Sinetron Si Doel Anak Sekolahan pernah menjadi fenomena dalam sejarah pertelevisian Indonesia. Sejak mengudara pertama kali di RCTI pada 16 Januari 1994, sinetron satu ini sukses mengambil hati pemirsa tanah air lewat drama kehidupan, komedi, dan percintaan dari sudut pandang keluarga anak Betawi.
Bukti kesuksesan Si Doel Anak Sekolahan bisa dilihat pada tahun itu juga lewat penghargaan yang diganjar oleh aktor, aktris, dan seluruh kru yang terlibat. Pada 7 Oktober, sinetron ini sukses memborong empat penghargaan Vista TV dalam acara penganugerahan di Hotel Ibis, Jakarta. Rano Karno sang pemeran tokoh Kasdullah alias Doel diganjar sebagai aktor terbaik, Benyamin S pemeran Babeh Sabeni didaulat sebagai aktor komedi terbaik, lalu sisanya Si Doel Anak Sekolahan diberi predikat Drama Komedi Terbaik dan Sinetron Terpuji.
Acara penganugerahan dihadiri seluruh aktor dan aktris yang terlibat dalam Si Doel musim pertama. Salah satu yang hadir tentu Benyamin di mana saat diberikan kesempatan berpidato ia menyuarakan bahwa Si Doel tidak hanya milik orang Betawi, tetapi juga Indonesia.
Napas-napas budaya dan tradisi ke-Betawi-an memang teramat kental disuguhkan Rano Karno selaku aktor sekaligus sutradara. Namun, di tengah masyarakat Betawi itu juga muncul tokoh yang mewakili suku lain yang membuat nuansa ke-Indonesia-an begitu kuat.
Melalui dialog yang lekat dengan keseharian orang kampung serta perkotaan membuat Si Doel lebih hidup dan mudah diingat. Untuk meramu kisah itu sendiri tidak hanya menjadi tugas Rano Karno, karena ada sosok lain di baliknya yaitu Harry Tjahjono sebagai penulis skenario cerita.
Peran Ida Farida
Awal kemunculan Si Doel Anak Sekolahan sekelebat tapi berkesan. Episodenya hanya enam di mana episode dengan judul “Ade Cinte, Ade Budhi” tayang pada 27 Februari. Kisah Si Doel ditutup dengan Doel yang sukses mendapat gelar sarjana dan diwisuda. Pemirsa yang terpikat dengan sinetron ini pun saat itu bertanya-tanya akankah Si Doel ada kelanjutannya?
“Rasanya memang sayang jika sinetron yang sudah mendapat pengakuan masyarakat itu harus berakhir dengan enam episode,” tulis Fredo dari surat kabar Kedaulatan Rakjat dalam artikel “Lanjutan Si Doel Anak Sekolahan Diharap Tak Menggurui dan Akrab” terbitan 6 Maret 1994.
Wagub DKI Jakarta, Rano Karno turut hadir dalam peluncuran buku "Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung" yang ditulis Harry Tjahjono (tengah). (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
Orang-orang Indonesia era itu mungkin mengingat betul peranan besar Rano Karno, Benyamin, Mandra, hingga Aminah Cendrakasih dalam membuat Si Doel populer. Namun, tentu yang amat disayangkan otak utama di balik cerita Si Doel justru tidak terlalu dikenal namanya.
Sebelum Harry Tjahjono mengambil peran untuk mengembangkan cerita, terdapat Ida Farida sebagai penggarap skenario episode awal-awal Si Doel. Sosok kelahiran Rangkasbitung yang pada 3 September 2026 telah berpulang ini pada kurun waktu 1985-1989 pernah bermukim di Malaysia dan diakui di dunia perfilman Negeri Jiran.
Harry Tjahjono Bikin Si Doel Semakin Hidup
Selepas Ida Farida pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia, skenario Si Doel Anak Sekolahan lalu digarap oleh Harry Tjahjono. Kisah Si Doel yang minimalis menjadi kian mengembang dengan banyak tokoh dari latar belakang berbeda yang bermunculan.
Elemen-elemen suasana kampung pun semakin dihidupkan. Pemirsa di rumah dari layar televisinya bisa mendengar kicau burung, kokokan ayam jago, gema siaran radio, gurauan ibu-ibu yang sedang berinteraksi sambil kredit barang-barang rumah tangga, menjadi suara-suara yang kerap membuat sinetron Si Doel Anak Sekolahan lebih dekat dengan kehidupan.
“Seorang Harry Tjahjono-lah yang bisa menemukan Karyo, Atun, Zaenab, Pak Bendot, Rodiyah, Engkong Tile, Engkong Caak. Jadi Harry Tjahjono yang menciptakan kampung di Si Doel,” kata Rano Karno, pemeran Doel yang kini Wakil Gubernur DKI Jakarta dalam acara peluncuran buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono di Perpustakaan H.B. Jassin, Jakarta, pada Jumat (11/9/2026).

Buku karya Harry Tjahjono satu ini mengupas proses kreatif dirinya dalam mengembangkan semesta Si Doel Anak Sekolahan yang mempertahankan nuansa kampungnya. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
Terdapat 78 episode yang digarap Harry Tjahjono untuk sinetron Si Doel. Dari puluhan itu, ia terus membuat latar cerita kampung dan nyambung dengan orang yang umumnya tinggal di perkampungan pinggiran ibu kota. Kesetiaan itulah yang membuat Rano Karno menilai Si Doel unik karena yang ditampilkan tidak dapat ditiru sinetron zaman sekarang.
“Si Doel ini menarik. Yang sangat kehilangan kita adalah kampung. Sedih saya melihat tontonan kita nggak pernah ada nuansa kampung. Saya nggak menganggap Si Doel itu baik, tapi Si Doel itu hidup. Ibu bapak akan mendengar atmosfer suara radio RRI, ada ayam, ada burung, lagu dangdut. Kesannya di rumah Si Doel kayak ada di dalam kampung. Nonton sinetron sekarang, ibu nggak akan dapat suasana kampung. Itulah yang hilang, menurut saya itu kamuflase paling nggak jujur. Makanya saya bilang, ‘Yuk kita hidupkan kampung lagi!’,” ucap Rano.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

