Badan Informasi Geospasial (BIG) memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menggunakan teknologi citra satelit seiring dengan terjadinya erupsi sejak Sabtu, 5 September 2026. Pemantauan Sentinel-2 ini dilakukan pasca-erupsi kuat akhir pekan lalu guna memetakan sebaran abu secara akurat.
Langkah ini diambil pemerintah untuk melengkapi data pengamatan langsung di lapangan. Fungsinya, untuk mendapatkan visualisasi data dari angkasa guna mempermudah pelacakan sebaran abu secara efisien.
Aktivitas gunung tersebut tercatat terus meningkat sejak awal Agustus hingga memuncak pada Sabtu lalu. Dampak sebaran abu bahkan sempat mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada hari berikutnya.
Direktur Pemetaan Tematik BIG Gatot Haryo Pramono menyatakan teknologi ini sangat melengkapi data kebencanaan. Apalagi, rangkaian citra berkala ini mampu merekam jelas kronologi perubahan kondisi fisik dari tenang hingga meletus
"Penginderaan jauh memungkinkan kita melihat perubahan suatu wilayah dari waktu ke waktu. Melalui perbandingan citra, perkembangan suatu fenomena dapat terdokumentasikan secara visual dan memberikan informasi spasial yang melengkapi hasil pengamatan di lapangan," terangnya.
Ia menambahkan bahwa hasil pemetaan ini berperan penting dalam mendukung ketahanan infrastruktur nasional.
"Data satelit bukan untuk menggantikan pengamatan dan informasi dari instansi yang berwenang, tetapi menjadi informasi pendukung yang memperkaya pemahaman kita terhadap suatu kejadian. Dengan mengintegrasikan data geospasial dan informasi kebencanaan lainnya, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perubahan dan dampaknya," imbuhnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


