Dalam beberapa pekan terakhir, kata "kimpul" ramai muncul di linimasa media sosial, terutama TikTok dan X. Sebagian warganet bahkan sempat mengira ini istilah gaul baru, sebelum akhirnya tahu bahwa kimpul adalah nama bahan pangan, yaitu umbi lokal bernama ilmiah Xanthosoma sagittifolium.
Kata "kimpul" sendiri berasal dari bahasa Jawa dan sudah masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan arti tumbuhan talas berumbi kecil dan berkulit gelap. Di sejumlah daerah Jawa, umbi ini juga dikenal dengan nama lain seperti bentul, bothe, genjlong, atau talas Belitung.
Sebenarnya, kimpul bukan bahan pangan baru. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kimpul sudah lama dibudidayakan dan dikonsumsi masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa, dan telah lama menjadi bahan pangan tradisional di berbagai daerah lain di Nusantara. Umbi ini biasa direbus, dikukus, atau diolah menjadi kolak jauh sebelum dikenal lewat konten media sosial.

Umbi kimpul mentah dengan kulit cokelat bertekstur khas dan daging berwarna putih di bagian dalam. Foto: Canva
Tren ini bermula dari konten seorang kreator yang rutin membuat video memasak dengan mengganti bahan-bahan umum seperti nasi, kentang, pasta, atau tepung terigu dengan kimpul, lalu menutup videonya dengan kalimat khas "karena saya tidak punya ..., jadi saya ganti kimpul". Dari kimbab, dumpling, lasagna, mashed potato, hingga keripik dan cookies, kimpul diolah menjadi berbagai hidangan yang terlihat jauh dari kesan "makanan tradisional". Popularitasnya membuat sang kreator mendapat julukan dari warganet sebagai "Duta Ketahanan Pangan" dan diundang ke acara televisi nasional.
Momentum ini kemudian merambat ke ranah kebijakan dan kesehatan publik. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melalui akun Instagram pribadinya menjelaskan bahwa kimpul mengandung karbohidrat kompleks yang berbeda dari karbohidrat sederhana pada nasi, dengan pati tahan cerna dan serat pangan yang membuat rasa kenyang bertahan lebih lama serta indeks glikemik yang lebih rendah. Pernyataan pejabat publik ini menunjukkan bagaimana sebuah tren kuliner di media sosial bisa membuka percakapan yang lebih luas soal pangan lokal dan diversifikasi karbohidrat.
Apa yang Sebenarnya Ada di Dalam Kimpul
Secara nutrisi, kimpul memang punya profil yang layak diperhitungkan. Umbi ini mengandung karbohidrat, serat pangan, vitamin C, vitamin B3, kalium, tembaga, dan beta karoten, dengan kadar lemak yang rendah. Sifatnya yang bebas gluten membuatnya berpotensi diolah menjadi tepung substitusi terigu, meski penelitian dan pengembangan ke arah itu di Indonesia masih terbatas.
Dari sisi budi daya, kimpul termasuk tanaman yang tidak terlalu manja. Ia bisa ditanam di lahan kering yang lembap tetapi tidak tergenang air, dengan masa panen sekitar lima hingga sembilan bulan. Dalam kondisi budi daya yang baik, produktivitasnya berkisar 3,7 hingga 7,5 ton per hektare, angka yang wajar untuk umbi-umbian tropis meski masih jauh di bawah komoditas pangan utama seperti singkong atau ubi jalar yang mendapat lebih banyak dukungan riset dan pasar.

Tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifolium) Foto: Tauʻolunga/Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.5)
Penting dicatat, viral tidak sama dengan terbukti unggul. Klaim bahwa kimpul "lebih sehat" daripada nasi perlu dilihat secara proporsional. Kimpul memang punya indeks glikemik lebih rendah dan serat lebih tinggi, tetapi ini bukan berarti nasi harus ditinggalkan, melainkan bahwa ada alternatif karbohidrat yang selama ini kurang dimanfaatkan. Perlu juga dicatat bahwa seluruh bagian tanaman kimpul, termasuk umbinya, mengandung kristal kalsium oksalat yang bisa menimbulkan rasa gatal atau iritasi di mulut dan tenggorokan jika dikonsumsi mentah atau kurang matang. Karena itu, umbi kimpul perlu direbus, dikukus, atau digoreng hingga benar-benar matang agar aman dikonsumsi.
Bisa Menjadi Sumber Ketahanan Pangan
Fenomena kimpul menunjukkan pola yang berulang di ranah pangan lokal Indonesia: sebuah komoditas yang sudah lama dikonsumsi di berbagai daerah, tetapi baru mendapat perhatian luas setelah ada pemicu dari media sosial. Kimpul selama ini masuk kategori pangan yang kurang mendapat riset dan investasi dibandingkan komoditas utama, meski punya potensi sebagai sumber karbohidrat alternatif.
Tantangan sebenarnya bukan pada momentum viralnya, melainkan pada apa yang terjadi setelah tren ini surut. Apakah ada dukungan lanjutan untuk riset varietas, perbaikan rantai pasok, atau insentif bagi petani yang sudah lama menanam kimpul, atau perhatian ini akan meredup begitu algoritma media sosial berpindah ke topik lain. Sejumlah umbi lokal lain, seperti garut, ganyong, atau gadung, punya cerita serupa: dikenal turun-temurun, tapi jarang masuk radar kebijakan pangan nasional.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


