berkali kali gagal masuk ugm atlet disabilitas asal kediri ini akhirnya kuliah gratis dan ingin wujudkan mimpi ayah - News | Good News From Indonesia 2026

Berkali-kali Gagal Masuk UGM, Atlet Disabilitas Asal Kediri Ini Akhirnya Kuliah Gratis dan Ingin Wujudkan Mimpi Ayah

Berkali-kali Gagal Masuk UGM, Atlet Disabilitas Asal Kediri Ini Akhirnya Kuliah Gratis dan Ingin Wujudkan Mimpi Ayah
images info

Eifie Julian Hikmah, mahasiswa Akuntansi FEB UGM angkatan 2025 sekaligus atlet difabel asal Kediri, berhasil menembus UGM lewat jalur PBUTM.


“Kalau capek, istirahat sebentar dulu tidak apa-apa, terus lanjut lagi usaha. Yang penting kita harus yakin kalau kita itu bisa,” kata Eifie Julian Hikmah, atlet disabilitas asal Kediri, Jawa Timur, yang kini menjadi mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).

Eifie bukan motivator tapi ia merasakan sendiri bagaimana usaha yang dilakoninya harus dua kali lebih besar dibandingkan teman-teman lainnya. Ambil contoh, untuk masuk ke salah satu kampus besar di Yogyakarta pun, ia harus menerima kegagalan lebih dulu. Tak hanya satu kali, Eifie gagal melalui beberapa jalur penerimaan mahasiswa baru.

Hingga pada akhirnya, Eifie diterima sebagai mahasiswa UGM melalui Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM). Ia bahkan memperoleh subsidi UKT 100% dari UGM sehingga bisa berkuliah tanpa harus menambah beban biaya bagi ibunya.

Kisah tersebut menjadi babak baru bagi perempuan kelahiran Kediri, 23 Juli 2006, yang sejak kecil sudah berhadapan dengan keistimewaan di tangan kanannya.

Sejak Lahir, Eifie Sudah Berhadapan dengan Tatapan Orang

Eifie lahir dengan kondisi disabilitas daksa. Saat sang ibu, Eny Nawangsih, pertama kali melihat putrinya setelah persalinan, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Sarung tangan bayi sebelah kanan yang sudah disiapkan Eny tidak dikenakan. Sang suami, Mochamad Farid, kemudian mengatakan bahwa ada kekurangan pada tangan Eifie. Kondisi tersebut sempat membuat kedua orang tuanya khawatir, terlebih ayah Eifie bekerja sebagai tukang kayu.

Namun, keluarga memilih menerima kehadiran Eifie dan mendukung pertumbuhannya.

Nama Eifie Julian Hikmah pun memiliki cerita tersendiri. Menurut Eny, nama tersebut diberikan karena kelahirannya dianggap membawa banyak hikmah pada bulan Juli.

Memasuki usia tahunan, masa kecil Eifie tentu saja tidak sepenuhnya mudah. Ia pernah mendengar anak-anak di lingkungannya mengejek kondisi tangannya. Sebagai anak kecil, tangisan Eifie pun tak terbendung.

Sang ibu tidak tinggal diam.

“Setiap kali mengaji, saya tunggu di samping masjid. Anak yang mengejek saya cari, saya tegur baik-baik supaya berhenti,” kata Eny, sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM pada 2025.

Walaupun istimewa, di sekolah, Eifie justru menunjukkan kemampuan akademik yang kuat. Ia bersekolah di SD negeri dan meraih peringkat pertama sejak kelas 1 hingga kelas 6.

Dari sana, rasa percaya dirinya tumbuh.

“Dengan keadaan seperti ini, aku masih bisa beraktivitas, berprestasi, dan belajar dengan baik. Jadi, buat apa harus dengerin omongan orang? Lebih baik percaya sama kemampuanku sendiri,” ujar Eifie.

Es Krim Keliling Menjadi Awal Eifie Mengenal Atletik

Kawan, Eifie bukanlah siswa biasa. Selain cerdas akademik, ia juga berpotensi menjadi atlet. Perjalanan Eifie sebagai atlet bermula dari seorang penjual es krim keliling.

Ketika masih kecil, Eifie sering membeli jajanan dari Karmani. Yang menarik, Karmani ternyata sudah memperhatikan kemampuan Eifie sejak ia masih kelas 1 SD.

Baru ketika Eifie duduk di kelas 3, Karmani meminta izin kepada orang tuanya agar Eifie bisa ikut berlatih atletik.

Awalnya, Eifie tidak memahami banyak hal tentang atletik. Olahraga yang ia kenal hanya lari. Pada akhirnya, ia bergabung pada sesi latihan.

Peralatan latihan yang ia pakai pun seadanya. Ia sempat menggunakan sepatu sekolah untuk berlatih. Keluarganya juga sempat cemas dengan biaya yang perlu dikeluarkan untuk latihan. Beruntung, latihan yang dijalaninya ternyata tidak membutuhkan seragam atau iuran khusus.

Beberapa bulan kemudian, Eifie mengikuti kompetisi pertamanya. Ia mendapat bantuan Rp200.000 untuk membeli sepatu paku.

Masalahnya, uang tersebut belum cukup. Ayahnya ketika itu hanya mempunyai tabungan Rp150.000. Sementara ibunya membawa Rp19.000. Sang ayah kemudian pergi mencari tambahan uang.

“Entah bagaimana caranya, beliau kembali membawa sisa uang yang dibutuhkan,” tulis UGM dalam kisah Eifie.

Sepatu paku pertama Eifie akhirnya terbeli.

Dalam kompetisi pertamanya, Eifie meraih juara kedua nomor lari 200 meter pada Kejuaraan Walikota Cup Surabaya Se-Jawa Timur. Sekolahnya bahkan memasang banner ucapan selamat.

Sejak saat itu, Eifie menaruh fokus pada lintasan atletik. Eifie berlatih tiga kali seminggu. Ia tidak hanya mengikuti nomor lari 100, 200, dan 400 meter, tetapi juga mencoba lompat jauh dan tolak peluru.

Prestasinya kemudian membawanya mengikuti kompetisi hingga tingkat nasional, termasuk Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas).

Ayah Pergi Sebelum Melihat Eifie Mencapai Mimpinya

Lagi-lagi, jalan hidup Eifie dihadapkan oleh cobaan. Sang ayah meninggal dunia hanya sebulan sebelum Pekan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur 2024.

Kehilangan itu datang ketika Eifie sedang berada dalam perjalanan mengejar prestasi.

Mentalnya belum pulih. Pada ajang tersebut, ia tidak mendapatkan medali emas. Ia bahkan sempat khawatir tidak bisa lolos ke kompetisi tingkat nasional.

Ada satu alasan lain yang membuat kegagalan itu terasa berat, yakni kuliah.

Sejak SMP, Eifie sudah mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Keinginan tersebut juga berkaitan dengan ayahnya yang pernah menempuh pendidikan tinggi, tetapi tidak bisa menyelesaikannya karena kendala biaya.

Setelah ayahnya meninggal, Eifie ingin menuntaskan mimpi sang ayah yang tertunda.

UGM Sempat Terasa seperti Mimpi yang Sulit Diraih

“Waktu itu lihat video PPSMB Palapa di media sosial. Aku langsung bilang mau kuliah di UGM,” kenangnya.

Hanya dari video itu, Eifie gigih untuk tembus UGM.

Sebagai informasi, PPSMB merupakan singkatan dari Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian penyambutan mahasiswa baru UGM yang kini menggunakan nama Pionir.

Eifie sempat mencoba beberapa jalur penerimaan mahasiswa baru. Ia gagal di SNBT dan kembali tidak berhasil melalui UM UGM CBT. Pada tahap berikutnya, ia menemukan PBUTM.

PBUTM adalah jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu. Jalur ini menjadi salah satu kesempatan penerimaan mahasiswa UGM bagi calon mahasiswa dengan kondisi ekonomi tertentu dan mempertimbangkan potensi serta prestasi yang dimiliki. Dari jalur inilah Eifie akhirnya tembus.

“Awalnya sebenarnya tidak terpikir untuk mendaftar lewat jalur ini. Setelah diberitahu Kakak, akhirnya saya coba,” kata Eifie dalam FEB UGM Podcast.

Ia kemudian menggunakan prestasi olahraga sebagai salah satu dokumen pendukung pendaftaran Program Studi Akuntansi.

Pengumuman UGM yang Akhirnya Membuat Eifie Menangis

Masa menunggu hasil seleksi menjadi bagian yang cukup menegangkan.

Teman-temannya mulai mendapatkan kabar mengenai hasil seleksi perguruan tinggi. Eifie justru belum berani membuka pengumumannya.

Pengalaman gagal sebelumnya membuatnya takut kembali membaca kalimat yang sama. Sampai akhirnya, ia memberanikan diri membuka pengumuman.

Namanya tercantum sebagai calon mahasiswa yang diterima UGM melalui PBUTM.

“Alhamdulillah akhirnya keterima. Jujur nangis dan terharu karena tidak menyangka. Akhirnya aku bisa menjawab kalau aku lolos di UGM,” kata Eifie.

Ia diterima di Program Studi Akuntansi FEB UGM dan tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2025. Bagi Eifie, kabar itu sekaligus menjawab berbagai kegagalan yang sebelumnya ia alami.

Ada satu hal yang membuat Eifie semakin lega setelah diterima UGM. Ia tidak perlu membebani ibunya dengan biaya kuliah. Sebab, Eifie menerima subsidi UKT 100% dari UGM.

Mimpi Eifie Selanjutnya

Kini, Eifie harus membagi waktunya antara kuliah dan atletik.

Di kampus, ia ingin aktif dalam organisasi, mengikuti berbagai perlombaan, serta mencoba kesempatan magang.

Sementara di lintasan, ia tetap ingin berlatih tiga kali seminggu. Karena kesibukan kuliah, ia berencana meminta program latihan mandiri kepada pelatih. Targetnya pun belum berubah.

“Aku mau mecahin rekor pribadi dan ngalahin lawan-lawan yang selama ini susah dikalahkan,” tuturnya.

Ia juga masih menyimpan keinginan untuk bertanding di tingkat internasional.

Di bidang akademik, Eifie memilih Akuntansi bukan secara asal.

Ke depan, Eifie ingin mempunyai dua kemungkinan karier. Ia ingin menjadi akuntan atau auditor, tetapi juga membuka peluang untuk tetap berkarier sebagai atlet.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.