Belum lama ini, Indonesia sedang hangat dengan satu fenomena yang disebut sebagai tren "pelari kalcer". Dari tren ini, lahirlah banyak komunitas yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, anak muda, lansia, dan sebagainya. Hal tersebut menunjukkan tingginya antusias masyarakat terhadap fenomena ini.
Olahraga lari merupakan salah satu kegiatan positif yang banyak digemari masyarakat dari berbagai belahan dunia, mulai dari negara Malaysia, Indonesia, serta negara-negara seperti ASEAN, Eropa, Amerika dan lainnya. Gerakan ini tentunya bermanfaat bagi tubuh kita, baik secara fisik maupun psikologis.
Olahraga lari pada umumnya dapat melatih keterampilan dan menigkatkan kemampuan secara fisik, terutama pada kesehatan jantung. Sebab, ketika kita melakukan olahraga lari jantung akan dilatih dan akan merasakan yang disebut kardiovaskular, yang efektif untuk melatih daya tahan dan kebugaran jantung.
Belakangan ini banyaknya muncul berbagai ajang lari di akhir pekan, seperti ajang lari yang ada di berbagai kota, pedesaan, kabupaten, bahkan tingkat kecamatan.
Namun, dari fenomena tersebut lahirlah satu pertanyaan, apakah tren "pelari kalcer" ini merupakan sebuah kebiasaan atau hanya FOMO belaka?
Sebuah Tren yang Bertransformasi jadi Kebiasaan
Mengikuti sebuah tren yang sedang hangat di media sosial bukanlah sebuah masalah. Terutama jika tren tersebut merupakan tren yang positif, sebab dari FOMO inilah mulai tercipta sebuah kebiasaan dan menjadi motivasi untuk terus melakukannya. Mengapa demikian? Karena pada awalnya kita merasa tidak ingin melewati tren yang sedang hangat.
Pada akhirnya, kegiatan FOMO tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang selalu kita lakukan. Namun, untuk menjaga kebiasaan positif ini, Kawan GNFI dapat melakukan 5 poin berikut ini!
Anggap Saja Tren "Pelari Kalcer" sebagai Start Point
Mungkin ada beberapa Kawan GNFI yang masih bingung ingin memulai dari mana kebiasaan sehat ini. Padahal, kita bisa memulainya dari tren "pelari kalcer" ini, lho, Kawan GNFI.
Dengan memanfaatkan media sosial, kita bisa mencari masyarakat yang memiliki keinginan yang sama dengan kita untuk memulai kebiasaan lari ini.
Faktanya, tren lari memang mengalami lonjakan peminatnya pada tahun 2025. Menurut Asosiasi Lari Indonesia, partisipasi event lari naik 30% dengan komunitas lari melonjak 83% berdasarkan Strava Global Report.
Tetap Fokus dengan Progress Diri Sendiri
Akhir-akhir ini, jika kita membuka media sosial, kita akan melihat banyak bertebaran instastory Strava yang menampilkan pace, waktu berlari, hingga jarak tempuh pelari tersebut. Ini bisa kita jadikan pelecut semangat untuk tetap konsisten berolahraga, Kawan.
Kita harus yakin jika suatu saat akan mencapai di posisi tersebut, bahkan dapat lebih baik dengan latihan yang konsisten dan ketekunan yang ulet.
Buat Rutinitas Lari yang Konsisten
Kawan GNFI, kita tidak perlu terlalu terburu-buru untuk dapat menguasai pace 3, 4, dan 5. Buatlah jadwal latihan secara bertahap. Perlahan dan pasti, kita akan mulai naik intensitasnya.
Setiap pelari profesional memulai kebiasaan larinya dari pace yang lambat hingga profesional. Dari situ, kita dapat meniru pola latihan ini hingga mendapatkan performa lari impian.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


