Pernahkah Kawan kepikiran, Jepang yang dulu pernah menduduki Indonesia kini menjadi salah satu partner yang membantu negara ini? Salah satunya terlihat ketika Jepang ikut membantu Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
Kalau kata netizen, situasinya mungkin terasa seperti melihat mantan toxic yang sekarang sudah tidak toxic lagi. Namun, perubahan hubungan dua negara tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada perjalanan panjang dari masa pendudukan menuju hubungan yang kini lebih banyak diisi kerja sama.
Bukan Invasi, Ini Misi Kemanusiaan Jepang di Kalimantan
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan mendapat perhatian dari sejumlah negara. Salah satunya Jepang yang ikut mengerahkan hingga 300 personel dan bantuan helikopter untuk membantu pemadaman hutan yang terbakar. Pada 10 September 2026, 3 unit helikopter CH-47 Chinook tiba di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Kalimantan Barat.
Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letjen TNI Tri Budi Utomo, yang dilansir dari ANTARA (8/9/2026), kerja sama ini merupakan lanjutan dari kerja sama pertahanan komprehensif atau Defence Cooperation Arrangement (DCA) antara Indonesia dan Jepang.
Kerja sama yang ditandatangani pada 4 Mei 2026 ini mencakup beberapa ruang lingkup, salah satunya pengelolaan bencana melalui Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Kerangka kerja tersebut yang menjadi salah satu dasar bantuan Jepang dalam penanganan bencana di Indonesia.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Jepang memberi bantuan kepada Indonesia. Sebelumnya, Jepang juga pernah memberikan bantuan pada bencana tsunami Aceh pada tahun 2004 dan gempa Palu 2018 melalui JDR Self-Defense Unit. Kerja sama lainnya ada pada pembangunan, melalui Official Development Assistance (ODA) yang berlangsung selama puluhan tahun.
Meski bantuan datang dari Jepang, kendali pelaksanaan operasi tetap ada di tangan Indonesia. Operasi water bombing sendiri dilaksanakan sejak 12 September hingga 19 September 2026. Harapannya, dengan adanya operasi water bombing ini dapat menekan laju penyebaran kebakaran bisa, dan mengurangi kerusakan lingkungan, serta menyelamatkan flora dan fauna yang ada di kawasan hutan Kalimantan Barat.
Saat Api Kalimantan Mengancam Panen dan Ketahanan Pangan
Dampak karhutla tidak berhenti pada asap dan kerusakan hutan, tetapi sektor pertanian juga ikut terdampak, utamanya ketika api, kekeringan, dan kabut asap mengganggu lahan produksi.
Lahan sawit, karet, dan padi di berbagai kabupaten Kalimantan terdampak langsung. Asap tebal hasil dari kebakaran hutan mengganggu proses fotosintesis dan menurunkan produktivitas tanaman.
Riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mencatat produktivitas sawit bisa turun 28–41% saat kondisi kekeringan atau kabut asap. Kondisi ini kembali terjadi di krisis karhutla 2026. Bukan hanya sawit, padi, bawang merah, dan cabai juga kena imbas, sementara petani kesulitan panen karena jarak pandang terbatas akibat asap.
Dilansir dari Batavia Pos (22/08/2026), tercatat sudah ada lebih dari 38 ribu hektare lahan yang terbakar di Kalimantan Barat sejak awal tahun 2026. Kalimantan Timur menyumbang sekitar 8 ribu hektare dan Kalimantan Selatan hampir 7,6 ribu hektare, sementara luasan di Kalimantan Tengah masih terus bertambah.
Dampaknya juga terasa pada pelaku usaha di sekitar kawasan terdampak. Salah satu peternak di Banjarbaru, misalnya, mengaku mengalami kerugian puluhan juta rupiah setelah ratusan ekor ayam mati akibat api dan asap.
Selain itu, pengairan lahan juga sulit akibat muka air gambut yang turun drastis. Ketersediaan air bersih turut menjadi persoalan bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Kabut asap juga dapat mengganggu produksi pangan lokal dan distribusi ketika jarak pandang menurun. Kondisi ini berpotensi menyebabkan keterlambatan penerbangan dan menghambat mobilitas bahan baku.
Solidaritas Lintas Negara di Tengah Krisis Karhutla
Di tengah kondisi tersebut, bantuan Jepang menjadi bagian dari upaya pemadaman karhutla. Helikopter yang dikerahkan digunakan untuk mendukung operasi water bombing dari udara.
Tidak hanya Jepang, sebanyak delapan negara juga mengerahkan dukungan udara dengan total 36 helikopter. Kemenhub telah menerbitkan 35 izin khusus untuk pesawat asing, dan diberikan kepada 11 pemegang Air Operator Certificate (AOC).
Delapan negara yang terlibat dalam dukungan udara, di antaranya Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, dan Kanada. Sedangkan untuk negara yang terlibat membantu Indonesia menangani karhutla tercatat ada 10 negara, yaitu Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, Kanada, Jepang, dan Malaysia.
Jepang sendiri mengirimkan kapal, helikopter, dan personel untuk mendukung operasi pemadaman, dan untuk Malaysia memberikan dukungan lewat operasi penyemaian awan di sepanjang wilayah perbatasan kedua negara.
Kehadiran negara lain di Indonesia hari ini tidak lagi datang dalam konteks peperangan, tetapi dalam bentuk kerja sama dan solidaritas kemanusiaan. Indonesia tetap membutuhkan negara-negara lain, seperti Jepang, ketika menghadapi bencana yang skalanya sulit ditangani sendiri.
Setelah api padam, persoalan belum benar-benar selesai. Masyarakat terdampak masih membutuhkan pemulihan, terutama pada aspek sosial dan ekonomi.
Dalam hasil penelitian Annisa Musrifatun Nur'Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan UGM (2025), disebutkan bahwa untuk mengendalikan karhutla, butuh pendekatan jangka panjang yang tidak hanya fokus pada pemadaman, tapi juga pada perbaikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat terdampak di sekitar hutan.
Kalau dipikir-pikir, hubungan Indonesia dan Jepang memang punya kisah yang menarik. Sejarah hubungan Indonesia dan Jepang memang menyimpan luka. Namun, waktu juga menunjukkan bahwa hubungan antarnegara dapat berubah ketika kepentingan bersama dibangun melalui kerja sama.
Dalam konteks karhutla, solidaritas itu bukan cuma soal memadamkan api. Ada lahan, mata pencaharian petani, dan ketersediaan pangan yang juga harus dipikirkan.
Lantas, menurut Kawan, apa yang bisa kita pelajari dari momen ketika negara-negara yang dulu punya sejarah konflik kini justru saling membantu menghadapi krisis?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

