maen di setu babakan temukan kembali budaya betawi di permainan tradisional - News | Good News From Indonesia 2026

“Maen” di Setu Babakan, Temukan Kembali Budaya Betawi di Permainan Tradisional

“Maen” di Setu Babakan, Temukan Kembali Budaya Betawi di Permainan Tradisional
images info

Foto oleh Ainun Jamila di Unsplash


Betawi selalu memiliki posisinya sebagai salah satu akar kebudayaan Jakarta. Jejaknya dapat ditemukan dalam banyak hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanan, bahasa, kesenian, tradisi, sampai permainan yang dahulu menjadi bagian yang menemani anak-anak menghabiskan waktu.

Perkembangan modernitas di Jakarta membuat ruang bermain semakin terbatas. Anak-anak tumbuh bersama gawai dan permainan digital. Banyak permainan yang dulu mudah ditemukan di halaman rumah, atau tanah lapang semakin jarang terlihat. 

Pengenalan kembali budaya Betawi perlu dilakukan melalui hal-hal sederhana yang pernah dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya lewat bermain. 

baca juga

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaannya, menggelar Pameran Temporer “Maen” yang digelar di Museum Betawi, Setu Babakan, Jakarta Selatan. Pameran ini berlangsung sejak 14 Agustus hingga 31 Desember 2026. Mengusung tema “Saban Maen Bikin Girang, Hiburan Jadul yang Kagak Ilang”, pameran mengangkat berbagai permainan dan hiburan tradisional masyarakat Betawi. Ada dampu, pletokan, layangan, bekel, hingga permainan karet.

Dalam bahasa Indonesia, pilihan kata “Maen” berarti main atau bermain. Penggunaan bentuk “Maen” sengaja dipertahankan untuk menegaskan identitas khas Betawi. Dari sebuah kata saja, pengunjung sudah mulai diajak masuk ke suasana budaya yang ingin diperkenalkan.

Pameran “Maen” mengajak kita sebagai pengunjung untuk bernostalgia sekaligus mengenalkan permainan tradisional kepada generasi saat ini. Pameran ini seolah membuka kembali sebuah album di masa kecil. Permainan yang mungkin dulu ditemui di lapangan sekitar rumah kini hadir dalam bentuk “ruang museum”. Bagi sebagian kita yang pernah memainkannya, suasana itu bisa membawa ingatan lama sekaligus menjadi pengalaman baru bagi anak-anak yang belum mengenalnya sama sekali.

Sebuah permainan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sesuatu yang lebih mendalam. Anak-anak yang mencoba berbagai permainan ini akan mengenal bagaimana anak-anak Betawi zaman dahulu menghabiskan waktu. 

Permainan rakyat sebenarnya menyimpan banyak sekali nilai sosial yang tertanam. Nilai kebersamaan, pengendalian diri, sportivitas, dan kerja sama dalam permainan mengajarkan anak untuk lebih bersabar, belajar mengalah, dan mengendalikan diri.

Menjaga permainan tradisional tidak cukup dipahami sebagai upaya hanya menyimpan “koleksi jadoel”. Namun banyak tersimpan pengetahuan dan pengalaman yang menyertainya, tentang cara-cara masyarakat berinteraksi sehingga menghasilkan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pameran “Maen” mencoba menghadirkan pengalaman tersebut melalui berbagai permainan tradisional. Pengunjung juga dapat mengikuti kegiatan pendukung seperti lokakarya Gambang Kromong dan pelatihan pembuatan bir pletok. Pendekatan seperti ini rasanya dapat membuat budaya terasa lebih personal. Disana, kita tidak hanya membaca tentang kebudayaan saja, tetapi melihat bentuknya, mendengar ceritanya, bahkan mencoba bagian dari pengalamannya.

Upaya ini memperlihatkan pentingnya Setu Babakan dalam menjaga identitas budaya Jakarta. Kawasan ini disebut sebagai pusat edukasi dan laboratoriumnya kebudayaan Betawi milik Pemprov DKI Jakarta. Perannya menjadi penting di tengah perubahan Jakarta yang tengah menuju kota global.

baca juga

Wakil Gubernur DKI Jakarta mendorong penyusunan grand design pengembangan kawasan Setu Babakan. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah menghadirkan lembaga pendidikan berbentuk institut khusus tentang Jakarta. Pengembangan kawasan juga direncanakan dilakukan secara bertahap dan terukur berdasarkan grand design yang disusun.

Untuk mengoptimalisasi sarana dan prasarana kebudayaan, Setu Babakan dinilai dapat dikembangkan sebagai pusat kebudayaan Betawi sekaligus ruang aktivitas bagi komunitas seni dan budaya. Sanggar dan pusat seni dari berbagai wilayah Jakarta juga diharapkan dapat memanfaatkan kawasan ini untuk berkegiatan, berkolaborasi, dan berkreasi.

Sebuah tradisi akan sulit bertahan jika hanya dikenal oleh orang yang pernah mengalaminya saja. Sebab generasi muda perlu memiliki kesempatan untuk mengenal budaya dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dunia digital dapat digunakan untuk memperkenalkan kembali permainan dan kesenian tradisional dengan cara yang lebih menarik. Namun, pengalaman langsung tetap memiliki kesannya tersendiri. Ada hal yang berbeda ketika seseorang melihat video permainan dampu dengan ketika ia benar-benar mencoba memainkannya.

Grand design pengembangan kawasan perlu melihat kebudayaan sebagai aktivitas yang terus hidup. Ruang-ruang ini tentu sebaiknya diisi dengan kegiatan yang membuat masyarakat belajar dan berkarya.

Pameran “Maen” memberi contoh kecil tentang sebuah permainan lama dapat membawa kembali cerita yang hampir terlupakan. Tentang kawasan budaya yang seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan masa lalu dengan kehidupan hari ini.

Mengenal budaya Betawi berarti mengenal sebagian dari perjalanan Jakarta. Pameran “Maen” seharusnya menjadi reminder bagi kita bahwa budaya akan tetap hidup ketika ada yang datang untuk mengenalinya. Mari beri ruang bagi budaya Betawi untuk kembali hadir dalam kehidupan kita. Hadir ke Museum Betawi di Setu Babakan, ajak anak-anak mengenal permainan tradisional, dan nikmati kebersamaan dengan pengalaman lain dari Jakarta.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.