tim patriot ui dan masyarakat werianggi selami seni kriya tradisional untuk persiapkan rumah budaya dan sekolah budaya kuweta - News | Good News From Indonesia 2026

Tim Patriot UI dan Masyarakat Werianggi Selami Seni Kriya Tradisional untuk Persiapkan Rumah Budaya dan Sekolah Budaya KUWETA

Tim Patriot UI dan Masyarakat Werianggi Selami Seni Kriya Tradisional untuk Persiapkan Rumah Budaya dan Sekolah Budaya KUWETA
images info

Pengrajin hiasan tradisional, Pak Jeremias Tatiorim, sedang membuat kalung rantai.


Semangat pelestarian adat dan transfer pengetahuan antargenerasi begitu terasa di Kampung Werianggi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Pada Jumat, 11 September 2026, Tim Ekspedisi Patriot UI bersama masyarakat Marga KUWETA (Kurube, Werianggi, Tatiorim) melakukan serangkaian kegiatan dokumentasi dan praktik langsung pembuatan berbagai kerajinan tradisional.

Langkah ini merupakan bagian dari persiapan masyarakat adat Marga KUWETA menuju peluncuran Rumah Budaya dan Sekolah Budaya Papua yang dijadwalkan berlangsung di Kampung Werianggi pada akhir tahun ini.

​Ekspedisi Patriot merupakan program nasional di bawah Kementerian Transmigrasi yang bekerja sama dengan sepuluh perguruan tinggi di Indonesia. Program ini dirancang untuk tidak berhenti pada evaluasi kawasan, melainkan turun tangan langsung memberikan dampak nyata.

Di Kampung Werianggi, Teluk Wondama, misi besar ini diterjemahkan salah satunya melalui kerja sama dengan para aktor lokal untuk mengembangkan community-based cultural tourism.

​Di bawah kepemimpinan Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, S.S., S.Pd., M.A., CertDA, dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI (DPIS UI), Tim Ekspedisi Patriot UI yang beranggotakan Devita Putri Hanjari, S.Hum., Maharani Arfila, S.Hum., Sausan Fajar Alamislami, S.Sos., Pendiron Indra Enumbi, S.Pol., dan Arya Agung Siregar, S.Ag., hadir dengan fokus utama pada Pengembangan Rumah Budaya Papua sebagai Pusat Aktualisasi Kebudayaan dan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan.

baca juga

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIT. Anggota Tim Patriot bertamu ke kediaman Salmon Tatiorim, Kepala Marga Tatiorim, untuk mempelajari proses pembuatan busur dan anak panah tradisional atau jubi. Salmon memperlihatkan tahapan pembuatan busur panah menggunakan kayu pinang hutan atau kayu gagar.

 Pak Salmon Tatiorim mengajarkan anggota Tim Ekspedisi Patriot cara menggunakan panah tradisional | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Pak Salmon Tatiorim mengajarkan anggota Tim Ekspedisi Patriot cara menggunakan panah tradisional | Dokumentasi Pribadi


​Tak berhenti pada pengamatan, Tim Patriot juga berkesempatan untuk praktik langsung membuat jubi yang terbuat dari batang kayu gelega.

Dalam proses ini, tim mempelajari teknik tradisional, seperti meluruskan dan membentuk batang anak panah menggunakan panas api, dilanjutkan dengan perakitan komponen jubi hingga siap digunakan.

Pak Salmon juga mengundang beberapa pengrajin benda tradisional lain untuk bertemu di kediamannya. Di sini, Tim Patriot bertemu dengan Melkianus Wettebossy, tokoh adat di Kampung Werianggi, yang memperlihatkan kerajinan noken gendongan yang digunakan untuk mengangkut hasil buruan.

Noken tersebut direncanakan akan menjadi salah satu koleksi alat tradisional yang dipamerkan di Rumah Budaya.

 Pak Jeremias Tatiorim sedang memperagakan proses pembuatan kalung rantai | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Pak Jeremias Tatiorim sedang memperagakan proses pembuatan kalung rantai | Dokumentasi Pribadi


Tim Patriot juga bertemu dengan Jeremias Tatiorim, seorang pengrajin tradisional lokal. Beliau memamerkan berbagai karya buatannya, mulai dari sisir rantai berbahan bambu, kalung rantai, hingga tusuk konde tradisional. Sambil memperagakan teknik ukir dan rakitannya, diskusi mengalir membahas penyusunan materi ajaran untuk Sekolah Budaya Papua agar keterampilan kriya ini dapat dipelajari oleh orang lain secara terstruktur.

Menjelang sore, kegiatan berpindah ke alam terbuka. Tim, Salmon, beserta dua pemuda kampung bergerak menembus lebatnya hutan dan menyusuri alur Kali Sembah untuk mencari pohon tari wondei. Kulit dari pohon ini merupakan bahan utama pembuatan cawat, pakaian tradisional yang digunakan oleh masyarakat pesisir Papua.

Setelah menyusuri sungai hingga mendekati area Air Terjun Isosembani, pohon yang dicari akhirnya ditemukan. Satu batang pohon diambil dan digendong bersama kembali ke pemukiman.

baca juga

 Pemuda Kampung Werianggi bergotong royong sembari belajar mengolah pohon Tari Wondei untuk mengambil kulit kayunya | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Pemuda Kampung Werianggi bergotong royong sembari belajar mengolah pohon Tari Wondei untuk mengambil kulit kayunya | Dokumentasi Pribadi


​Malam harinya, proses pengolahan kulit pohon menjadi sebuah momen krusial penurunan pengetahuan tradisional kepada generasi muda. Salmon Tatiorim mengajak sejumlah pemuda kampung berkumpul di rumahnya untuk mengolah gelondongan kayu tari wondei.

Beliau menjadikan momentum ini sebagai sarana transfer pengetahuan kepada para penerus adat. Proses diawali dengan menguliti bagian luar pohon menggunakan parang. Selanjutnya dilakukan proses toki, yaitu mengetuk atau memukul batang pohon secara perlahan hingga kulit bagian luar terlepas dari daging kayu.

Kulit pohon tersebut selanjutnya di-toki kembali hingga tipis dan kemudian direndam semalaman sebelum dijemur hingga kering dan siap dibentuk menjadi busana adat.

​Hari itu menjadi ruang belajar yang inklusif, tidak hanya bagi Tim Patriot UI tetapi juga bagi generasi muda Kampung Werianggi. Kejadian ini mencerminkan cita-cita besar dibentuknya Rumah Budaya dan Sekolah Budaya Papua, yaitu memastikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kebudayaan lokal terus diwariskan kepada generasi muda agar identitas masyarakat Marga KUWETA tidak tergerus oleh arus modernisasi.

baca juga

"Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memfasilitasi transfer identitas dan keterampilan antargenerasi di Werianggi. Kehadiran Sekolah Budaya dan Rumah Budaya Papua diharapkan mampu menjadi institusi yang menjaga keberlanjutan tradisi serta jati diri Marga KUWETA di tengah modernisasi," ujar Pendiron Indra Enumbi, anggota Tim Patriot UI.

Persiapan Rumah Budaya dan Sekolah Budaya pun tidak berdiri sendiri sebagai proyek pembangunan sebuah ruang. Antusiasme dan gotong royong masyarakat Marga KUWETA menyiapkan program-program ini menunjukkan bahwa proses menyiapkan ruang tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi pengetahuan lokal untuk kembali dipraktikkan dan dipelajari.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.