Jauh sebelum teknologi komunikasi berkembang pesat seperti sekarang, masyarakat dunia sudah mengenal kartu pos sebagai sarana berkirim pesan dan berkomunikasi jarak jauh.
Pada tahun 1800-an, kartu pos menjadi media yang cukup populer karena memungkinkan seseorang menyampaikan kabar dengan cara yang lebih praktis dibandingkan surat panjang.
Namun, perjalanan kartu pos tidak berlangsung instan. Pada awal kemunculannya, kartu pos dibatasi oleh berbagai peraturan, mulai dari ukuran, warna, hingga desain yang boleh digunakan.
Keterbatasan ini membuat kartu pos membutuhkan waktu cukup lama untuk berkembang dan diterima luas oleh masyarakat.
Memasuki akhir tahun 1800-an hingga awal 1900-an, produksi kartu pos mulai berkembang pesat.
Kartu pos tidak hanya digunakan sebagai alat berkirim pesan, tetapi juga mulai dihiasi gambar, ilustrasi, dan pemandangan khas suatu daerah.
Pada masa-masa tersebut, kartu pos menjadi cara yang cepat dan mudah bagi individu untuk saling berkomunikasi, sekaligus menyimpan kenangan dari suatu tempat.
Popularitas kartu pos terus bertahan selama beberapa dekade, sebelum akhirnya mulai menurun pada tahun 1990-an.
Kemunculan kartu elektronik dan email menjadi titik awal berkurangnya penggunaan kartu pos sebagai sarana komunikasi utama.
Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik tanpa perlu menunggu berhari-hari seperti sebelumnya.
Kini, kartu pos lebih sering dibeli sebagai suvenir perjalanan, bukan lagi sebagai cara cepat untuk berkirim pesan.
Meski begitu, kartu pos tidak sepenuhnya kehilangan maknanya. Di kalangan tertentu, kartu pos justru menjadi barang koleksi bernilai sejarah dan emosional.
Hobi mengoleksi kartu pos bahkan memiliki sebutan tersendiri, yaitu deltiologi, yang masih diminati hingga saat ini. Selain deltiologi, ada juga postcrosser yaitu sebutan bagi pengguna situs Postcrossing.
Postcrossing adalah sebuah proyek online global yang memungkinkan Kawan yang ingin mengirim dan menerima kartu pos secara acak dari orang lain di seluruh dunia.
Bagi sebagian Kawan yang lahir di generasi 2000-an, budaya berkirim kartu pos mungkin terasa asing.
Seiring berkembangnya teknologi komunikasi seperti handphone, kebiasaan menunggu pesan dalam waktu lama perlahan tergantikan oleh SMS yang lebih praktis.
Dari SMS, komunikasi terus berevolusi hingga kini hadir beragam aplikasi pesan instan dan media sosial dengan fitur yang semakin canggih.
Ajakan Sederhana di Tengah Era Digital
Tahukah Kawan? Di tengah kondisi inilah seorang figur publik justru mengajak masyarakat untuk kembali melirik cara lama dalam berkirim pesan.
Ajakan sederhana ini datang dari seorang stand up comedian, penulis, sekaligus pencerita di berbagai medium, mulai dari media sosial, buku, hingga film layar lebar.
Siapakah figur publik itu? Kawan tentu tidak asing lagi dengan Raditya Dika. Ia seorang penulis dan komika Tanah Air yang ramai berkat celotehannya di panggung, podcast, maupun media sosial.
Raditya Dika kerap menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gaya bercerita yang ringan tetapi reflektif membuatnya memiliki audiens lintas generasi.
Lewat unggahannya di Instagram (28 Januari 2026) Raditya Dika membuat ajakan sederhana yang ia sampaikan melalui video reels berdurasi 1 menit 30 detik.
Ia menyebutkan bahwa, di tahun 2026 ini dia punya kebiasaan baru yaitu tiap kali pergi ke luar negeri, dia mengirimkan kartu pos untuk dirinya sendiri.
Hal ini bermula saat Raditya Dika sedang berlibur di Tailand. Dia berkirim pesan lewat kartu pos yang isinya menceritakan tentang cerita di hari saat itu juga.
Cerita yang terdapat di dalam kartu pos tersebut bertuliskan, “Retreat kreatif di Bangkok + outing kantor seru so far. Lumayan dapet kartu pokemon gratis hari ini”. Tak lupa gambar Pikachu Pokemon dibubuhi di bagian bawahnya.
Ketika Nostalgia Hadir di Ruang Digital
Menariknya, ajakan untuk kembali berkirim kartu pos justru muncul di media sosial, ruang yang identik dengan kecepatan dan komunikasi instan.
Di sinilah ajakan Raditya Dika terasa relevan. Ia menunjukkan bahwa fenomena media sosial di Indonesia tidak selalu harus melahirkan tren cepat dan baru, tetapi juga bisa memantik refleksi dan gerakan kecil yang bermakna.
Bagi generasi yang tumbuh di era digital, berkirim kartu pos mungkin terasa asing dan unik.
Sementara bagi generasi sebelumnya, ajakan ini menjadi pengingat akan masa ketika komunikasi dilakukan dengan lebih pelan dan penuh perhatian.
Nostalgia pun hadir bukan sebagai keinginan untuk kembali ke masa lalu, melainkan sebagai refleksi atas nilai yang pernah kita miliki.
Dari situlah akhirnya yang membuat Raditya Dika ingin mengajak followers-nya berkirim cerita lewat kartu pos yang ditujukan di alamat Raditya Dika (PO BOX 1213 Jakarta Selatan, Indonesia).
Raditya Dika menghimbau kepada followers-nya untuk mengirim kartu pos saja, jangan mengirim produk karena ia ingin membangkitkan kebiasaan menulis surat di kartu pos. Sebuah kampanye menarik yang bisa diikuti oleh siapa saja.
Baik gen milenial atau gen Z generasi awal yang ingin bernostalgia, gen Z yang tidak kebagian zaman kirim pesan lewat kartu pos, maupun gen Alpha yang ingin mendapatkan pengalaman baru ini.
Menariknya, video unggahan Raditya Dika ini menciptakan banyak respon baik jika dilihat dari jumlah interaksi di kolom komentar.
Tak sedikit yang menyebutkan ketertarikannya untuk segera mengirimkan ceritanya lewat kartu pos ke alamat yang sudah disebutkan sebelumnya.
Lebih dari Sekadar Kartu Pos
Ajakan berkirim kartu pos bukan tentang menolak teknologi. Pesan digital tetap penting dan memudahkan banyak hal.
Namun di tengah derasnya arus komunikasi instan, kartu pos menawarkan ruang untuk berhenti sejenak.
Ia mengajak Kawan untuk hadir sepenuhnya, menulis dengan realita apa adanya, dan mengirimkan pesan yang benar-benar ingin disampaikan.
Dalam konteks ini, kartu pos menjadi simbol dari komunikasi yang lebih manusiawi. Sebuah pengingat bahwa tidak semua pesan harus cepat untuk bisa terasa bermakna.
Nostalgia sebagai Kabar Baik
Di tengah berbagai kabar yang bergerak cepat dan sering kali melelahkan, nostalgia bisa menjadi kabar baik dari ruang digital.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah terhubung dengan cara yang lebih hangat dan bahwa nilai itu masih bisa dihidupkan kembali, meski dalam bentuk yang sederhana.
Ajakan Raditya Dika menunjukkan bahwa perhatian, kehadiran, dan niat baik tetap memiliki tempat di era digital.
Mungkin bukan kartu posnya yang paling penting, tetapi pesan di baliknya: bahwa komunikasi yang tulus selalu layak diperjuangkan.
Kawan pembaca apakah tertarik untuk berkirim cerita lewat kartu pos ke Raditya Dika? Atau justru terpikir akan melakukan kebiasaan baru juga seperti Raditya Dika di tahun 2026 ini?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


