kerusakan yang telah diperbuatnya.

Seperti yang sudah didengar oleh umat Katolik setidak-tidaknya setengah tahun ke belakang ini, ensiklik Laudato Si’ itu banyak berbicara tentang jenis-jenis dan sebab-sebab kerusakan lingkungan. Di antaranya, pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh industrialisasi dengan penggunaan teknologi secara tidak bertanggung jawab turut menyumbang kepada permasalahan tersebut.

Tugas Membangkitkan Kesadaran

Kesadaran umat yang dibimbing oleh kebijaksanaan para pemimpin keagamaan saja memang tidak bisa dikatakan telah sepenuhnya menyelesaikan permasalahan kerusakan lingkungan. Namun, apa yang jelas adalah orang-orang di mana-mana telah semakin memahami dan merasakan dampak dari kerusakan lingkungan di sekitar mereka terhadap kehidupannya.

Sekurang-kurangnya itu, kalau mereka belum sampai terpikir untuk membantu mencari solusi serta terlibat dalam upaya-upaya menyelesaikan persoalannya.

Dalam lingkup kecil, di beberapa gereja sudah ada tempat pembuangan sampah terpisah untuk para umat memilah sampahnya. Bahkan, ada juga yang sudah menyediakan tempat pembuangan baterai secara terpisah. Tidak berhenti di sana, drum komposter disediakan di halaman luar untuk membuang sampah-sampah organik seperti dedaunan yang bisa diubah menjadi pupuk.

Langkah-langkah tersebut merupakan kemajuan dalam upaya pertobatan ekologis. Bukan hanya di Gereja Katolik saja, melainkan di lingkungan-lingkungan agama lain terdengar juga suara yang lebih besar lagi untuk memutarbalikkan kerusakan lingkungan. Namun, upaya-upaya tersebut baru memiliki dampak di tataran orang perorangan dalam lingkungan yang terbatas.

baca juga

Waktunya Mengubah Kebijakan

Setelah memberikan analisis penuh terhadap kerusakan lingkungan dan penyebab-penyebabnya, Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ memberikan pedoman untuk mengatasinya melalui aksi-aksi yang bisa membawa peradaban manusia keluar dari kondisi saat ini.

Di tataran internasional, mendiang Paus Fransiskus mendorong agar bangsa-bangsa bekerjasama mengatasi kerusakan lingkungan sebagai permasalahan bersama dunia melalui diplomasi lingkungan.

Dalam rangka mewujudkan perubahan-perubahan yang disuarakan oleh Laudato Si’, Dikasteri untuk Pengembangan Manusia Seutuhnya Gereja Katolik pada 2021 meluncurkan Laudato Si Action Platform yang menetapkan 7 program berupa Menanggapi Jeritan Bumi, Menanggapi Jeritan Kaum Miskin, Ekonomi Ekologis, Gaya Hidup Sederhana, Pendidikan Ekologis, Spiritualitas Ekologis, dan Keterlibatan Komunitas serta Aksi Partisipatif.

Siapa saja baik atas nama pribadi maupun komunitas dapat mendaftar dan terlibat dalam melaksanakan program-program tersebut.

Ditarik ke tingkat nasional dan lokal, Paus juga meminta agar para politisi dan sistem politik menunjukkan kebesaran hati untuk bekerja dengan memikirkan kesejahteraan umum jangka panjang yang dapat terancam oleh kerusakan lingkungan.

Bahkan saat ini, tongkang batu bara tidak bisa berlayar ketika sungai-sungai utama di Kalimantan seperti Sungai Kapuas surut akibat terjadinya kekeringan.

Perihal ini, Paus Fransiskus menyadari adanya tantangan yang dimunculkan oleh kompleksitas politik. Salah satunya, keengganan pemerintah untuk mengambil langkah yang tepat jika itu mengancam kepentingan-kepentingan jangka pendeknya.

Sehingga, ia menyerukan agar pembuatan kebijakan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat lainnya yang juga berkepentingan terhadap keasrian lingkungan alam di sekitarnya. Dalam proses itu, suatu keputusan yang memiliki berdampak besar terhadap kondisi lingkungan harus ditimbang antara risiko dan manfaatnya terlebih dahulu.

Sebenarnya, ini merupakan suatu proses yang sudah dikenal lama dalam pembuatan kebijakan di Indonesia dengan adanya AMDAL. Baru setelah AMDAL dibuat, pembangunan ekonomi dapat dilaksanakan dengan proyeksi keuntungan yang lebih realistis. Dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan dampak sekecil mungkin terhadap kondisi lingkungan alam di sekitarnya.

baca juga

Berdialog demi Lingkungan

Sampai di sini, tujuan-tujuannya sudah terlihat. Pergerakannya juga sudah ada dalam wujud Laudato Si Action Platform. Namun, upayanya mewujudkan perbaikan-perbaikan yang diperlukan itu masih terganjal. Terutama, saat ingin dilakukan di tingkat nasional yang lebih luas dan kompleks lagi.

Kita bisa mengambil salah satu contoh kasus yang juga dibicarakan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, yaitu seringnya potensi kerusakan lingkungan tidak dipertimbangkan dalam proses pembuatan kebijakan karena politisi dan pemerintahan secara umum enggan membahayakan kepentingan jangka pendeknya untuk memenangkan pemilu.

Di tengah-tengah kesulitan ekonomi, pemilu sulit dimenangkan kalau para politisi malah berkampanye agar masyarakat mengurangi konsumsinya dan menjadi tidak bahagia demi menghembat sumber daya alam serta melestarikan lingkungan

Menghadapi tantangan tersebut, umat beragama harus menerjemahkan keyakinan spiritualnya mengenai apa yang baik dan buruk ke dalam tindakan nyata untuk bersuara, serta bergerak meyakinkan pemerintah.

Melalui ‘dialog’ seperti diungkapkan Paus Fransiskus, masyarakat dapat berdiskusi, berinteraksi dengan politisi-politisi, serta mengikuti pemilu dalam rangka menunjukkan bahwa kepentingannya baik secara jangka pendek maupun panjang adalah terciptanya lingkungan yang asri dan lestari.

Di sini, komunikasi publik dan taktik penggalangan dukungan dari masyarakat dan politisi-politisi yang simpatik menjadi penting. Program-program dasar untuk berkompromi dengan kepentingan-kepentingan lainnya (misal: ekonomi) dalam rangka memperjuangkan tujuan-tujuan jangka panjang perlu dipikirkan. Dan upaya tersebut dihimpun jadi satu pergerakan besar untuk mengubah doa akan ‘Keutuhan Alam Ciptaan’ menjadi kenyataan yang diraih dalam kehidupan nyata.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.