Les Filles De La Mer merupakan pertunjukan teater kolaborasi lintas negara yang mempertemukan seniman Indonesia dan Prancis. Menggabungkan drama dan tarian, pertunjukan ini mengangkat kisah tentang perempuan, perjalanan hidup, serta hubungan yang terbentuk di tengah perbedaan latar belakang.
Pertunjukan ini digelar pada 3–4 September 2026 di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta. Terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya, Les Filles De La Mer menjadi bagian dari rangkaian tur yang sebelumnya telah berlangsung di beberapa kota di Indonesia, seperti Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Bandung.
Berbicara tentang Hubungan Perempuan
Karya ini merupakan gagasan dari tiga seniman perempuan asal Indonesia dan Prancis, yaitu Lucile Cocito, Shaula Cambazzu, dan Kadek Puspasari. Mereka mengangkat tiga tema utama, yakni perempuan, migrasi, dan kepulauan.
Les Filles De La Mer mengisahkan empat perempuan dari berbagai belahan dunia, termasuk Asia, Afrika, dan Eropa. Masing-masing memiliki latar belakang budaya serta pengalaman hidup yang berbeda. Dalam keadaan yang beragam, keempatnya memulai perjalanan migrasi hingga akhirnya dipertemukan di Prancis.
https://www.instagram.com/p/DcYOfHDgcSz/
(Preview akan muncul di halaman artikel)Kisah dalam pertunjukan ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada seniman Italia, Pippa Bacca. Pada 2008, Bacca melakukan perjalanan seni dari Milan menuju Yerusalem dengan mengenakan gaun pengantin. Perjalanan tersebut berakhir tragis setelah dirinya diperkosa dan dibunuh di Turki.
Selain kisah Pippa Bacca, pertunjukan ini turut terinspirasi oleh haenyeo, perempuan laut asal Korea yang mencari hasil laut dengan menyelam tanpa alat bantu pernapasan. Berbagai pengalaman perempuan kemudian dihadirkan melalui hubungan mereka dengan keluarga dan leluhur, hingga kerentanan perempuan terhadap kekerasan.
Pengalaman Panggung yang Berbeda
Les Filles De La Mer tidak hadir sebagai pertunjukan teater konvensional yang hanya mengandalkan panggung dan kursi penonton. Para seniman menggunakan tanah dan air sebagai bagian dari ruang pertunjukan. Keduanya dibentuk melingkar menyerupai pulau, tetapi dengan posisi yang terbalik. Jika pulau umumnya merupakan daratan yang dikelilingi air, di sini justru lingkaran air dikelilingi oleh tanah.
Pemilihan ruang tersebut berkaitan dengan tema kepulauan yang menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Menurut Kadek Puspasari, salah satu penggagas sekaligus pemeran, tanah dan air juga menjadi representasi dari ketidakstabilan elemen di sekitar.
Penonton ditempatkan mengelilingi ruang pertunjukan. Sesekali, para seniman berinteraksi langsung dengan penonton sehingga mereka tidak hanya menyaksikan cerita, tetapi turut merasakan atmosfer yang dibangun di dalamnya.
Meski menggunakan beberapa bahasa, seperti Prancis, Indonesia, Inggris, dan Spanyol, penonton tetap dapat mengikuti jalannya pertunjukan melalui terjemahan dalam bentuk teks dan audio.
Dalam sesi diskusi setelah pertunjukan, para seniman mengungkapkan bahwa proses eksplorasi tema hingga terbentuknya keseluruhan karya berlangsung selama tiga tahun. Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawa Les Filles De Lamer menjadi sebuah pertunjukan yang tidak hanya bercerita tentang perempuan dan migrasi, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali hubungan manusia dengan ruang, tanah, air, dan satu sama lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


