pusat oleh oleh jogja - News | Good News From Indonesia 2026

Berburu Oleh-Oleh di Jogja, dari Bakpia hingga Buah Tangan Khas Yogyakarta

Berburu Oleh-Oleh di Jogja, dari Bakpia hingga Buah Tangan Khas Yogyakarta
images info

Berburu Oleh-Oleh di Jogja, dari Bakpia hingga Buah Tangan Khas Yogyakarta | Instagram @bakpia25official


Meski koper mulai penuh dan waktu pulang semakin dekat, menyempatkan diri berkunjung ke pusat oleh-oleh Jogja tetap menjadi agenda wajib sebelum Kawan GNFI benar-benar meninggalkan kota Gudeg ini.

Menyusuri jalanan kota yang teduh, bayangan wajah keluarga dan kolega kerja yang menanti buah tangan membuat perjalanan singkat ini terasa istimewa. Keputusan tersulit saat berada di tahap ini bukanlah soal ketersediaan dana, melainkan menentukan ke mana langkah harus diarahkan di antara sekian banyak sentra belanja.

Mengingat Yogyakarta menawarkan begitu banyak sentra komoditas lokal, tidak ada satu pun tempat yang mutlak mendominasi segalanya. Menjelajahi berbagai sudut kota akan memperlihatkan pengalaman belanja yang unik, mulai dari lorong pasar yang vintage, kawasan industri rumahan, hingga toko modern yang sejuk.

baca juga

Pusat Oleh-Oleh Jogja Ada di Mana?

Menemukan titik belanja yang pas sangat bergantung pada ekspektasi dan tujuan kunjungan Kawan, sehingga istilah pusat oleh-oleh terbesar di Jogja bisa merujuk pada luas bangunan, jumlah pedagang, atau sekadar volume pengunjung harian yang padat.

Kawasan Jalan Pathok bisa menjadi rujukan utama jika Kawan mencari sentra jajanan khas yang otentik. Daerah ini terkenal akan kuliner bakpia-nya yang sudah ada sejak lama. Sementara itu, nomor merek seperti pada "Bakpia Pathok 25" sebenarnya merujuk pada nomor rumah si pembuat bakpia. Unik ya, Kawan!

Selain itu, ada pula kawasan Malioboro yang menawarkan beragam pilihan oleh-oleh, menyatukan kerajinan tangan, pakaian, dan pernak-pernik estetis di satu tempat yang luas.

Rekomendasi lengkap pusat oleh-oleh Jogja sendiri terdapat di bagian tengah artikel ya, Kawan!

Oleh-Oleh Apa yang Bagus di Jogja?

Bagi Kawan GNFI yang masih kebingungan, berikut sejumlah oleh-oleh yang bagus untuk dibawa pulang selepas berkunjung ke Jogja:

Bakpia dan Jajanan Tradisional

Pertanyaan mengenai oleh-oleh apa yang bagus di Jogja selalu bermuara pada jajanan bakpia. Menurut laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, penganan ini merupakan wujud akulturasi budaya yang diperkenalkan pertama kali dengan isian kacang hijau oleh Kwik Sun Kwok pada tahun 1940-an.

Varian modern kini menjamur menyesuaikan selera konsumen, menghadirkan rasa keju, cokelat, hingga durian. Di samping itu, berkembang pula varian bakpia kering yang masa simpannya lebih lama dibanding bakpia semi basah umumnya.

baca juga

Oleh-Oleh Khas Jogja Selain Bakpia

Selain bakpia, sejumlah oleh-oleh khas Jogja ini juga layak Kawan bawa pulang. Bantul menyimpan sejarah pangan melalui geplak, kudapan manis berbahan kelapa parut dan gula yang daya tahannya sangat awet. Bergeser menuju Kotagede, terdapat yangko yang bertekstur lunak dan kenyal.

Alternatif hidangan berat yang praktis juga bisa Kawan dapatkan dalam wujud gudeg kalengan yang mampu bertahan lama berkat teknologi sterilisasi.

Batik, Kerajinan, dan Suvenir

Bagi Kawan GNFI kalangan profesional yang ingin membawakan suvenir untuk kolega, tas rajut premium berdesain modern seperti dari merek Dowa menawarkan nilai fungsionalitas dan keanggunan. Kain batik serta blangkon atau kebaya yang bisa ditemukan di Beringharjo juga dapat menjadi buah tangan personal yang unik bagi sanak saudara.

Menyambangi Pusat Oleh-Oleh Jogja yang Terkenal

Berikut informasi sejumlah pusat oleh-oleh Jogja yang terkenal dan bisa Kawan kunjungi sebelum meninggalkan kota Gudeg:

1. Bakpia Pathok 25

Bakpia Pathok 25, Pusat Oleh-oleh Khas Jogja yang Terkenal dengan Bakpianya | Instagram @bakpia25official
info gambar

Bakpia Pathok 25, Pusat Oleh-oleh Khas Jogja yang Terkenal dengan Bakpianya | Instagram @bakpia25official


Menyusuri jalanan di kawasan Pathuk, tepat di belakang denyut nadi Malioboro, aroma khas panggangan langsung menyapa indra penciuman. Deretan bangunan ini menjadi pusat oleh-oleh Jogja terkenal karena menjadi wilayah penghasil bakpia.

Menurut laman Visiting Jogja, Bakpia Pathok 25 telah ada sejak tahun 1979 dan menjadi salah satu merek yang dikenal mempunyai sejarah panjang sebagai produsen bakpia tradisional.

Melalui media sosial resminya, Bakpia Pathok 25 menyebut mereknya memiliki banyak pilihan varian rasa, terbagi menjadi varian original dan premium. Untuk varian original, terdapat rasa kacang hijau, keju, cokelat, nanas, dan aneka rasa.

Di samping itu, pilihan varian premium menawarkan rasa unik lain seperti susu, cappuccino, green tea, telo ungu, hingga durian. Jangan lupa perhatikan umur masa simpan karena setiap produk memiliki masa simpan yang berbeda!

2. Teras Malioboro

Berdiri strategis tidak jauh dari Titik Nol Kilometer, kawasan ini menjadi ekosistem baru bagi para pedagang yang dahulu menggelar dagangan di sepanjang trotoar Jalan Malioboro.

Di Teras Malioboro, pengunjung akan dimanjakan dengan lorong-lorong belanja yang nyaman. Kawan GNFI dapat menemukan pakaian santai untuk akhir pekan hingga dress bermotif batik yang elegan, semuanya dalam satu titik kumpul yang tertata apik dan bisa dikunjungi dalam sekali jalan.

3. Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo, Pusat Oleh-oleh Jogja di Sekitar Jalan Malioboro | Pemkot Jogja
info gambar

Pasar Beringharjo, Pusat Oleh-oleh Jogja di Sekitar Jalan Malioboro | Pemkot Jogja


Di sisi lain Jalan Malioboro, nuansa historis perniagaan Jawa paling kental dapat dirasakan di kawasan cagar budaya Pasar Bringharjo ini.

Pasar ini mempertahankan pesonanya sebagai urat nadi ekonomi sejak era kolonial. Menurut laman Dinas Kebudayaan Jogja, Pasar Beringharjo mulanya disebut dengan nama Pasar Gedhe dan berdiri pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tepatnya saat Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun.

Di sini, para pedagang menjajakan kain batik tulis dan cap dengan kualitas bahan yang bervariasi, memungkinkan penyesuaian dengan anggaran belanja Kawan. Tidak hanya itu, ada pula beragam pernak-pernik seperti gelang dan kalung yang dijual oleh para pedagang. Kawan juga bisa berburu kebaya di sini!

Karena areanya yang lumayan besar, Kawan GNFI diharapkan berhati-hati agar tidak tersesat atau kehilangan barang bawaan!

4. Krisna Jogja

Berlokasi di Jalan Mataram No. 31, Kec. Danurejan, tempat ini menghadirkan pengalaman belanja modern berfasilitas lengkap.

Kawan GNFI yang dikejar jadwal penerbangan dapat menjadikan destinasi ini sebagai pilihan berbelanja oleh-oleh karena koleksi barangnya terpusat dan beragam. Kawan bisa mengisi keranjang dengan pakaian batik, tas rajut unik, hingga beragam kudapan ringan mulai dari bakpia hingga yangko secara praktis.

Berapa Harga Oleh-Oleh di Jogja?

Harga oleh-oleh di Jogja bisa beragam karena perbedaan kualitas bahan, merek, tingkat kerumitan produksi, serta isi dan dimensi kemasan.

Bagi Kawan yang ingin berbelanja bakpia khas Jogja, merek Bakpia Pathok 25 menawarkan harga mulai dari Rp51.000,00 untuk varian original dan Rp75.000,00 untuk varian premium. Sementara itu, Krishna membanderol bakpia originalnya seharga Rp34.000,00 serta Rp59.000,00 untuk varian premium.

Wingko sendiri dijual mulai Rp42.000,00 hingga Rp50.000,00 per kemasan. Ada juga yangko yang dijual lebih murah, yakni di harga Rp27.000,00.

Bagi Kawan yang memiliki budget terbatas, dapat mencoba pergi ke Pasar Beringharjo dan Teras Malioboro karena di sana terdapat beragam kuliner hingga buah tangan seperti baju dan pernak-pernik yang harganya relatif lebih fleksibel karena bisa ditawar.

Meski begitu, perlu diingat bahwa tidak semua pedagang mengambil keuntungan besar dari dagangannya, jadi rasanya wajar jika tidak semua dari mereka terbuka dengan opsi tawar-menawar.

baca juga

Tips Berburu Oleh-Oleh di Jogja

Mendapatkan oleh-oleh berkualitas dengan harga sepadan merupakan sebuah keterampilan. Kawan bisa mengikuti tips berburu oleh-oleh ini agar bisa mendapat buah tangan di Jogja:

  1. Lakukan perbandingan kualitas pada beberapa etalase apabila mengincar desain produk serupa, serta senantiasa teliti durabilitas.
  2. Periksa tanggal kedaluwarsa pada produk pangan, serta bandingkan ukuran dan isi kemasan.
  3. Budaya tawar-menawar memang mengakar di pasar tradisional, namun praktikkanlah secara wajar dengan mengapresiasi waktu dan tenaga para perajin.
  4. Sediakan tas jinjing tambahan atau tata ulang kompartemen koper sejak awal agar bagasi kabin tetap terorganisasi dengan baik.
  5. Simpan bukti pembayaran untuk pembelian dalam jumlah besar.

Tips Menikmati Berburu Oleh-Oleh di Jogja Tanpa Buru-Buru

Aktivitas mengepak koper sebelum pulang tidak sepatutnya mengurangi pengalaman liburan. Kawan bisa menyisihkan waktu untuk melihat-lihat etalase dan berinteraksi dengan masyarakat, jadi liburan Kawan terasa lebih bermakna dan mindful.

Kawan juga bisa menyusun rute belanja agar searah dengan destinasi utama, contohnya memadukan kunjungan ke pantai selatan dengan singgah ke galeri gerabah. Pertimbangkan pula ketersediaan akses jalan yang memadai apabila membawa rombongan keluarga besar.

Pada akhirnya, buah tangan ideal selalu ditentukan oleh karakter penerimanya. Membawakan sekotak kudapan manis yang masih hangat atau sehelai kain batik dengan motif filosofis memiliki makna yang tidak sekadar transaksi komersil.

Setiap karya masyarakat yang Kawan GNFI beli adalah medium penghubung cerita, perawat kebudayaan, dan sebuah perayaan atas ketangguhan ekonomi lokal di Yogyakarta.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.