Kawan, tahukah kamu bahwa naskah asli proklamasi (klad) nyaris berakhir di tempat sampah? Kesibukan dan kepanikan dalam rangka menyiapkan kemerdekaan kala itu ternyata hampir membuang dokumen paling penting dalam sejarah.
Ya, malam itu, 17 Agustus 1945 dini hari, Sayuti Melik baru saja selesai mengetik ulang teks proklamasi. Konsep tulisan tangan Soekarno yang tadinya jadi acuan, ia tinggalkan begitu saja di dekat mesin tik. Ia pikir kertas itu sudah tidak diperlukan lagi.
"Tetapi ternyata anggapan saya salah. Saudara B.M. Diah ternyata memberikan perhatian terhadap konsep naskah tulisan Bung Karno tadi, mungkin beliau telah memikirkan untuk keperluan dokumentasi maka konsep itu diselamatkan," kata Sayuti Melik, seperti \ tercantum dalam Berdasarkan buku 17 Fakta Mencengangkan di Balik Kemerdekaan Indonesia karya Hendri F. Isnaeni (2015), yang dikutip dari Kompas.com.
Sayuti Melik sendiri sempat yakin naskah itu sudah berakhir di tempat sampah dan musnah. Untung ada Burhanudin Mohamad Diah alias B.M. Diah, wartawan yang malam itu berada di ruangan yang sama.
"Saya melihat teks asli itu tergolek di meja. Karena rasa gembira, teks asli itu terlupakan, kertas itu kemudian saya ambil, saya lipat baik-baik dan kemudian saya masukkan ke dalam kantong," kata B.M. Diah, dikutip dari sumber yang sama.
Dari kantong seorang wartawan, naskah itu lalu memulai perjalanan panjang, mulai dari 47 tahun disimpan pribadi, dibawa berkeliling dunia, sebelum akhirnya diserahkan kepada negara.
Setelah Diselamatkan, Kertas Itu Diserahkan ke Negara
Setelah bertahun-tahun disimpan, B.M. Diah kemudian menyerahkan naskah proklamasi asli itu kepada negara.
Menurut siaran pers ANRI bertanggal 16 Agustus 2022, B.M. Diah menyerahkan naskah tersebut kepada negara melalui Menteri Sekretaris Negara periode 1988–1998, Moerdiono. Moerdiono kemudian menyerahkannya kepada Kepala ANRI periode 1992–1998, Noerhadi Magetsari, untuk disimpan secara resmi di ANRI.
Sejak itu, naskah tersebut menjadi salah satu arsip paling dijaga di Indonesia. Yang menarik, setelah 80 tahun, naskah asli proklamasi masih awet dan saat ini disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Bagaimana Cara Menyimpan Kertas Selama Puluhan Tahun?
Kawan, secara kimia, kertas sebenarnya adalah material yang terus menua. Kertas tersusun terutama dari serat selulosa, dan dalam proses penuaan, rantai panjang selulosa bisa terputus akibat reaksi hidrolisis dan oksidasi.
Semakin banyak rantai selulosa yang terputus, semakin lemah kekuatan kertas. Yang tadinya lentur bisa jadi rapuh, warnanya berubah, bahkan bisa retak hanya karena disentuh.
Nah, yang bisa dilakukan manusia hanyalah memperlambat proses itu. Masalahnya, kondisi lingkungan di Indonesia juga berpotensi merusak kertas.
Salah satu ancaman terbesar bagi arsip kertas adalah keasaman. Menurut penjelasan ANRI, kertas dengan pH rendah cenderung lebih cepat rapuh dan rusak. Karena itu, konservator melakukan deasidifikasi, yaitu proses menetralkan asam pada kertas.
Deputi Bidang Konservasi Arsip ANRI, Kandar, menjelaskan bahwa deasidifikasi dilakukan untuk menetralkan asam yang merusak kertas sekaligus memberi perlindungan dari asam luar.
Ada juga lignin, komponen pada kayu yang biasa ikut terbawa dalam proses pembuatan kertas. Lignin rentan mengalami oksidasi dan perubahan warna saat terpapar cahaya. Inilah sebabnya kenapa buku-buku tua sering menguning.
Tak hanya itu, kelembapan tropis juga turut berperan menentukan ketahanan kertas. ANRI menyebut suhu dan kelembapan tinggi di Indonesia bisa memicu pertumbuhan serangga dan hama perusak arsip berbahan organik seperti kertas.
Menyimpan Naskah di Ruang Penyimpanan Khusus
Berbagai tantangan itu membuat ANRI dan para ahli benar-benar memperhatikan standar penyimpanan naskah.
Dalam pedoman ANRI, penyimpanan arsip kertas idealnya berada pada suhu sekitar 20°C dengan kelembapan relatif 50 persen plus-minus 5 persen. Untuk penyelenggaraan pameran arsip statis, ANRI merekomendasikan suhu 16–20°C dengan kelembapan relatif 45–55 persen.
Cahaya pun jadi musuh. Paparan cahaya, terutama radiasi ultraviolet, dapat memicu reaksi fotokimia yang mempercepat oksidasi dan perubahan warna pada kertas. Karena itu, pedoman ANRI menekankan agar arsip dijauhkan dari sinar matahari langsung, dan ruang penyimpanan berjendela dianjurkan memakai penyaring UV.
Jadi, kenapa naskah proklamasi tidak hancur setelah 81 tahun?
Kawan, panjang umur sebuah arsip adalah hasil interaksi antara sifat material, kondisi lingkungan, dan tindakan konservasi manusia yang konsisten.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


