tarot makin populer jadi ruang refleksi atau ketergantungan ini kata psikolog - News | Good News From Indonesia 2026

Tarot Makin Populer, Jadi Ruang Refleksi atau Ketergantungan? Ini Kata Psikolog

Tarot Makin Populer, Jadi Ruang Refleksi atau Ketergantungan? Ini Kata Psikolog
images info

Ilustrasi kartu tarot | Foto: Wikimedia Commons | Nosferattus


Belakangan ini, praktik pembacaan kartu tarot marak di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Dalam konteks masyarakat modern yang serba cepat dan penuh tekanan, konten tarot hadir sebagai ruang alternatif bagi anak muda untuk mencari ketenangan, validasi emosional, dan jawaban atas ketidakpastian hidup.

Fenomena ini menarik perhatian karena dahulu, tarot identik dengan nuansa mistis dan tertutup. Tetapi sekarang bertransformasi menjadi sebuah ritual digital, bentuk hiburan populer, sekaligus media ekspresi diri melalui interaksi di dunia maya.

Meningkatnya popularitas tren ini di kalangan generasi muda, ternyata berkaitan erat dengan kondisi psikologis mereka. Menurut Psikolog Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Dian Kartika Amelia Arbi, membaca tarot menjadi pilihan ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan merasa tidak berdaya.

“Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” ujar Dian.

Ia juga menambahkan bahwa pembacaan tarot dapat memunculkan semacam gambaran bahwa seseorang bisa memprediksi apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, sehingga muncul rasa tenang dan kecemasan pun berkurang. Proses ini bisa dilihat sebagai salah satu bentuk coping mechanism, yaitu bagaimana cara individu mengelola tekanan emosional tanpa merasa dihakimi oleh siapa pun.

Selain itu, menurut riset yang dilakukan oleh Putri Kayla Salsabilla dan tim dalam jurnal Seminar Nasional Pariwisata dan Kewirausahaan (SNPK), simbol-simbol pada kartu tarot sebenarnya bekerja layaknya cermin, bukan sebagai alat ramal yang memberikan jawaban pasti. Karena kartu tarot tidak memunculkan jawaban yang objektif, melainkan memicu refleksi internal yang kemudian dirasakan sebagai pesan atau insight oleh pembacanya.

Jadi, bisa saja dua orang yang membaca kartu yang sama bisa mendapatkan interpretasi yang jauh berbeda, sebab yang menentukan sebenarnya adalah kondisi psikologis masing-masing pembaca, bukan dari kartunya.

baca juga

Kapan Tarot Mulai Berisiko?

Meski dari perspektif psikolog tarot bisa membuat seseorang merasa lebih tenang, tetapi penggunaan tarot yang berlebihan tetap membawa risiko. Dian menjelaskan, dampaknya bergantung pada bagaimana seseorang memaknai hasil pembacaan tersebut.

Sebab hal tersebut tidak akan menjadi masalah selama dijadikan pendorong untuk evaluasi diri. Namun, ketergantungan pada pemikiran yang ditawarkan tarot dapat menghambat kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” tambahnya.

Ia juga menyoroti fenomena self-fulfilling prophecy, yaitu sebuah kondisi ketika seseorang meyakini suatu ramalan akan terjadi, sehingga secara tidak sadar mengarahkan tindakannya menuju hal tersebut. Dengan kata lain, yang membentuk perilaku seseorang sebenarnya adalah keyakinannya sendiri terhadap ramalan itu, bukan ramalan yang benar-benar terjadi.

Jika tidak disikapi dengan kritis, ketergantungan pada ramalan ini lambat laun bisa melemahkan pemikiran kritis, meningkatkan kecemasan batin saat ramalannya buruk, hingga membuat seseorang kehilangan kendali atas keputusan hidupnya sendiri. Bahkan risiko ini jauh lebih rentan dialami oleh anak muda yang emosinya masih belum stabil atau sedang berada dalam fase pencarian jati diri.

Tarot bisa saja berujung positif karena menjamurnya di media sosial membuktikan bahwa kebutuhan manusia akan makna dan ketenangan batin akan selalu ada. Namun meskipun begitu, tetap tempatkan tarot secara proporsional sebagai media hiburan ringan atau sarana refleksi semata. Karena kendali penuh dalam menentukan arah masa depan tetap berada di tangan Kawan GNFI sendiri.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
KG
RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.