pramono lelaki pemburu jejak peradaban minangkabau - News | Good News From Indonesia 2026

Pramono, Lelaki Pemburu Jejak Peradaban Minangkabau

Pramono, Lelaki Pemburu Jejak Peradaban Minangkabau
images info

Prof. Pramono, S.S., M.Si., Ph.D. Foto: Repro AI


Debu menempel di permukaan kertas. Sebagian sudutnya menguning, beberapa lembar mulai rapuh, sementara aksara Arab Melayu di atasnya perlahan memudar dimakan usia. Di ruang teduh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Pramono, S.S., M.Si., Ph.D. justru melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada tumpukan kertas tua: jejak peradaban Minangkabau yang sedang berpacu melawan waktu.

Bagi orang lain, naskah itu mungkin tampak seperti benda usang yang tersisih dari kehidupan modern. Bagi Pramono, setiap lembar adalah kapsul waktu yang menyimpan cerita tentang raja dan keluarga bangsawan, pengobatan tradisional, sejarah masyarakat, hingga perjalanan tarekat Islam di Ranah Minang. Di sana, masa lalu tidak benar-benar mati; ia hanya menunggu seseorang membuka halaman demi halaman.

Ketertarikan itu bermula pada 2000, ketika Pramono masih mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas. Ajakan dosennya, Muhammad Yusuf, untuk melihat koleksi naskah peninggalan Kesultanan Inderapura di Pesisir Selatan menjadi perjumpaan yang kemudian mengubah arah hidupnya.

Ia berhadapan langsung dengan lembaran-lembaran tua yang selama bertahun-tahun disimpan sebagai pusaka. Rasa penasaran semakin menguat ketika ia memperoleh beasiswa penelitian dari Yayasan Pernaskahan Nusantara (Yanasa), membuka pintu menuju dunia pernaskahan yang kelak menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya.

baca juga

Semakin jauh ia menelusuri naskah, semakin jelas pula persoalan yang dihadapinya. Kekayaan manuskrip Minangkabau ternyata tersebar di berbagai rumah warga dan surau tua, sering kali berada dalam kondisi yang jauh dari ideal untuk sebuah warisan sejarah.

Maka dimulailah perjalanan panjang itu. Pramono keluar-masuk kampung, menyusuri pelosok Sumatra Barat, mendatangi surau-surau tua, dan mengetuk pintu rumah orang yang mungkin menyimpan satu atau dua naskah yang selama puluhan tahun tidak tersentuh.

Namun, perburuan manuskrip tidak sesederhana menemukan benda lama lalu membawanya ke ruang penelitian. Ada pintu yang tidak langsung terbuka, ada pemilik yang enggan berbicara, dan ada keluarga yang memandang naskah sebagai pusaka sakral yang tidak boleh sembarang dibaca.

Kecurigaan juga menjadi bagian dari perjalanan itu. Tidak sedikit pemilik naskah yang khawatir Pramono datang untuk membeli atau memperjualbelikan warisan keluarga mereka, sehingga kepercayaan harus dibangun perlahan, melalui percakapan dan pendekatan personal.

Pramono tidak datang dengan cara memaksa. Ia menjelaskan kondisi naskah, menunjukkan ancaman yang tidak selalu terlihat mata, dari kelembapan dan rayap hingga kertas yang terus menua, sambil meyakinkan pemilik bahwa nilai sebuah manuskrip justru dapat dijaga ketika keberadaannya terdokumentasi dengan baik.

Setelah izin diperoleh, pekerjaan sebenarnya baru dimulai. Bersama tim dan mahasiswa yang dibimbingnya, Pramono membersihkan debu, mencatat kondisi fisik, menyusun metadata, dan mendokumentasikan naskah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari ruang privat keluarga.

Ia kemudian berhadapan dengan persoalan lain: konservasi fisik membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Digitalisasi pun dipilih sebagai salah satu langkah paling cepat untuk mengamankan isi naskah sebelum kerusakan fisiknya menjadi semakin parah.

Gerakan yang awalnya berangkat dari perjalanan lapangan itu perlahan berkembang. Upaya tersebut kemudian terhubung dengan Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA), memperluas kerja dokumentasi manuskrip Minangkabau ke dalam jaringan pelestarian yang lebih besar.

baca juga

Lebih dari 1.300 bundel naskah Minangkabau akhirnya berhasil dialihmediakan ke bentuk digital. Lembaran yang sebelumnya hanya dapat disentuh oleh pemilik atau peneliti tertentu kini memiliki jejak digital yang memungkinkan kandungannya ditelusuri tanpa terus-menerus membuka naskah aslinya.

Pramono juga tidak ingin manuskrip berhenti sebagai objek yang disimpan di balik lemari. Ia menggagas Minangkabau Corner di Universitas Andalas, sebuah ruang yang mempertemukan naskah, penelitian, dan akses pengetahuan agar khazanah lama itu dapat dibaca dari sudut pandang yang lebih luas.

Dari halaman-halaman manuskrip, ia menemukan dunia lain yang tak kalah menarik. Melalui kajian tekstologi dan kodikologi, ragam hias atau iluminasi pada naskah-naskah lama ditelusuri bukan hanya sebagai ornamen, tetapi sebagai bagian dari jejak visual kebudayaan Minangkabau.

Ragam hias tersebut kemudian keluar dari halaman naskah dan menemukan bentuk baru. Motif dari iluminasi manuskrip dikembangkan menjadi motif batik Minangkabau, mempertemukan penelitian akademik dengan kreativitas budaya hingga menghasilkan karya yang memperoleh hak paten.

Pengakuan datang setelah perjalanan panjang itu. Pramono menerima Anugerah Kebudayaan Sumatra Barat dan penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atas kiprahnya dalam pelestarian naskah kuno, sementara gelar profesor menandai pencapaian akademiknya.

Namun, penghargaan bukanlah satu-satunya ukuran perjalanan tersebut. Jejak paling nyata dari pekerjaannya justru tersimpan dalam ribuan halaman yang kini memiliki kesempatan lebih panjang untuk bertahan dan dibaca.

Dua dekade lebih telah berlalu sejak perjumpaan pertamanya dengan naskah Inderapura. Dari ruang sunyi, jalan-jalan kampung, surau tua, hingga arsip digital, Pramono terus memburu serpihan ingatan yang nyaris hilang dari pandangan.

Di tangannya, naskah kuno tidak sekadar menjadi benda dari masa lalu. Ia menjadi pintu menuju dunia yang pernah hidup, ditulis, diwariskan, dan kini kembali menemukan jalan untuk berbicara kepada generasi yang jauh setelah penulis pertamanya tiada.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.