kimpul dan tiktok panggung baru pangan lokal di mata gen z - News | Good News From Indonesia 2026

Kimpul dan TikTok, Panggung Baru Pangan Lokal di Mata Gen Z

Kimpul dan TikTok, Panggung Baru Pangan Lokal di Mata Gen Z
images info

Ilustrasi umbi-umbian lokal, sekeluarga dengan kimpul. Foto: Daniel Dan/Unsplash


“Karena saya tidak punya, saya ganti dengan kimpul.”

Apakah kamu salah satu di antara audiens yang mengetahui fenomena "Kimpul Viral" ini? Bahkan, banyak yang baru mengenal kimpul dan manfaatnya setelah dijadikan konten oleh seorang kreator asal Bantul, @black.sheep8208.

Sebagai informasi, kimpul masih sebangsa dengan umbi-umbian seperti talas, kentang, dan ubi, yang biasa kita makan sebagai sumber karbohidrat. Cara mengolahnya pun sederhana, bisa direbus atau dikukus.

Mengenal Sosok di Balik Kimpul yang Viral

Kimpul sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, eksistensinya sedang naik beberapa waktu belakangan. Seorang kreator asal Bantul, Bu Tin, yang kini dikenal sebagai Ibu Kimpul, melalui akun TikToknya sering mengenalkannya dengan caranya yang khas. Tujuannya untuk mengembangkan sumber daya pangan lokal yang cukup jarang dibudidayakan ini.

Ditilik dari manfaatnya dalam dunia kesehatan, kimpul punya nutrisi yang bagus loh, Kawan. Kimpul mengandung karbohidrat, serat pangan, vitamin C, vitamin B3, kalium, tembaga, dan beta karoten, dengan kadar lemak yang rendah, yang tentunya sangat dibutuhkan oleh tubuh.

baca juga

"Karena saya tidak punya..., maka saya ganti dengan kimpul." Mungkin, hari itu Bu Tin tidak menyadari kalimatnya yang sederhana, tetapi di ulang hampir di setiap kontennya, menjadi sebuah tagline yang terdengar lucu secara natural. 

Kalimat itu menjadi hook yang menarik, karena selalu ditunggu-tunggu oleh penonton. Bahkan, ada netizen membuat daftar menu dari hasil masakan Ibu Tin ini. Sudah seperti sebuah serial yang selalu ditungu-tunggu next episode-nya.

Wanita ini tak jarang mengubah bahan masakan lokal untuk diolah menjadi masakan internasional. Sebagai contoh, growol menjadi tobokki (growolbokki) atau mie lethek menjadi creamy lethek dengan saus krim ala pasta. Uniknya, ia bukan hanya mengganti bahan utamanya, tetapi juga "menerjemahkan" pangan lokal ke bahasa kuliner yang akrab untuk Gen Z.

Pendekatan yang santai inilah yang menarik minat audiensnya untuk ingin tahu lebih lanjut tentang pangan lokal. Cukup berbeda dengan kampanye pangan lokal versi lama yang sering kali terkesan kaku dan jadul bukan?

Dari FYP ke Rak Pengetahuan Gen Z

Konten seputar makanan kini jadi cara baru memperkenalkan pangan, termasuk pangan lokal, ke publik. Foto: Randy Tarampi/Unsplash
info gambar

Konten seputar makanan kini jadi cara baru memperkenalkan pangan, termasuk pangan lokal, ke publik. Foto: Randy Tarampi/Unsplash


Viral-nya kimpul ini tidak hanya membuat umbi-umbian tersebut menjadi trendsetter baru pada kamus pengetahuan Gen Z, tetapi juga mengenalkan berbagai sumber karbohidrat lokal lain yang ada di Nusantara. Sebut saja becicing, garut, gadung, bothe, senthe, gembolo, gembili, telo, ndurak, suweg, dan kuwi.

Tentunya, peran algoritma TikTok tentunya menjadi salah satu yang berpengaruh dalam fenomena ramainya kimpul dan sejenisnya itu.

Dalam sebuah penelitian yang dijelaskan Regita dan Tobing (2026) pada jurnalnya, disebutkan bahwa pengguna TikTok yang lebih banyak dan beragam menunjang penyebaran konten lebih cepat, sekaligus meningkatkan algoritma. Dengan begitu, peluang konten FYP lebih cepat dan Bu Tin memanfaatkan fenomena FYP ini dengan sangat baik.

Di sisi lain, ramainya kimpul dan Bu Tin ini juga memberi efek yang nyata pada UMKM kuliner lokal yang mendapatkan momentum ini. Tidak jarang, netizen yang penasaran dengan umbi-umbian yang disebutkan Bu Tin dalam kontennya, dicari dan bahkan dimasak ulang.

Usai Viral, Kimpul Bisa sampai Meja Makan Gen Z?

Kini pertanyaannya, apakah momen ini hanya akan bertahan sampai konten Ibu Tin mengisi FYP saja, atau malah menjadi terobosan baru untuk mengembangkan kearifan lokal yang diterapkan menjadi kebutuhan pangan sehari-hari?

Seorang ahli gizi UNAIR, Lailiatul, menyoroti bahwa ramainya kimpul jika tidak dibarengi dengan alasan kuat untuk terus dikonsumsi, maka tidak akan lama dan menjadi tren sesaat. Padahal, momentum ini berpotensi dimanfaatkan sebagai wadah untuk mengenalkan produk olahan berbahan dasar umbi-umbian lokal, khususnya untuk pelaku usaha yang ingin mengembangkannya (Kandela, 2026).

baca juga

Padahal, waktu ini bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan olahan pangan berbahan dasar kearifan lokal, di samping juga memiliki nutrisi yang baik untuk tubuh.

Ramainya kimpul bisa menjadi modal awal, tetapi keberlanjutannya berada di tangan kita sebagai penonton. Kalau Bu Tin menjadi jembatan pengetahuan kita, kitalah pelaku sebenarnya yang berperan penting dalam kelestarian kimpul dan sejenisnya.

Jadi, sudahkah Kawan makan kimpul hari ini?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.