mengapa kalimantan begitu hijau - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Kalimantan Begitu Hijau? Cerita Panjang Hutan Borneo dari Dulu hingga Kini

Mengapa Kalimantan Begitu Hijau? Cerita Panjang Hutan Borneo dari Dulu hingga Kini
images info

Mengapa Kalimantan Begitu Hijau? Cerita Panjang Hutan Borneo dari Dulu hingga Kini︱Sumber: Wikimedia Commons - Sergiobaffoni


Ada alasan mengapa Kalimantan begitu lekat dengan bayangan tentang hutan. Membayangkan pulau ini, orang mungkin akan melihat dalam pikirannya pepohonan tinggi yang tumbuh rapat, sungai panjang yang membelah daratan, serta satwa seperti orangutan yang bergerak di antara tajuk pepohonan. Bayangan itu bukan sepenuhnya keliru.

Kalimantan memang menjadi bagian penting dari bentang hutan tropis Pulau Borneo, salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati penting di Asia Tenggara.

Lantas, Kenapa di Kalimantan Banyak Hutan?

Kalimantan merupakan bagian dari Pulau Borneo yang berada di kawasan tropis dan dilintasi langsung oleh garis khatulistiwa. Air tersedia dalam jumlah melimpah melalui curah hujan yang tinggi, sementara suhu hangat memungkinkan proses fotosintesis dan pertumbuhan berlangsung sepanjang tahun.

Air hujan yang jatuh kemudian berinteraksi secara kompleks dengan struktur bentang alam. Jajaran pegunungan di bagian tengah Borneo berfungsi sebagai daerah tangkapan air utama. Dari sana, ribuan sungai mengalir menuju dataran rendah hingga pesisir, membentuk zonasi lingkungan yang sangat bervariasi di sepanjang alirannya.

Ada kawasan dengan tanah mineral yang subur, dataran yang tergenang periodik, rawa air tawar, bentangan gambut yang tebal, hingga wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Perbedaan kondisi abiotik inilah yang memungkinkan tumbuhnya beragam tipe ekosistem hutan.

Selain itu, Borneo memiliki sejarah geologi dan biogeografi yang sangat panjang. Perubahan iklim global dan fluktuasi permukaan laut pada masa lampau, pergerakan lempeng daratan, serta keterpisahan geografis selama jutaan tahun turut membentuk pola persebaran spesies yang unik. 

WWF mencatat bahwa Borneo merupakan rumah bagi 10 spesies primata, lebih dari 350 jenis burung, 150 jenis reptil dan amfibi serta 10.000 tanaman endemik dunia. Sebagian besar di antaranya merupakan spesies endemik yang hanya dapat ditemukan secara alami di Pulau Borneo.

baca juga

Di Balik Hijaunya Kalimantan, Hutan Seperti Apa yang Tumbuh?

Jika hutan Kalimantan dibayangkan hanya sebagai deretan pohon tinggi dan hijau, gambaran tersebut belum lengkap. Kalimantan memiliki berbagai tipe ekosistem hutan. Hutan hujan tropis memang menjadi salah satu karakter utama bentang alam Borneo, tetapi di dalamnya terdapat perbedaan berdasarkan ketinggian, jenis tanah, kondisi air, dan lokasi geografis.

Di dataran rendah, misalnya, terdapat hutan tropis yang selama berabad-abad menjadi habitat berbagai jenis pohon besar. Salah satu kelompok tumbuhan yang penting di kawasan ini adalah dipterokarpa, kelompok pohon yang mencakup meranti dan keruing. Naik ke wilayah yang lebih tinggi, kondisi berubah. Suhu menurun dan karakter vegetasi pun berbeda sehingga terbentuk hutan pegunungan.

Sementara itu, wilayah yang banyak dipengaruhi air memiliki ekosistem lain. Ada hutan rawa, yang berada pada kawasan dengan genangan air secara permanen atau berkala. Ada hutan rawa gambut, tempat lapisan bahan organik menumpuk selama waktu yang sangat panjang dalam kondisi jenuh air. Di pesisir dan muara sungai, terdapat hutan mangrove yang mampu hidup pada lingkungan air payau dan asin.

Hutan hujan tropis sendiri memiliki karakter yang khas. Pepohonan tinggi membentuk lapisan kanopi yang dapat menghalangi sebagian cahaya mencapai lantai hutan. Di bawahnya tumbuh pohon yang lebih kecil, semak, tumbuhan bawah, liana, serta berbagai tumbuhan yang memanfaatkan batang dan cabang pohon lain sebagai tempat hidup. Struktur bertingkat tersebut menciptakan banyak ruang ekologis.

Seekor burung dapat hidup di lapisan tajuk, sementara serangga dan organisme pengurai beraktivitas di lantai hutan. Primata menggunakan pepohonan sebagai jalur pergerakan. Pohon menghasilkan buah dan biji yang kemudian dimakan serta disebarkan oleh satwa.

Hutan Kalimantan yang Kaya dan Penuh Kehidupan

Di antara pepohonan Kalimantan, terdapat satwa yang keberadaannya sangat bergantung pada keberlanjutan hutan. Salah satunya adalah orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Bagi satwa arboreal seperti orangutan, keberadaan pepohonan bukan sekadar menyediakan tempat berlindung. Tajuk hutan menjadi ruang utama untuk bergerak, bersarang, dan mencari makanan. Ketika hutan terpecah, jarak antarpohon dan antarkawasan hutan menjadi hambatan serius bagi kelangsungan hidupnya.

Begitu pula dengan bekantan (Nasalis larvatus). Primata endemik berhidung panjang ini banyak ditemukan di kawasan pesisir, hutan mangrove, hutan rawa air tawar, serta habitat sepanjang tepi sungai. Keberadaan berbagai tipe habitat ini menunjukkan satu hal penting: keanekaragaman satwa Kalimantan berjalan beriringan dengan keragaman ekosistemnya.

Borneo juga merupakan rumah bagi berbagai jenis burung, termasuk rangkong yang berperan penting sebagai penyebar biji pohon hutan, serta ribuan jenis tumbuhan. Sebagian besar spesies tersebut memiliki persebaran terbatas dan menjadi bagian dari kekayaan biologis khas Borneo.

Kekayaan biologis tersebut membuat perubahan tutupan hutan memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas daripada sekadar berkurangnya jumlah pohon. Ketika sebuah kawasan hutan terfragmentasi, habitat menjadi lebih kecil dan terisolasi. Satwa yang membutuhkan wilayah jelajah (home range) luas kehilangan konektivitas antarhabitat.

Di sisi lain, perubahan vegetasi juga memengaruhi siklus tata air, stabilitas tanah, kapasitas penyimpanan karbon, hingga kehidupan masyarakat lokal yang bergantung pada sumber daya alam. Itulah mengapa memahami karakteristik hutan Kalimantan sangat penting sebelum melihat perubahan yang terjadi di dalamnya. Sebab, hutan yang hilang bukan sekadar hilangnya warna hijau di atas peta, ada sistem kehidupan kompleks yang ikut berubah di dalamnya.

baca juga

Hutan Kalimantan Dulu dan Sekarang, Seberapa Banyak yang Berubah

Banyak orang membayangkan bahwa seluruh Kalimantan pada masa lalu tertutup hutan lebat tanpa gangguan. Kenyataannya lebih kompleks. Sejarah lingkungan Borneo menunjukkan bahwa bentang alamnya selalu mengalami perubahan.

Namun, perubahan yang paling terasa dalam beberapa dekade terakhir datang dari aktivitas manusia. Pemukaan lahan dan pembangunan menyebabkan sebagian kawasan hutan berubah fungsi.

Meski demikian, perubahan tersebut tidak terjadi dengan pola yang sama di seluruh Kalimantan. Ada wilayah yang masih memiliki bentang hutan relatif utuh, terutama di bagian pedalaman. Di sisi lain, terdapat kawasan yang telah mengalami perubahan penggunaan lahan secara signifikan.

Karena itu, membandingkan hutan Kalimantan dulu dan sekarang tidak bisa dilakukan dengan narasi sederhana bahwa "dulu hijau, sekarang habis". Realitasnya jauh lebih beragam dan bergantung pada lokasi, periode waktu, serta jenis perubahan yang terjadi.

Seberapa Luas Kalimantan Sekarang?

Kalimantan masih bebentang hutan alam yang luas, meskipun kondisinya berbeda di setiap provinsi. Data Global Nature Watch mencatat Kalimantan Tengah memiliki sekitar 8,7 juta hektare hutan alam, Kalimantan Barat 6,9 juta hektare, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara masing-masing 6,3 juta hektare, serta Kalimantan Selatan sekitar 720 ribu hektare.

Pada 2025, kehilangan hutan alam tercatat sekitar 36 ribu hektare di Kalimantan Tengah, 24 ribu hektare di Kalimantan Barat, 29 ribu hektare di Kalimantan Timur, 17 ribu hektare di Kalimantan Utara, dan 2,2 ribu hektare di Kalimantan Selatan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa hutan masih menjadi bagian besar dari bentang alam Kalimantan, meski tingkat kehilangan hutan juga berbeda di setiap provinsi.

Ketika Hutan Berubah: Defortasi di Kalimantan

Deforestasi pada dasarnya adalah perubahan kawasan berhutan menjadi penggunaan non-hutan. Di Kalimantan, perubahan tutupan hutan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling bertautan.

Pembukaan lahan untuk perkebunan merupakan salah satunya. Kelapa sawit, misalnya, telah menjadi bagian penting dari sejarah perubahan penggunaan lahan di Indonesia dan Kalimantan. Hal ini dibahas dalam penelitian tinjauan sistematis (Systematic Literature Review) oleh Hamdani dkk. berjudul “Environmental Impacts of Palm Oil Cultivation: A Systematic Review of Carbon Emissions, Biodiversity Loss, and Land Use Change”.

Penelitian tersebut mengkaji hubungan antara ekspansi perkebunan kelapa sawit, emisi karbon dari pengeringan lahan gambut, hilangnya keanekaragaman hayati, serta dinamika perubahan penggunaan lahan. Hasil sintesis tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kelapa sawit memang berkontribusi terhadap deforestasi, tetapi tingkat dampaknya bervariasi bergantung pada wilayah, periode waktu, jenis lahan awal yang dikonversi, serta konsistensi penerapan kebijakan keberlanjutan.

Namun, menganggap sawit sebagai satu-satunya pendorong deforestasi akan mengabaikan kompleksitas bentang alam Kalimantan. Aktivitas pertambangan juga berkontribusi di sejumlah kawasan. Begitu pula pembangunan jalan dan infrastruktur yang membuka akses menuju wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Pembalakan kayu (logging) serta dinamika kebakaran lahan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang perubahan hutan Kalimantan.

baca juga

Khusus untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), persoalan ini menjadi sangat serius di ekosistem gambut. Lahan gambut yang masih basah secara alami relatif sulit terbakar. Namun, ketika gambut dikeringkan melalui pembuatan kanal atau drainase, kondisi tersebut berubah drastis. Saat musim kemarau tiba, lahan yang mengering menjadi sangat rentan terbakar.

Di sinilah faktor manusia dan alam bertemu. Kegiatan manusia menciptakan sumber api dan mengubah kondisi lanskap, sementara musim kering terutama yang bertepatan dengan fenomena El Nino yang menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran api.

Berbagai penelitian mengenai kebakaran di Indonesia menunjukkan hubungan kuat antara iklim kering dan peningkatan drastis kejadian kebakaran. Selain itu, riset di lanskap gambut Kalimantan memperlihatkan bahwa sumber api tidak dapat dijelaskan hanya dengan menunjuk satu jenis penggunaan lahan tertentu.

Artinya, penyebab perubahan hutan Kalimantan bukanlah sebuah pintu tunggal. Ada kebijakan tata ruang, kebutuhan ekonomi, pembukaan lahan, pengembangan infrastruktur, aktivitas ekstraktif, kondisi iklim, kebakaran, hingga faktor sosial yang saling berkelindan.

Dampaknya pun berlapis. Hutan yang terfragmentasi mengurangi konektivitas habitat satwa. Gambut yang dikeringkan kehilangan fungsi alami tata airnya. Kebakaran menghasilkan kabut asap dan melepaskan emisi karbon dalam skala besar. Sementara itu, hilangnya vegetasi meningkatkan risiko erosi serta mengganggu keseimbangan hidrologis kawasan.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, perubahan-perubahan ini menyentuh aspek-aspek paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari: ketersediaan air bersih, akses hasil hutan, keberlanjutan lahan, kualitas udara, hingga sumber penghidupan.

Kondisi Hutan Kalimantan Hari Ini dan Upaya Menjaganya

Kondisi hutan Kalimantan hari ini tidak bisa digambarkan hanya dengan satu kata. Tidak tepat menyebut seluruh lahannya telah rusak, tetapi juga keliru jika menganggap persoalan deforestasi telah usai.

Di satu sisi, masih terdapat bentang hutan luas dengan nilai ekologis tinggi. Di sisi lain, tekanan terhadap kawasan hutan dan penurunan kualitas ekosistem masih terus berlangsung. Oleh karena itu, upaya perlindungan tidak sebatas mencegah penebangan, melainkan juga memulihkan ekosistem terdegradasi, menjaga koridor satwa, mengelola gambut agar tetap basah, mencegah kebakaran, serta menyediakan alternatif ekonomi bagi masyarakat lokal.

Restorasi gambut menjadi salah satu bukti upaya pemulihan. Di Kalimantan Tengah, program pembasahan kembali lahan (rewetting) dan penutupan kanal terus dilakukan, seperti yang dilakukan Wetlands International bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) di wilayah eks-Proyek Lahan Gambut (PLG) Satu Juta Hektare.

Selain pemulihan fisik, pengelolaan berbasis masyarakat juga didorong melalui Perhutanan Sosial. Melalui skema Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Kemitraan Kehutanan, dan Hutan Adat, pemerintah telah mencatatkan akses kelola nasional mencapai sekitar 7,97 juta hektare hingga 2024, yang menjangkau lebih dari 1,36 juta kepala keluarga. Pendekatan ini menegaskan bahwa konservasi tidak harus memisahkan manusia dari lingkungan hidupnya.

Namun, pemberian hak kelola saja belum cukup. Keberhasilannya sangat bergantung pada pendampingan, kepastian hukum, akses pasar, dan pengawasan ketat agar nilai ekonomi berjalan sejajar dengan fungsi ekologis.

Pada akhirnya, menjaga hutan Kalimantan memerlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, peneliti, pengelola kawasan, masyarakat lokal, hingga pemanfaatan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) harus saling melengkapi. Tidak ada satu solusi tunggal untuk menjaga bentang alam seluas Kalimantan.

baca juga

Hutan Kalimantan Bukan Sekadar Warisan Masa Lalu

Sejarah ekologis Borneo yang panjang memungkinkan kehidupan berkembang dalam keragaman yang luar biasa. Namun, hutan yang ada sekarang bukan hanya hasil buatan alam semata.

Itulah sebabnya hutan Kalimantan dulu dan sekarang tidak bisa dilihat sebagai perbandingan yang sederhana. Ada hutan yang hilang, ada hutan yang tumbuh kembali, ada kawasan yang berubah menjadi mosaik penggunaan lahan, dan ada pula kawasan yang hingga kini masih menjadi benteng penting bagi keanekaragaman hayati.

Yang tersisa bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan ekosistem yang masih terus bekerja hari ini untuk menjadi habitat bagi orangutan, bekantan, burung, tumbuhan, serta membantu mengatur tata air, menyimpan karbon, dan menopang kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, hujan mungkin menjadi alasan mengapa pepohonan dapat tumbuh subur di Kalimantan, tetapi hujan tidak menentukan sendirian apakah hutan itu akan tetap ada. Di situlah cerita Kalimantan menjadi cerita manusia juga: tentang bagaimana sebuah lanskap yang dibentuk oleh alam selama rentang waktu yang sangat panjang akan diperlakukan oleh generasi yang hidup di dalamnya hari ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizkia Putri Fahira lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizkia Putri Fahira.

RP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.