mengenal sisi lain gen z ketika tarot menjadi ruang untuk didengar - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Sisi Lain Gen Z: Ketika Tarot Menjadi Ruang untuk Didengar

Mengenal Sisi Lain Gen Z: Ketika Tarot Menjadi Ruang untuk Didengar
images info

Ilustrasi desain kartu tarot. | Foto: (Magnific | coolvector)


Malam itu, seorang remaja perempuan sedang scroll TikTok sampai tersangkut di sebuah akun jasa konsultasi tarot. Videonya pendek, suaranya tenang: "Kalau kamu sedang merasa berat sendirian, coba cerita."

Ia mengklik. Bukan karena percaya ramalan — tapi karena hari itu ia sudah coba cerita ke ibu, dijawab "lebay." Sudah coba ke teman, dibalas "sama, aku juga sibuk."

Ketika si pembaca tarot bilang "kamu sedang menyimpan sesuatu yang berat sendirian," ia menangis. Bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya hari itu, ada sesuatu yang terasa melihatnya.

Kawan GNFI, ia hanyalah satu dari jutaan Gen Z yang kini semakin akrab dengan tarot. Banyak yang langsung menghakimi: "generasi lemah," "percaya klenik," "lemah iman." Tapi mungkin, kita semua melewatkan sesuatu yang jauh lebih penting.

baca juga

Ketika Kartu Lebih Mudah Diajak Bicara daripada Manusia

Bayangkan seorang mahasiswa semester akhir yang tengah menghadapi tekanan skripsi, ekspektasi orang tua yang menumpuk, dan hubungan pertemanan yang mulai merenggang. Di tengah semua itu, ia tidak bercerita kepada siapa pun.

Bukan karena tidak mau, tapi karena setiap kali mencoba, respons yang ia terima tidak pernah benar-benar membuatnya merasa dimengerti. Oleh karena itu, ia memesan layanan konsultasi tarot secara online.

Fenomena ini bukan kebetulan. Terdapat fakta menarik dari Penelitian Oetomo, N. W., & Alfian, I. N pada tahun 2024 bahwa Gen Z justru termasuk generasi yang paling banyak mengalami masalah kesehatan mental, namun sebagian besar memilih diam daripada mencari pertolongan. Salah satu alasannya adalah karena mereka lebih memilih menangani masalah secara pribadi atau bersama orang-orang terdekat, bukan ke profesional. Mereka memiliki banyak teman, tapi sedikit yang benar-benar hadir.

Tarot berfungsi seperti cermin—membantu kita memahami dan mengungkapkan perasaan yang sudah lama terpendam namun sulit untuk dikatakan. Kawan GNFI perlu memahami bahwa Gen Z yang memesan sesi tarot bukan sedang mencari tahu masa depan. Mereka sedang mencoba memahami perasaan mereka sendiri, dan kartu itu membantu mereka melakukannya tanpa rasa takut dihakimi.

Bukan Klenik, Ini tentang Kebutuhan Psikologis yang Tidak Terpenuhi

Perhatikan pertanyaan-pertanyaan yang paling sering muncul dalam sesi tarot Gen Z. "Kenapa dia pergi?" "Apakah aku cukup baik?" "Apa yang salah dariku?". Pertanyaan-pertanyaan itu bukan membutuhkan jawaban mistis. Mereka membutuhkan seseorang yang mau duduk, mendengarkan, dan berkata, "Perasaanmu valid."

Seorang psikolog Marsha Linehan, yang dikenal sebagai pengembang terapi DBT, menyebut bahwa setiap orang butuh merasa didengar dan diakui perasaannya. Ketika kebutuhan itu terpenuhi, seseorang jadi lebih mudah mengelola emosinya dan mengambil keputusan yang lebih baik. Sebaliknya, ketika validasi itu tidak pernah datang, seseorang akan mencarinya ke mana saja. Ketika ruang itu tidak tersedia atau terasa tidak aman, Gen Z mencari penggantinya di tempat yang tidak menghakimi mereka.

baca juga

Maka, yang Perlu Berubah Bukan Gen Z-nya

Sebelum Kawan GNFI menyimpulkan bahwa Gen Z terlalu mudah percaya hal-hal yang tidak rasional, ada satu data yang perlu kita renungkan bersama. Riset dari Into The Light Indonesia menunjukkan bahwa salah satu alasan terbesar Gen Z tidak mencari bantuan profesional kesehatan mental adalah karena mereka merasa tidak akan dipahami oleh orang-orang di sekitar mereka, belum lagi soal stigma dan biaya yang tidak sedikit.

Mereka bukan tidak mau mencari bantuan. Mereka tidak tahu ke mana harus pergi, karena di rumah tidak aman, di lingkaran pertemanan tidak ada ruang, dan ke psikolog terasa jauh dan mahal.

Tarot, dalam hal ini, bukan masalahnya. Tarot adalah gejala. Gejala dari generasi yang sangat ingin didengar, tapi belum menemukan siapa yang mau benar-benar mendengarkan.

Maka pertanyaan yang sesungguhnya bukan "kenapa Gen Z percaya tarot?" Pertanyaannya adalah, sudahkah kita, sebagai orang tua, teman, atau bagian dari masyarakat, benar-benar hadir untuk mereka tanpa langsung menghakimi?

Tarot bisa jadi pintu masuk untuk memahami bahwa di balik generasi yang terlihat cuek dan serba digital ini, ada jiwa-jiwa yang sangat ingin terhubung. Dan ruang untuk terhubung itu, sebenarnya, bisa dimulai dari kita.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.