Ada masa ketika menanam ubi jalar bukan sesuatu yang layak dibanggakan bagi sebagian petani di Kabupaten Karo. Komoditas ini bahkan lekat dengan anggapan sebagai "makanan babi", tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kini, pandangan itu perlahan berubah. Ubi jalar yang dikenal dengan sebutan sweet potatoes kini punya wajah baru.
Di kawasan Siosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, sejumlah petani dan pelaku agrobisnis mengembangkan varietas sweet potatoes premium seperti ubi Cilembu, sekaligus membangun pola produksi yang diarahkan untuk memenuhi pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.
Aris Sembiring, salah seorang petani ubi Cilembu di Siosar, masih mengingat bagaimana rendahnya pamor ubi jalar di kalangan petani Karo.
"Dulu petani yang menanam ubi jalar dianggap petani kecil. Karena dianggap makanan babi, nggak ada harganya," ujarnya.

Ubi Cilembu asal Siosar Kab. Karo siap untuk diekspor ke mancanegara. (Dok: pribadi)
Menurut Sembiring, petani ubi jalar bahkan kerap menjadi bahan ejekan. Mereka dianggap sebagai petani yang baru belajar karena memilih komoditas yang nilai ekonominya kala itu dipandang rendah.
Kini ubi jalar bukan lagi sekadar komoditas pangan tradisional. Dengan kualitas, kontinuitas dan pengelolaan yang tepat, tanaman ini memiliki peluang masuk ke rantai perdagangan internasional.
Pasar Ubi Jalar Dunia Masih Terbuka
Data FAOSTAT mencatat produksi ubi jalar dunia pada 2024 mencapai sekitar 90,9 juta ton. Asia menjadi kawasan produksi terbesar dengan sekitar 58,1 juta ton, sedangkan Afrika menyumbang sekitar 28,5 juta ton.
Indonesia pada tahun yang sama menghasilkan sekitar 1,49 juta ton ubi jalar dari sekitar 69 ribu hektare lahan panen.
Jika dibandingkan dengan produksi dunia, kontribusi Indonesia baru sekitar 1,6 persen. Angka ini sekaligus memperlihatkan bahwa ruang pengembangan komoditas ubi jalar masih cukup besar.
Di dalam negeri sendiri, ubi jalar juga masih memiliki pasar yang luas. Kementerian PPN/Bappenas mencatat konsumsi ubi jalar masyarakat Indonesia pada 2024 sekitar 3,1 kilogram per kapita per tahun.
Tantangannya bukan semata meningkatkan jumlah produksi. Untuk memasuki pasar ekspor, pelaku usaha harus mampu menjaga kualitas, ukuran, volume dan kontinuitas pasokan.
Di sinilah model pengembangan yang mulai dilakukan di Siosar menjadi menarik.
Siosar, Eksperimen Baru Ubi Cilembu di Dataran Tinggi Karo
Siosar dikenal sebagai salah satu kawasan pertanian dataran tinggi di Kabupaten Karo. Karakteristik lahannya berbeda dengan sentra ubi Cilembu yang selama ini dikenal di Jawa Barat.
Sejumlah penelitian mencatat kawasan Siosar memiliki tanah Andisol dengan ketinggian sekitar 1.490–1.562 mdpl.

Petani di Kabupaten Karo melaksanakan panen Ubi Cilembu. (Dok: pribadi)
Penelitian mengenai ubi Cilembu varietas Rancing menunjukkan kondisi yang mendukung pertumbuhan dan kadar gula terbaik berada pada temperatur sekitar 21–22 derajat Celsius, dengan curah hujan bulanan 96–199 milimeter.
Sementara penelitian kesesuaian lahan di Siosar mencatat temperatur rata-rata sekitar 17,3 derajat Celsius dan menyebut temperatur serta kedalaman perakaran sebagai faktor pembatas budidaya ubi jalar.
Karena itu, pengembangan Cilembu di Siosar lebih tepat dilihat sebagai proses adaptasi dan pengembangan teknologi budidaya.
Jika berhasil, Siosar bukan hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga dapat menjadi kawasan pengembangan baru untuk melihat potensi ubi Cilembu di lingkungan dataran tinggi Karo.
RSP Group Targetkan Tambah 2 Hektare Setiap Bulan
Peluang tersebut mulai ditangkap pelaku usaha agrobisnis. Salah satunya RSP Group Medan yang kini mengembangkan ubi Cilembu di Siosar.
Bang Pane, pimpinan RSP Group, melihat peluang ekspor masih terbuka lebar.
"Potensi ekspor ubi jalar khususnya ubi Cilembu masih terbuka lebar. Kalau peluang ini kita ambil, sangat membantu perekonomian petani di Karo, khususnya di Siosar," kata Pane saat ditemui di lokasi budidaya, 7 September 2026.

Pimpinan RSP Grup Medan, Bang Raja Pane menunjukkan tanaman ubi cilembu yang telah berusia 50 hari setelah tanam (HST) di Siosar, Kec. Merek, Kab. Karo, Sumatera Utara. (Dok: pribadi)
RSP Group saat ini telah menanam ubi Cilembu di lahan sekitar tiga hektare. Pengembangan selanjutnya dilakukan secara bertahap dengan target penambahan lahan sekitar dua hektare setiap bulan.
Agar panen tidak menumpuk dalam satu periode, lahan dibagi menjadi empat blok dengan luas sekitar 5.000 meter persegi. Penanaman dilakukan dengan jeda satu minggu antarblok.
Pola tersebut dirancang untuk menciptakan siklus panen yang lebih teratur.
"Tiap bulan kami menargetkan menanam sedikitnya 2 ha lahan. Dibagi dalam empat blok dengan luasan 5.000 meter persegi yang ditanam dengan jarak satu minggu," ujar Pane.
Menurutnya, kesinambungan produksi merupakan salah satu kunci untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Bukan Sekadar Mengejar Ekspor
Menariknya, pengembangan ubi Cilembu di Siosar tidak hanya bertumpu pada lahan milik perusahaan.
RSP Group juga menggandeng puluhan petani di sekitar kawasan. Mereka akan mendapatkan pendampingan mulai dari persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen.
"Kami juga bekerja sama dengan puluhan petani di sekitar kawasan. Kami dampingi sejak persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen," kata Pane.
Pendekatan kemitraan tersebut menjadi penting karena ekspor membutuhkan standar produk yang relatif konsisten. Pasar tidak hanya membutuhkan ubi dengan rasa dan ukuran yang baik, tetapi juga kepastian volume dan jadwal pengiriman.
Jika pola tersebut berhasil dikembangkan, manfaat ekonominya tidak berhenti pada pelaku usaha.
Petani di sekitar Siosar berpeluang memperoleh alternatif komoditas dengan nilai tambah lebih tinggi, sementara kawasan tersebut dapat membangun rantai agribisnis baru dari hulu hingga pasar.
Dari tanaman yang dahulu dianggap "makanan babi", ubi jalar kini mulai memiliki cerita yang berbeda.
Di tangan petani dan pelaku usaha yang melihat peluang, ubi Cilembu tidak lagi sekadar tanaman pangan. Ia mulai diposisikan sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi yang punya kesempatan untuk melangkah lebih jauh—dari Siosar menuju pasar dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


