bukan malas ini alasan sebenarnya kenapa petugas kesehatan sering enggan melapor insiden pasien - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Malas, Ini Alasan Sebenarnya Kenapa Petugas Kesehatan Sering Enggan Melapor Insiden Pasien

Bukan Malas, Ini Alasan Sebenarnya Kenapa Petugas Kesehatan Sering Enggan Melapor Insiden Pasien
images info

PIC by Stephen Andrews | Unsplash.com


Kawan GNFI, di balik rendahnya angka pelaporan insiden keselamatan pasien di banyak rumah sakit, ternyata tersimpan pergulatan psikologis yang cukup kompleks di kalangan petugas kesehatan.

Sebuah penelitian dari Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG) yang ditulis oleh Henik Saefulmilah bersama tim, dan dipublikasikan pada 2024 dalam Journal of Telenursing (JOTING), mengungkap secara detail apa saja yang sebenarnya menjadi alasan petugas enggan melaporkan insiden yang mereka saksikan atau alami di lingkungan kerja.

Ketika Rasa Takut Mengalahkan Tanggung Jawab Profesional

Penelitian ini bermula dari kondisi memprihatinkan di RSPG, di mana selama hampir tiga tahun, rata-rata laporan insiden keselamatan pasien hanya 0,7 laporan per bulan, jauh dari mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Untuk membedah akar masalahnya, tim peneliti melakukan survei terhadap 45 responden yang mayoritas berjenis kelamin laki-laki (60 persen), dengan masa kerja terbanyak berkisar 11 hingga 20 tahun (54 persen).

Hasilnya mengungkap sepuluh alasan utama petugas tidak mau melapor. Dua alasan teratas dengan persentase yang sama, yakni masing-masing 38 persen, adalah rasa takut adanya tindakan disipliner, serta ketiadaan anonimitas pelapor dan jaminan kerahasiaan yang tidak terjaga dengan baik.

baca juga

Bukan Cuma Rasa Takut, Ada Juga Beban Administratif

Kawan, di luar rasa takut, penelitian ini juga menemukan berbagai alasan lain yang tak kalah signifikan. Sebanyak 29 persen responden mengeluhkan proses pelaporan yang memakan banyak waktu, sementara 27 persen merasa kurang mendapat umpan balik setelah melaporkan insiden.

Persentase yang sama, yakni 27 persen, juga muncul dari kekhawatiran akan respons negatif dari rekan kerja, ketakutan dipandang sebagai petugas yang tidak kompeten, serta kekhawatiran akan hukuman yang mungkin diterima.

Alasan lain yang juga muncul adalah ketidakjelasan definisi insiden keselamatan pasien yang sebenarnya wajib dilaporkan (24 persen), bertambahnya beban kerja akibat proses pelaporan (24 persen), hingga anggapan bahwa penyebab insiden sudah jelas dan sudah tertangani sehingga tidak perlu dilaporkan lagi (22 persen).

Sejalan dengan Temuan Penelitian Lain

Penelitian ini juga mencatat bahwa hambatan pelaporan insiden dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu faktor yang berhubungan langsung dengan rumah sakit dan faktor yang tidak berhubungan dengan rumah sakit.

Faktor internal rumah sakit meliputi kurangnya pemahaman dan tanggung jawab pelaporan, lemahnya kepemimpinan dan budaya kelembagaan dalam melaporkan insiden, hingga persepsi bahwa pelaporan hanyalah beban tambahan semata.

Sementara faktor eksternal mencakup kurangnya umpan balik dan pelatihan, lemahnya mekanisme kerahasiaan dalam sistem pelaporan, tidak adanya kebijakan pengamanan untuk mencegah tindakan hukuman terhadap pelapor, serta kurangnya kepemimpinan yang mendukung budaya keselamatan pasien secara menyeluruh.

Solusi yang Menjawab Akar Persoalan

Kawan GNFI, memahami akar masalah psikologis dan struktural ini, komite mutu RSPG merancang intervensi yang menyasar langsung pada kekhawatiran para petugas.

Sistem pelaporan berbasis formulir elektronik yang dikembangkan dirancang untuk menjamin kemudahan dan kecepatan pelaporan, sekaligus diiringi kampanye komitmen bersama dan sosialisasi ulang materi keselamatan pasien untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih baik.

Hasilnya terbukti signifikan: jumlah laporan insiden melonjak dari rata-rata kurang dari satu laporan per bulan menjadi 34 laporan dalam satu bulan periode uji coba. Lonjakan ini menjadi bukti nyata bahwa ketika hambatan psikologis dan teknis diatasi secara bersamaan, budaya melapor di kalangan tenaga kesehatan bisa tumbuh jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.

baca juga

Pentingnya Membangun Budaya, Bukan Sekadar Sistem

Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman individu mengenai konsep insiden keselamatan pasien sangat memengaruhi keputusan mereka untuk melapor. Selain itu, lingkungan tim kerja yang suportif juga menjadi faktor penting yang mendorong petugas untuk aktif melaksanakan tanggung jawab pelaporannya, tanpa rasa takut akan konsekuensi negatif yang mungkin menghampiri mereka.

Kawan GNFI, di Hari Keselamatan Pasien Sedunia yang diperingati setiap 17 September, kisah dari RSPG ini menjadi pengingat penting bahwa membangun budaya keselamatan pasien bukan sekadar soal menyediakan sistem pelaporan yang canggih, melainkan juga soal menciptakan lingkungan kerja yang membuat setiap petugas kesehatan merasa aman dan didengar ketika mereka memilih untuk jujur melaporkan sebuah insiden.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.