si kecil gambir sumatra barat yang kuasai pasar dunia - News | Good News From Indonesia 2026

Si Kecil Gambir Sumatra Barat yang Kuasai Pasar Dunia

Si Kecil Gambir Sumatra Barat yang Kuasai Pasar Dunia
images info

Ilustrasi gambir kering hasil olahan petani, dicetak dalam bentuk silinder kecil sebelum dijual ke pengumpul. Foto: Si Gam/Wikimedia Commons (CC BY-SA


Adakah yang tahu kalau sebenarnya gambir itu nama tanaman? Mungkin sebagian dari Kawan lebih familier dengan Gambir sebagai nama stasiun kereta di Jakarta, ya. Padahal, sebenarnya ia adalah tanaman mungil yang lagi naik daun di dunia.

Dulunya, gambir adalah tanaman yang tumbuh subur di kawasan Jakarta. Saat masa kolonial, gambir menjadi salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan di sekitar wilayah tersebut. Kini, Sumatra Barat menjadi rumah bagi si kecil gambir yang dibudidayakan untuk diambil manfaatnya.

Mungkin, sebagian dari Kawan asing dengan si gambir, dan baru tahu kalau si mungil ini juga menguasai pasar dunia.

Ketika Gambir Mulai Kalah Saing di Tanah Sendiri

Sejak 1833–1930, gambir sudah menjadi salah satu komoditas yang diusahakan masyarakat di Lima Puluh Kota. Putri (2013) mencatat bahwa pada saat itu gambir menjadi komoditas yang penting sekaligus menjadi sumber mata pencaharian masyarakat sejak zaman kolonial.

Mudahnya proses budidaya, umur yang relatif panjang, serta tidak rentan terhadap penyakit membuat gambir menjadi pilihan masyarakat untuk dibudidayakan. Tanaman gambir juga tidak memerlukan tanah yang subur, cukup ditanam pada tempat yang mendapat cukup sinar matahari dan hujan.

Ironisnya, kini petani gambir di beberapa wilayah Sumatra Barat berniat melakukan alih fungsi lahan. Dilansir dari Bisnis.com (13/05/2026), banyak petani gambir di Pesisir Selatan yang mulai berminat melakukan alih fungsi lahan menjadi budidaya sawit, sebab menurut mereka budidaya sawit jauh lebih menjanjikan.

Di kondisi ekonomi yang serba mahal dengan pendapatan sebagai petani gambir yang relatif kecil, membuat mereka meragukan keberlanjutan usaha tani ini. Akibatnya, mereka berniat untuk menggeser lahannya menjadi perkebunan sawit.

Ternyata, pelan-pelan warisan yang punya potensi untuk berkembang jauh ini mulai kalah saing di kampung halamannya sendiri. Alih-alih meneruskan eksistensi si gambir, beberapa petani malah ingin pindah haluan menjadi petani sawit.

baca juga

Sumbar Diam-Diam Masih Jadi Raja Gambir Dunia

Di tengah keinginan petani gambir yang ingin bergeser menjadi petani sawit, sebenarnya, gambir masih jadi primadona di dunia. Sumatra Barat sendiri menjadi salah satu wilayah penting dalam produksi gambir Indonesia.

Dilansir dari Tabloidsinartani.com (14/01/2026), Indonesia menguasai 80% pasar gambir dunia. Sebagian besar gambir yang diekspor merupakan gambir mentah yang belum diolah.

Kabupaten Lima Puluh Kota dan Pesisir Selatan menjadi sentra utama produksi dan ekspor gambir di Sumatera Barat. Berdasarkan data BPS 2026, produksi gambir di Lima Puluh Kota pada tahun 2025 mencapai 30.516,9 ton. Gambir yang dihasilkan berupa gambir kering.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar, Novrial mencatat gambir yang diekspor dari Sumbar mencapai 13.482 ton dengan nilai 574,7 miliar pada tahun 2024. Negara tujuannya, di antaranya India, Pakistan, Jepang, Filipina, Bangladesh, dan Malaysia.

Hal yang cukup disayangkan, gambir masih diproduksi sebagai bahan mentah, padahal gambir memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan jadi yang lebih tinggi nilai jualnya, misalnya menjadi produk tanin sebagai bahan baku farmasi, kosmetik, hingga pewarna alami.

Nasrul et al. (2023) dalam penelitiannya tentang usahatani tanin menyebutkan pemanfaatan tanin berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan layak untuk dikembangkan.

Pengolahan tanin dapat memanfaatkan sisa pengolahan katekin gambir. Selain itu, bahan kimia tanin tidak berbahaya dan dapat dimanfaatkan untuk perekat kayu, penyamak kulit dan pewarna.

Nah, Kawan nyangka nggak kalau tanaman yang mulai dilupakan di negeri sendiri ini justru jadi andalan dunia?

baca juga

Gambir Sumbar yang Siap untuk Naik Panggung

Lalu, apakah masih ada jalan agar gambir tidak berhenti sebagai komoditas mentah? Sementara di Pesisir Selatan petani masih bergulat dengan harga rendah, di Limapuluh Kota justru mulai ada titik terang.

Pada Juli 2025, Lima Puluh Kota ditetapkan sebagai Desa Devisa Gambir pertama di Sumatera Barat oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Desa Devisa sendiri adalah program pendampingan yang menyasar lebih dari 11.000 petani di 8 kecamatan. Pendampingan ini diharapkan dapat membuka akses petani gambir menuju pasar ekspor, sehingga mereka tidak hanya bergantung pada penjualan melalui tengkulak.

Pemerintah pusat juga memberikan dorongan berupa pembangunan pabrik pengolahan. Adanya pabrik pengolahan gambir yang didirikan untuk agroindustri diharapkan dapat memberi nilai tambah dan harga jual yang lebih baik untuk petani gambir.

Tampaknya, belakangan gambir mulai mendapat perhatian lebih, ya. Gambir kini sedang diberi ruang untuk naik kelas. Semoga, dengan ini kesejahteraan petani gambir dapat meningkat.

Ternyata, gambir sebenarnya sudah punya eksistensi sejak masa kolonial ya, Kawan. Sebuah harta karun kecil yang keberadaannya sempat hampir tergeser. Harga jual yang relatif rendah menjadi alasan para petani gambir ingin pindah komoditas. Padahal potensinya cukup baik untuk dikembangkan lebih jauh, dan untungnya LPEI menyadari itu.

Kalau warisan sekecil daun gambir saja bisa menghidupi pasar dunia, kira-kira ada berapa banyak lagi kekayaan lokal di sekitar kita yang belum benar-benar kita kenal ya, Kawan?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.