Suatu siang di Jakarta Barat, saya menyusuri Jalan Haji Kelik yang biasanya identik dengan deretan pertokoan, permukiman, dan lalu lintas yang cukup padat. Namun, suasananya perlahan berubah ketika mendekati sebuah gerbang yang dinaungi pepohonan rindang. Begitu masuk ke kawasan tersebut, suara kendaraan mulai meredup, berganti dengan kicauan burung, desir angin di antara daun, dan aktivitas warga yang berjalan santai di jalur setapak.
Di tengah kawasan urban yang terus berkembang, keberadaan ruang hijau seluas lebih dari 15 hektare terasa seperti kejutan tersendiri. Jalan conblock yang membelah area hutan, danau yang membentang di bagian tengah, serta pepohonan tinggi yang menaungi kawasan menciptakan suasana yang berbeda dari kebanyakan sudut Jakarta Barat. Tempat itu adalah Hutan Kota Srengseng, salah satu ruang terbuka hijau terbesar di Jakarta Barat.
Menariknya, kawasan ini tidak terbentuk secara alami seperti hutan pada umumnya. Dahulu, lokasi ini merupakan tempat pembuangan sampah dengan sistem gali uruk (sanitary landfill). Pada 1994 kawasan tersebut mulai dialihfungsikan sebagai daerah resapan air, perlindungan plasma nutfah, area rekreasi, dan ruang aktivitas masyarakat sebelum kemudian ditetapkan melalui SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 202 Tahun 1995.
Hutan Kota Srengseng Ada di Mana?
Hutan Kota Srengseng berada di Kelurahan Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Lokasinya berada di Jalan Haji Kelik RT 8/RW 6, Srengseng, Jakarta Barat, tidak jauh dari kawasan permukiman dan pusat aktivitas warga di wilayah Kembangan.
Srengseng di Jakarta Barat dan Srengseng Sawah di Jagakarsa, Jakarta Selatan, merupakan dua wilayah yang berbeda. Akibat kemiripan namanya, masyarakat masih sering keliru mengenali kedua lokasi ini.
Dari jalan utama, akses menuju kawasan relatif mudah karena jalannya cukup lebar dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Di sekitar area juga terdapat permukiman warga serta akses menuju kawasan Kali Pesanggrahan yang menjadi salah satu elemen penting dalam sistem lingkungan wilayah Jakarta Barat.
Keberadaan ruang terbuka hijau seluas sekitar 15 hektare di tengah kawasan yang cukup padat menjadikan Hutan Kota Srengseng sebagai salah satu paru-paru kota yang penting bagi Jakarta Barat.
Sebelum berkunjung, pengunjung perlu mengetahui jam operasional kawasan ini. Berdasarkan informasi dari petugas Hutan Kota Srengseng, kawasan ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.
Khusus pada hari Minggu, Hutan Kota Srengseng biasanya sudah dapat dikunjungi mulai pukul 06.30 WIB untuk mengakomodasi warga yang berolahraga dan mengikuti kegiatan senam pagi di area parkir.
Sementara itu, beberapa sumber wisata mencantumkan jam operasional 06.00–18.00 WIB. Karena terdapat perbedaan informasi, pengunjung disarankan mengecek informasi terbaru kepada pengelola sebelum datang, terutama saat hari libur atau terdapat kegiatan khusus di kawasan hutan kota.
Dari Bekas Tempat Pembuangan Sampah menjadi Hutan Kota
Sebelum menjadi kawasan hijau seperti sekarang, area ini merupakan lokasi pembuangan sampah dengan sistem gali uruk atau sanitary landfill. Sistem tersebut merupakan metode pengelolaan sampah yang dilakukan dengan menimbun sampah ke dalam cekungan tanah lalu menutupnya kembali dengan lapisan tanah.
Seiring berkembangnya Jakarta dan meningkatnya kebutuhan ruang terbuka hijau, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menata kembali kawasan tersebut pada 1994. Fungsi utamanya diarahkan sebagai daerah resapan air, kawasan perlindungan plasma nutfah, sarana rekreasi, serta ruang aktivitas masyarakat.
Setahun kemudian, kawasan tersebut resmi ditetapkan sebagai hutan kota melalui SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 202 Tahun 1995.
Proses perubahan ini tentu tidak terjadi dalam waktu singkat. Penanaman berbagai jenis pohon dilakukan secara bertahap hingga akhirnya terbentuk ekosistem yang relatif stabil. Kini kawasan tersebut menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang hidup berdampingan dengan aktivitas masyarakat.
Transformasi Hutan Kota Srengseng menjadi contoh bagaimana lahan perkotaan yang sebelumnya memiliki persoalan lingkungan dapat dipulihkan dan dimanfaatkan kembali untuk kepentingan ekologis maupun sosial.
Seluas Apa Hutan Kota Srengseng?
Luas Hutan Kota Srengseng mencapai sekitar 15,3 hektare. Ukuran tersebut menjadikannya salah satu ruang terbuka hijau yang cukup besar di Jakarta Barat.
Dalam area seluas itu, pengunjung tidak hanya menemukan kumpulan pepohonan. Di dalam kawasan terdapat danau buatan, jalur jogging, area rekreasi, ruang terbuka untuk kegiatan komunitas, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Danau yang berada di dalam kawasan memiliki luas sekitar 3 hektare dan menjadi salah satu titik favorit pengunjung untuk bersantai maupun memancing.
Hutan Kota Srengseng juga memiliki tingkat keanekaragaman vegetasi yang cukup tinggi. Berbagai jenis pohon seperti akasia, ketapang, flamboyan, jati, dan mahoni tumbuh di kawasan ini. Selain pohon-pohon besar, terdapat pula perdu, tanaman penutup tanah, dan tanaman merambat yang membentuk struktur hutan bertingkat.
Keberadaan vegetasi yang padat membuat kawasan ini berperan penting dalam menyerap karbon dioksida sekaligus membantu menjaga kualitas udara di sekitarnya.
Ada Apa Saja di Hutan Kota Srengseng?
Saat berjalan menyusuri kawasan hutan, saya menemukan cukup banyak fasilitas yang dapat digunakan oleh pengunjung umum.
Jalur setapak yang sekaligus berfungsi sebagai jogging track menjadi area yang paling ramai digunakan. Banyak pengunjung datang untuk berjalan santai, berlari, atau sekadar menikmati suasana rindang di bawah pepohonan.
Di bagian tengah kawasan terdapat danau yang menjadi salah satu daya tarik utama. Beberapa pengunjung terlihat duduk di tepinya sambil menikmati suasana atau memancing ikan.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Hutan Kota Srengseng
- Jalan santai
- Jogging
- Bersantai di tepi danau
- Memancing
- Mengamati flora dan fauna
- Piknik ringan bersama keluarga
- Belajar mengenal berbagai jenis pohon
- Mengikuti kegiatan komunitas
Selain itu tersedia pula berbagai fasilitas pendukung seperti:
- Toilet
- Musala
- Area parkir
- Gazebo
- Pusat informasi
- Tempat sampah
- Taman bermain anak
- Danau
- Amphitheater atau panggung terbuka
- Area pembibitan tanaman
- Area panjat dinding (wall climbing)
Kawasan ini juga kerap dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas, pemotretan prewedding, hingga produksi konten dan syuting dengan ketentuan tertentu dari pengelola.
Bagi keluarga yang membawa anak-anak, area terbuka dan suasana yang relatif tenang menjadikan tempat ini cocok sebagai lokasi rekreasi murah tanpa harus meninggalkan Jakarta.
Apakah Masuk Hutan Kota Srengseng Bayar?
Ya, pengunjung dikenakan biaya masuk saat berkunjung ke Hutan Kota Srengseng.
Setiap pengunjung dikenakan tarif masuk berkisar Rp2.000 per orang. sementara tarif kendaraan umumnya berada pada kisaran:
- Motor: Rp2.000
- Mobil: Rp4.000
Karena tarif dapat berubah sewaktu-waktu, pengunjung sebaiknya mengonfirmasi informasi terbaru kepada pengelola sebelum datang.
Selain tiket masuk, biaya tambahan biasanya hanya berasal dari parkir kendaraan, pembelian makanan dan minuman, atau penggunaan fasilitas khusus seperti kegiatan prewedding dan syuting.
Cara ke Hutan Kota Srengseng
Bagi pengguna kendaraan pribadi, akses termudah adalah melalui Jalan Haji Kelik, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat. Pengunjung cukup menggunakan aplikasi navigasi dengan tujuan "Hutan Kota Srengseng" dan akan langsung diarahkan menuju gerbang utama. Area parkir tersedia untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sementara bagi pengguna transportasi umum, beberapa alternatif yang dapat digunakan antara lain:
| Moda | Titik Tujuan | Akses Lanjutan |
Transjakarta koridor 9 (Pinang Ranti-Pluit) | Halte Slipi Kemanggisan | Lanjut menggunakan angkota M24 atau JAK56 |
Transjakarta koridor 9A (Cililitan-Grogol) | Halte Grogol Reformasi | Keluar halte menuju area Terminal Grogol atau titik jemput angkutan di dekat Universitas Trisakti, lalu naik Mikrotrans JAK56 |
| Mikrolet M24 | Pertigaan Jalan H. Kelik/Jalan Srengseng Raya | Jalan kaki sekitar 200 hingga 250 meter menuju gerbang masuk. |
Mikrotrans JAK56 (Terminal Grogol-Srengseng) | Pemberhentian Hutan Kota Srengseng | Jalan kaki sekitar 100 meter menuju gerbang tiket masuk |
| Non-BRT 1M (Blok M-Meruya) | Pemberhentian dekat Srengseng Junction atau area perempatan Jalan Srengseng Raya | Jalan kaki sekitar 400 meter atau jika ingin lebih cepat, Anda bisa naik ojek online |
Bagi pengunjung yang tidak membawa kendaraan pribadi, ojek online sering menjadi pilihan paling praktis karena dapat mengantar langsung hingga pintu masuk kawasan.
Tips Menikmati Hutan Kota Srengseng
Agar kunjungan lebih nyaman, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan.
Pertama, gunakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat karena area yang dijelajahi cukup luas. Jika berencana berjalan jauh, gunakan sepatu olahraga atau alas kaki yang nyaman.
Kedua, bawalah lotion atau semprotan anti-nyamuk. Karena vegetasi di kawasan ini cukup rapat dan alami, nyamuk masih cukup mudah ditemui terutama pada pagi dan sore hari.
Ketiga, siapkan uang tunai secukupnya untuk tiket masuk dan kebutuhan lain. Tidak semua transaksi di sekitar kawasan tersedia dalam bentuk pembayaran digital.
Keempat, jika ingin lebih hemat, bawalah bekal makanan dan air minum sendiri sambil tetap menjaga kebersihan lingkungan.
Kelima, datanglah pada pagi atau sore hari ketika cuaca lebih teduh sehingga aktivitas berjalan kaki maupun olahraga terasa lebih nyaman.
Terakhir, selalu patuhi aturan yang berlaku. Jangan membuang sampah sembarangan, jangan merusak tanaman, dan awasi anak-anak terutama ketika berada di sekitar area danau.
Hutan Kota Srengseng menunjukkan bahwa ruang hijau perkotaan tidak selalu lahir dari kawasan alam yang sejak awal terjaga. Tempat ini justru memiliki cerita berbeda: sebuah lahan bekas tempat pembuangan sampah yang berhasil ditata ulang menjadi kawasan konservasi, daerah resapan air, habitat berbagai makhluk hidup, sekaligus ruang rekreasi masyarakat.
Di tengah kebutuhan Jakarta akan ruang terbuka hijau, keberadaan Hutan Kota Srengseng menjadi contoh bahwa pemulihan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan publik akan ruang berkumpul dan beraktivitas. Lebih dari sekadar destinasi wisata murah, kawasan ini adalah bukti bahwa perubahan fungsi lahan yang tepat dapat menghadirkan manfaat jangka panjang bagi kota dan warganya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


