anak krakatau gunung api yang terlahir dari letusan krakatau - News | Good News From Indonesia 2026

Anak Krakatau: Gunung Api yang Terlahir dari Letusan Krakatau

Anak Krakatau: Gunung Api yang Terlahir dari Letusan Krakatau
images info

Sammy Sammy - Wikimedia Commons


Anak Krakatau adama nama yang kita banyak dengar di tengah masyarakat dan dunia maya saat ini karena aktivitas terbarunya. Pada tanggal 6 September 2026 lalu, abu vulkanik dari erupsi tersebut menyebar ke sejumlah wilayah dan bahkan mengganggu aktivitas penerbangan. Bahkan, Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat menutup operasionalnya.

Dalam sejarahnya, Gunung Anak Krakatau tidak secara begitu saja muncul di Selat Sunda. Keberadaannya merupakan salah satu bagian dari kisah Gunung Krakatau, yang mana letusan gunung apinya tercatat dalam sejarah dunia sebagai letusan gunung api yang sangat dahsyat.

Untuk memahami asal-usul Gunung Anak Krakatau, kita sebelumnya perlu kembali ke masa lalu, ketika Krakatau masih berdiri sebagai sebuah pulau.

Sebelum Anak Krakatau, Ada Krakatau

Sebelum Gunung Anak Krakatau muncul di Selat Sunda, wilayah tersebut merupakan tempat berdirinya Gunung Krakatau. Gunung api ini terletak di antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa, tepatnya di perairan Selat Sunda.

Pada saat itu, nama “Krakatau” tidak hanya merujuk pada satu gunung, nama itu merujuk pada suatu pulau yang menjadi kompleks gunung api. Kompleks tersebut terdiri atas tiga kerucut gunung api utama, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

Rakata merupakan bagian terbesar dari kompleks tersebut, sedangkan Danan dan Perbuwatan berada di bagian lain pulau. Ketiga kerucut tersebut tidak berdiri sendiri sebagai tiga pulau terpisah, melainkan berada dalam satu kompleks vulkanik yang membentuk Pulau Krakatau.

Krakatau juga bukanlah gugus gunung api yang sepenuhnya tenang sebelum letusan besar pada tahun 1883. Aktivitas vulkanik sebelumnya telah tercatat, salah satunya adalah letusan pada tahun 1680. Setelah itu, Krakatau kembali memasuki periode yang relatif tenang sebelum aktivitas vulkaniknya meningkat pada tahun 1883.

baca juga

Letusan Krakatau Tahun 1883

Letusan gugusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 merupakan salah satu letusan terbesar dan paling dahsyat dalam sejarah yang tercatat. Sebelum 1883, satu-satunya letusan yang dikonfirmasi di gugusan pulau Krakatau adalah letusan sedang. Letusan sedang itu terjadi sekitar dua abad sebelumnya, pada tahun 1680.

Letusan terbesar yang akhirnya masuk ke dalam sejarah terjadi pada 26—27 Agustus 1883. Pada 26 Agustus 1883, ledakan pertama dari serangkaian ledakan yang semakin dahsyat mengirimkan awan abu hitam.

Ledakan itu membubung setinggi 27 km di atas Krakatau. Letusan berikutnya terjadi keesokan harinya (27 Agustus 1883), pukul 10 pagi. Abu vulkanik naik setinggi kira-kira 80 km. Kali ini dentumannya lebih dahsyat dan sampai lintas ke Benua Australia, menghasilkan serangkaian tsunami yang mengempas dan menelan pantai-pantai di sepanjang Banten (Jawa Barat) dan Lampung (Sumatra).

Sekitar 36.000 orang tewas di Jawa dan Sumatra akibat tsunami yang menyusul runtuhnya gunung berapi tersebut. Letusan tersebut menyebabkan sebagian besar kompleks Krakatau runtuh. Danan dan Perbuwatan hancur, sementara sebagian Rakata tetap bertahan.

Lahirnya Anak Krakatau

Pada Juni 1927, letusan baru dimulai di dasar laut di sepanjang garis yang sama dengan letusan sebelumnya. Pada awal 1928, muncul kerucut yang menjulang hingga mencapai permukaan laut. Pada tahun 1930, kerucut tersebut menjadi sebuah pulau kecil yang kemudian dinamai Anak Krakatau.

Anak Krakatau merupakan generasi baru yang muncul dari sistem vulkanik Krakatau setelah letusan besar menghancurkan sebagian besar kompleks gunung sebelumnya. Gunung ini tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk akibat letusan Krakatau pada tahun 1883.

Sejak saat itu, Anak Krakatau terus tumbuh. Pada tahun 2018, ketinggiannya mencapai sekitar 318 meter di atas permukaan laut sebelum kembali mengalami aktivitas erupsi. Pada tahun yang sama, aktivitas erupsi disertai longsoran pada sebagian tubuh Anak Krakatau. Runtuhan tersebut masuk ke laut dan memicu tsunami di Selat Sunda yang menggenangi sejumlah wilayah pesisir Jawa dan Sumatra.

Peristiwa tersebut menyebabkan sekitar 400 orang meninggal dunia, 7.000 orang mengalami luka-luka, dan hampir 47.000 orang mengungsi dari rumah mereka.

baca juga

Letusan Anak Krakatau Tahun 2026

Gunung Anak Krakatau sudah memasuki status Siaga sejak 2 Juli 2026 setelah aktivitas vulkaniknya meningkat. Sejak saat itu, gunung ini mengalami rangkaian erupsi tipe Strombolian secara berkala erupsi yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

Puncak intensitas gunung tersebut terjadi pada 4—6 September 2026. Pada 4 September pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau memasuki fase erupsi menerus disertai semburan lava. Fenomena yang menurut pengamat gunung api tercatat sebagai intensitas tertinggi sejak status siaga ditetapkan.

Kelahiran Anak Krakatau menunjukkan bahwa letusan besar tahun 1883 bukanlah akhir dari sejarah Krakatau. Dari kehancuran kompleks vulkanik tersebut, sebuah gunung api baru justru tumbuh dan terus berkembang hingga saat ini.

Aktivitasnya pada 2026 menjadi pengingat bahwa Gunung Anak Krakatau masih merupakan bagian dari sistem vulkanik yang aktif di Selat Sunda. Hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah letusan tahun 1883 akan terulang kembali?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.