Pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan perbaikan rumah dan fasilitas umum. Bagi anak-anak dan remaja yang mengalami langsung guncangan, kehilangan, serta ketidakpastian, proses untuk kembali merasa aman juga menjadi bagian penting dari pemulihan.
Melihat kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menghadirkan TEMAN SIAGA, sebuah program yang memberdayakan remaja sebagai peer support untuk memperkuat ketangguhan psikososial komunitas di wilayah rawan bencana.
Program tersebut dilaksanakan pada 3–6 September 2026 di dua sekolah menengah pertama di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Di sana, tim mendampingi siswa kelas 8 SMPN 1 Langke Rembong dan siswa kelas 9 UPT SMPN 5 Langke Rembong.
Program ini hadir dalam konteks pemulihan masyarakat Manggarai setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Gempa tersebut diikuti ribuan gempa susulan, menimbulkan puluhan korban jiwa di Kabupaten Manggarai, serta menyebabkan ribuan warga mengungsi.
Di tengah situasi tersebut, perhatian terhadap kondisi psikologis remaja menjadi penting. Karena itu, TEMAN SIAGA tidak menempatkan remaja semata-mata sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai bagian dari solusi. UNESA membekali mereka agar mampu mengenali tekanan psikologis pada diri sendiri dan teman sebaya, menjadi pendengar yang aman, serta memberikan dukungan awal.
Dari Siswa untuk Siswa
Dalam program TEMAN SIAGA, para siswa mendapatkan pelatihan mengenai ketangguhan menghadapi bencana, pengenalan respons psikologis pascabencana, keterampilan menjadi teman yang aman untuk bercerita, membangun empati, serta cara berkomunikasi untuk menunjukkan dukungan kepada teman yang mengalami tekanan psikologis.
Materi tidak diberikan melalui ceramah semata. Mereka menggunakan empat pendekatan, yakni penyampaian materi secara langsung, permainan kelompok, simulasi, dan lembar refleksi. Dengan pendekatan tersebut, siswa diajak tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mempraktikkan bagaimana merespons teman yang sedang mengalami tekanan.
Dr. Wiryo Nuryono, salah satu anggota Tim PKM UNESA, mengatakan kedekatan emosional antarremaja menjadi salah satu kekuatan pendekatan peer support.
“Remaja memiliki kedekatan emosional yang unik dengan teman sebayanya. Melalui permainan kelompok dan simulasi, kami melatih mereka agar mampu menjadi pendengar yang baik dan pendukung pertama bagi teman-temannya saat menghadapi tekanan psikologis pascabencana.”
Menurut Wiryo, pelatihan tersebut membekali siswa dengan kemampuan mendengarkan aktif, mengenali tanda-tanda stres pada teman sebaya, dan memberikan dukungan awal sebelum persoalan dirujuk kepada guru bimbingan dan konseling maupun tenaga profesional.
Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa dukungan psikososial tidak selalu harus dimulai dari ruang konseling. Dalam keseharian di sekolah, seorang teman dapat menjadi orang pertama yang menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja pada temannya.
Namun, peran tersebut bukan untuk menggantikan psikolog, konselor, atau tenaga profesional. Remaja yang dilatih justru diposisikan sebagai pendukung awal yang mampu mendengarkan, memberikan rasa aman, mengenali tanda-tanda tekanan, dan membantu menghubungkan temannya dengan bantuan yang lebih tepat ketika diperlukan.
Membangun Ketangguhan sebelum Bencana Datang
Bagi Tim PKM UNESA, ketangguhan psikososial tidak semestinya dibangun hanya setelah bencana terjadi.
Sekolah punya posisi strategis sebagai ruang aman bagi remaja untuk memproses pengalaman sulit dan membangun kapasitas pemulihan. Karena itu, kesiapsiagaan psikososial perlu diperkenalkan sejak dini agar siswa memiliki bekal ketika menghadapi situasi krisis di masa mendatang.
Pendekatan teman sebaya juga dinilai dapat membantu siswa lebih terbuka karena mereka berinteraksi dengan teman yang telah mendapatkan pembekalan, bukan semata-mata dengan orang dewasa yang dalam situasi tertentu dapat terasa lebih berjarak.
Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) UNESA, Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, S.Ag., M.Ag., mengapresiasi pelaksanaan TEMAN SIAGA sebagai bagian dari kontribusi UNESA bagi masyarakat di wilayah rawan bencana.
“Program ini menunjukkan bahwa UNESA hadir tidak hanya melalui bantuan material, tetapi juga melalui penguatan kapasitas psikososial masyarakat secara berkelanjutan. Kami berharap remaja di Manggarai dapat menjadi agen ketangguhan bagi komunitasnya sendiri,” ujar Mutimmatul Faidah.
Tim PKM UNESA berharap TEMAN SIAGA tidak berhenti sebagai program pendampingan di dua sekolah tersebut. Model pemberdayaan remaja sebagai peer support diharapkan dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain, khususnya di wilayah yang memiliki risiko bencana, sehingga semakin banyak remaja memiliki keterampilan untuk saling mendukung di lingkungan sekitarnya.
Melalui TEMAN SIAGA, remaja Manggarai belajar bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, seorang teman bisa menjadi tempat pertama untuk menemukan kembali rasa aman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


