pelabuhan tanjung priok - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok, Kisah Pelabuhan yang Menggerakkan Jakarta

Dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok, Kisah Pelabuhan yang Menggerakkan Jakarta
images info

Dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok, Kisah Pelabuhan yang Menggerakkan Jakarta | Pelindo


Hari ini Pelabuhan Tanjung Priok identik dengan deretan kapal raksasa, tumpukan peti kemas warna-warni, serta hiruk-pikuk aktivitas bongkar muat yang tak pernah tidur. Pemandangan sibuk dari lalu lintas perdagangan laut inilah yang terus menggerakkan perekonomian ibu kota.

Menariknya, jika Kawan GNFI memutar waktu kembali ke masa lampau, Jakarta ternyata pernah menumpukan roda kehidupannya pada pelabuhan tua yang kala itu mulai kewalahan menghadapi laju perkembangan zaman.

Kehadiran pelabuhan di pesisir Jakarta ini sendiri bukanlah sekadar pergantian nama dari pelabuhan lama yang sudah ada sebelumnya. Kawasan maritim yang baru ini memang sengaja dikembangkan untuk mengambil alih sebagian besar fungsi utama pendahulunya, menyusul arus lalu lintas kapal yang kian padat pada akhir abad ke-19.

Memangnya, mengapa Batavia saat itu tampak begitu terdesak membutuhkan gerbang laut yang baru, dan bagaimana perlahan kawasan ini merajut ceritanya menjadi pusat perdagangan terbesar di Nusantara? Mari kita gali jawabannya bersama!

baca juga

Ketika Sunda Kelapa Tak Lagi Cukup Menampung Denyut Perdagangan Batavia

Pelabuhan Sunda Kelapa, Pendahulu Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta | Indonesia Kaya
info gambar

Pelabuhan Sunda Kelapa, Pendahulu Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta | Indonesia Kaya


Banyak orang yang masih penasaran dan bertanya, Pelabuhan Tanjung Priok dulu namanya apa?

Jawabannya: Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan yang sepenuhnya baru, yang dibangun untuk menggantikan peran pelabuhan utama Batavia yang saat itu dipegang oleh Pelabuhan Sunda Kelapa.

Jadi, pelabuhan ini tidak berganti nama atau melakukan rebranding ya, Kawan. Namun, memang pelabuhan baru di tempat yang berbeda.

Nah, menurut Indonesia Kaya, sebagai gerbang laut lama yang eksis sejak abad ke-12 di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara hingga Kerajaan Sunda, Sunda Kelapa dulunya adalah titik kumpul transaksi rempah-rempah dunia.

Namun, memasuki abad ke-19, peta perdagangan laut berubah drastis. Dikutip dari jurnal karya Tundjung, dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869 membuat kesibukan Pelabuhan Batavia semakin meningkat. Lalu lintas pelayaran perdagangan melesat, sementara kondisi perairan di muara Sunda Kelapa mulai mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur. Pelabuhan lama tersebut menjadi terlalu kecil dan dangkal untuk dimasuki kapal-kapal uap generasi baru yang berukuran raksasa.

Meski begitu, pelabuhan Sunda Kelapa tidak lantas mati. Keduanya tetap hidup, tetapi memikul fungsi yang berbeda. Hingga hari ini, pelabuhan tua tersebut masih beroperasi dan berjarak sekitar 9 kilometer di sebelah barat Tanjung Priok.

Dari Pesisir Utara Batavia, Tanjung Priok Mulai Dibangun

Sejarah Pembangunan Tanjung Priok, Ada Kisah Ulama dan Periuknya | Pemkot Jakarta Utara
info gambar

Sejarah Pembangunan Tanjung Priok, Ada Kisah Ulama dan Periuknya | Pemprov Jakarta


Melihat kondisi yang terjadi pada Pelabuhan Sunda Kelapa, sejarah pembangunan Tanjung Priok pun dimulai. Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun pelabuhan laut dalam yang baru.

Laman Pemkot Jakarta Utara berbagi bahwa pembangunan tahap awal Pelabuhan Tanjung Priok dilakukan oleh Gubernur Jenderal Johan Wilhelm Van Lansberge pada tahun 1877 dan selesai pada tahun 1886. Pembangunan kawasan ini terus berlanjut secara bertahap, termasuk dengan didirikannya Stasiun Tanjung Priok pada 1914-1925 untuk mendukung mobilitas dan distribusi logistik pelabuhan.

Di balik kemegahan infrastrukturnya, asal-usul penamaan kawasan ini juga tidak lepas dari cerita tutur masyarakat lokal.

Dikutip dari Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemkot Jakarta Utara, nama Tanjung Priok kerap dikaitkan dengan kisah Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad, seorang ulama penyebar agama Islam yang juga kerap dipanggil Habib.

Konon, saat dikejar oleh Belanda, kapalnya tergulung ombak besar. Beliau kemudian wafat dan peninggalan yang ditemukan di sekitarnya hanyalah sebuah periuk (alat masak) dan dayung. Artikel lain milik Pemkot Jakarta Utara juga menyinggung bahwa ditemukan beberapa liter beras yang bertebaran.

Nah, penemuan dayung dan periuk di samping si Habib ini yang kemudian diyakini menjadi asal-usul nama Tanjung Priok.

Dari Dermaga hingga Peti Kemas, Wajah Tanjung Priok Terus Berubah

Seiring berjalannya waktu, fasilitas Pelabuhan Tanjung Priok terus berevolusi merespons teknologi pelayaran. Secara konseptual, fasilitas di pelabuhan ini dikategorikan menjadi beberapa area vital, mulai dari dermaga, kolam pelabuhan, terminal peti kemas, lapangan penumpukan, gudang, hingga berbagai peralatan bongkar muat.

Fasilitas-fasilitas ini terbagi untuk melayani barang umum (general cargo), barang dalam karung (bag cargo), curah cair, curah kering, dan tentu saja peti kemas.

Transformasi ini sangat terlihat jika membandingkan kondisi masa lalu dengan era modern. Bila dulu barang diangkut secara konvensional, kini teknologi Container Terminal Management System menjadi standar.

Rencana pengembangan pelabuhan pun terus berjalan, salah satunya mencakup pembangunan Terminal Kalibaru sebagai bagian tak terpisahkan dari ekspansi kawasan. Bahkan, adaptasi terbaru terlihat pada Agustus 2026 lalu ketika Pelindo mengumumkan melalui Instagram resminya bahwa mereka melakukan soft launching Terminal 2 Petikemas yang dilengkapi dermaga sepanjang 517,5 meter dan lapangan penumpukan seluas 98.700 m² berkapasitas ribuan TEUs.

baca juga

Dulu Gerbang Batavia, Kini Simpul Logistik Indonesia

Jika kita menilik fungsi Pelabuhan Tanjung Priok dulu dan sekarang, terjadi pergeseran peran yang sangat signifikan.

Pada masa kolonial, pelabuhan ini adalah gerbang utama mobilitas Batavia. Ia menjadi saksi bisu kedatangan para pegawai baru dari Eropa, tentara, hingga kapal-kapal yang memuat komoditas bumi Indonesia untuk dikapalkan ke Belanda.

Di era modern, fungsinya meluas menjadi simpul logistik Indonesia dan tulang punggung perekonomian nasional.

Bayangkan perjalanan sederhana sebuah produk elektronik dari luar negeri: barang tiba di atas kapal raksasa, dibongkar menggunakan crane di terminal peti kemas, dititipkan sementara di lapangan penumpukan, sebelum akhirnya didistribusikan melalui jaringan transportasi darat menuju kawasan-kawasan industri. Kelancaran di pelabuhan ini berdampak langsung pada murah atau mahalnya biaya logistik barang yang Kawan GNFI beli sehari-hari.

Di Mana Pelabuhan Tanjung Priok Berada?

Di Mana Pelabuhan Tanjung Priok Berada dan Perusahaan Mana yang Mengurusnya? | Pelindo
info gambar

Di Mana Pelabuhan Tanjung Priok Berada dan Perusahaan Mana yang Mengurusnya? | Pelindo


Mengingat perannya yang masif, Kawan GNFI mungkin bertanya-tanya soal lokasi Pelabuhan Tanjung Priok. Secara administratif, pelabuhan ini membentang luas di pesisir Jakarta Utara. Adapun alamat resminya berada di Jalan Raya Pelabuhan No. 9, Tanjung Priok, Jakarta Utara 14310.

Penting untuk dipahami bahwa pelabuhan ini bukanlah sebuah gedung tunggal dengan satu pintu masuk. Lokasi ini merupakan kawasan maritim terorganisir yang terdiri dari banyak terminal, dermaga, kawasan logistik, dan area pandu kapal yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk Jakarta.

Tanjung Priok Milik Siapa dan Siapa yang Mengelolanya?

Dengan skala operasi sebesar itu, pelabuhan Tanjung Priok milik siapa sebenarnya?

Saat ini, pengelolaan pelabuhan berada dalam ekosistem PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pada tahun 2021, pemerintah melebur empat perusahaan Pelindo menjadi satu entitas besar guna mengefisienkan tata kelola logistik nasional.

Dalam struktur operasionalnya, Pelindo memiliki anak perusahaan (subholding), salah satunya adalah PT Pelabuhan Tanjung Priok. Perusahaan ini tidak hanya berperan krusial di pesisir utara Jakarta, tetapi juga mengelola 10 cabang pelabuhan lainnya yang tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa.

Kisah panjang dari Sunda Kelapa hingga Tanjung Priok hanyalah satu dari sekian banyak jejak sejarah peradaban Nusantara yang membentuk wajah Indonesia hari ini. Jangan lewatkan beragam artikel menarik lainnya yang merangkum pengetahuan budaya dan sejarah Nusantara hanya di Good News From Indonesia!

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.