Bagi sebagian perusahaan, digitalisasi mungkin masih terdengar seperti istilah yang berkaitan dengan komputer, aplikasi, atau penggunaan internet. Padahal, perubahan yang terjadi ketika sebuah bisnis mulai menggunakan teknologi digital sebenarnya jauh lebih luas. Cara mencatat pekerjaan, menyimpan data, mengelola persediaan, melayani pelanggan, hingga mengambil keputusan dapat ikut berubah.
Kawan GNFI mungkin pernah melihat perubahan sederhana di lingkungan kerja. Pencatatan yang sebelumnya dilakukan menggunakan buku mulai berpindah ke komputer. Data yang dahulu tersimpan dalam banyak dokumen mulai ditempatkan dalam sistem digital. Informasi penjualan yang sebelumnya harus dikumpulkan secara manual mulai dapat dilihat melalui sebuah aplikasi.
Perubahan seperti ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya tentang mengganti alat kerja lama dengan perangkat yang lebih baru. Lebih dari itu, digitalisasi berkaitan dengan bagaimana teknologi digunakan untuk membuat proses kerja menjadi lebih teratur, terhubung, dan mudah dipantau.
Digitalisasi Mulai dari Perubahan Cara Kerja
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia terus mengalami perubahan. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia pada 2024 mencapai 6,02, meningkat dari 5,90 pada 2023.
BPS juga melakukan pendataan mengenai pemanfaatan TIK oleh perusahaan, termasuk penggunaan komputer, internet, situs web, dan jaringan internal perusahaan.
Data tersebut menunjukkan bahwa teknologi sudah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Namun, keberadaan perangkat dan koneksi internet saja belum otomatis membuat sebuah bisnis menjadi lebih efektif.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam proses sehari-hari.
Sebuah perusahaan misalnya dapat menggunakan sistem digital untuk mencatat transaksi. Pada tahap berikutnya, data transaksi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui produk yang paling banyak terjual. Data persediaan kemudian dapat dibandingkan dengan penjualan sehingga perusahaan memiliki gambaran mengenai kebutuhan stok.
Dalam kondisi seperti ini, satu perubahan kecil dapat menghasilkan perubahan pada proses lainnya. Data tidak lagi hanya menjadi catatan, tetapi mulai digunakan sebagai dasar untuk memahami kondisi perusahaan.
Ketika Data Tidak Lagi Berdiri Sendiri
Salah satu tantangan yang muncul ketika aktivitas bisnis semakin banyak adalah jumlah data yang ikut bertambah.
Data pelanggan dapat tersimpan di satu tempat, informasi persediaan berada di tempat lain, sementara laporan penjualan dan data sumber daya manusia mungkin dikelola menggunakan sistem yang berbeda. Jika tidak dikelola dengan baik, teknologi yang seharusnya membantu justru dapat membuat informasi semakin terpisah.
Karena itu, perkembangan sistem digital juga mengarah pada kebutuhan untuk menghubungkan berbagai aktivitas.
Dalam sebuah perusahaan, kebutuhan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada sistem yang digunakan untuk mengelola sumber daya manusia, ada yang membantu mengatur persediaan dan pergudangan, sementara sistem lainnya digunakan untuk penjualan, pelanggan, keuangan, atau operasional.
Konsep inilah yang membuat sistem informasi semakin penting dalam aktivitas bisnis. Teknologi tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan informasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menghubungkan berbagai proses yang sebelumnya berjalan secara terpisah.
Di Indonesia, perkembangan ekosistem teknologi juga melahirkan banyak perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan sistem digital. Digisentra, misalnya, merupakan salah satu perusahaan teknologi yang mengembangkan berbagai sistem digital untuk kebutuhan bisnis.
Kehadiran perusahaan-perusahaan semacam ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap teknologi tidak berhenti pada penggunaan perangkat, tetapi berkembang menuju kebutuhan akan sistem yang sesuai dengan proses kerja masing-masing organisasi.
Digitalisasi Bukan Berarti Semua Harus Serba Otomatis
Ada anggapan bahwa digitalisasi berarti seluruh pekerjaan manusia harus digantikan oleh teknologi. Padahal, tujuan digitalisasi tidak selalu demikian.
Dalam banyak situasi, teknologi justru digunakan untuk membantu manusia melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan pencatatan berulang dapat disederhanakan.
Informasi yang sebelumnya harus dicari dari banyak dokumen dapat ditampilkan dalam satu sistem. Laporan yang sebelumnya membutuhkan waktu lama untuk dibuat dapat diproses dengan lebih cepat.
Manusia tetap memiliki peran penting, terutama dalam menentukan tujuan, memahami kondisi, mengambil keputusan, dan memastikan teknologi digunakan sesuai kebutuhan.
Karena itu, keberhasilan digitalisasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan. Kesiapan sumber daya manusia, proses kerja, keamanan data, dan kemampuan organisasi untuk beradaptasi juga memiliki peran yang tidak kalah penting.
Kementerian Komunikasi dan Digital menekankan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya membangun jaringan atau menyediakan infrastruktur. Transformasi tersebut harus berlangsung secara menyeluruh agar dapat memberikan manfaat, menghasilkan nilai tambah, dan tetap dilakukan dengan memperhatikan keamanan serta kepercayaan di ruang digital.
Dari Menggunakan Teknologi menjadi Memanfaatkannya
Perjalanan digitalisasi sebuah bisnis pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang dimiliki. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar membantu menyelesaikan persoalan yang ada.
Sebuah perusahaan mungkin memiliki banyak perangkat dan aplikasi, tetapi jika data masih tersebar, pekerjaan masih harus dilakukan berulang kali, dan informasi sulit digunakan untuk mengambil keputusan, maka manfaat digitalisasi belum sepenuhnya dirasakan.
Sebaliknya, sistem yang sederhana tetapi sesuai kebutuhan dapat memberikan dampak yang lebih besar.
Hal tersebut menjadi semakin relevan ketika pemerintah juga mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi. Komdigi menyebut adopsi teknologi digital pada berbagai sektor, termasuk manufaktur, pertanian, logistik, dan keuangan, memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada akhirnya, digitalisasi bukan sekadar perpindahan dari kertas ke layar. Perubahan yang lebih penting terjadi pada cara sebuah organisasi mengelola informasi, menjalankan pekerjaan, dan mengambil keputusan.
Teknologi hanyalah alat. Nilai sebenarnya muncul ketika alat tersebut digunakan untuk membuat proses menjadi lebih baik dan membantu manusia bekerja dengan lebih efektif.
Bagi dunia usaha di Indonesia, perjalanan tersebut masih terus berlangsung. Seiring bertambahnya kebutuhan dan kompleksitas bisnis, teknologi kemungkinan akan semakin terintegrasi dengan aktivitas sehari-hari. Tantangannya bukan lagi sekadar apakah sebuah perusahaan akan menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara tepat, aman, dan memberikan manfaat nyata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


