Di tengah beragam tantangan global yang terjadi saat ini, seni kembali menunjukkan perannya sebagai bahasa perdamaian. Hal itu tercermin dalam peluncuran mural Interconnected Existence di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, yang menjadi hasil kolaborasi tiga seniman dari Indonesia, Austria, dan Ukraina.
Opening ceremony peluncuran mural ini diadakan pada hari Kamis (30/7/2026) dan dihadiri oleh berbagai tamu undangan. Proyek tersebut merupakan proyek yang didanai oleh Kementerian Luar Negeri Austria. Acara ini diselenggarakan melalui kolaborasi Kedutaan Besar Austria di Jakarta, Ukrainian Institute, dan Kedutaan Besar Ukraina di Indonesia, dengan dukungan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari dukungan Austria terhadap Ukraina melalui kerja sama di bidang kebudayaan. Hal itu disampaikan langsung oleh Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Austria untuk Indonesia, Michael Wislocki, dalam sambutannya.
“Proyek ini, yang mana bersamaan dengan banyak proyek lain yang diwujudkan di seluruh dunia, merupakan salah satu cara kami untuk menunjukkan dukungan berkelanjutan bagi Ukraina dalam menghadapi perang agresi Rusia yang terus berlangsung, yang kini telah memasuki tahun kelima. Mural ini tak hanya sebagai karya seni publik, tetapi sebagai simbol solidaritas, dialog, kerja sama, dan harapan," jelas Michael.
Selain sebagai bentuk dukungan untuk Ukraina, proyek ini juga menjadi ajang untuk memperkuat diplomasi antar masing-masing negara dan mempertemukan masyarakatnya lewat budaya.
Tiga Seniman, Satu Pesan yang Sama

Mural Interconnected Existence | Dokumentasi Pribadi
Mengusung tema Interconnected Existence, mural ini menyuarakan berbagai isu global melalui satu bahasa visual yang menyatukan perspektif dari ketiga negara.
Seniman asal Austria, Manuel Skirl, mengatakan bahwa karya tersebut ingin menggambarkan betapa rapuhnya dunia dan bagaimana setiap manusia saling bergantung satu sama lain. Melalui mural ini, ia bersama dua seniman lainnya mengajak publik untuk menyadari pentingnya menjaga bumi secara bersama-sama.
"Kami mengidentifikasi beberapa tantangan yang juga saling berkaitan. (Kami) berupaya menunjukkan betapa rapuhnya dunia ini, bagaimana kita saling bergantung, mengandalkan satu sama lain, dan saling mendukung. Kami berusaha merepresentasikan keberagaman secara visual.." ujar Manuel.
Vitalli Dilkone, seniman asal Ukraina yang juga berpartisipasi dalam proyek ini menambahkan bahwa mural Interconnected Existence menggambarkan dunia sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.
Karena itu, setiap elemen yang ada di dalam mural disusun tumpang tindih satu sama lain dan terlihat mudah jatuh. Hal ini merupakan salah satu pemaknaan dari mural Interconnected Existence. Ketika satu bagian runtuh, maka bagian lainnya juga akan ikut terdampak.
Ia juga menjelaskan bahwa salah satu elemen dalam mural menampilkan bongkahan es yang mencair sebagai simbol perubahan iklim.
"Krisis iklim bukan hanya persoalan satu negara, melainkan tantangan yang dihadapi seluruh dunia," sebut Vitalli.
Sementara itu, seniman Indonesia Muna Diannur menuangkan gagasannya melalui kaligrafi Al-Mizan yang menjadi salah satu elemen dalam mural. Dalam bahasa Arab, Al-Mizan berarti timbangan atau neraca, yang juga dimaknai sebagai simbol keseimbangan.
Bagi Muna, karya ini tidak berhenti pada upaya mengkritik berbagai persoalan global. Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah bagaimana manusia merespons persoalan tersebut tanpa kehilangan keseimbangan.
"Konsen kita itu sebenarnya bagaimana respon kita terhadap isu-isu global. Bukan hanya soal mengkritik, tapi juga bagaimana kita bisa survive. Kritik mungkin terus kita lakukan, tapi kalau terlalu overthinking memikirkan persoalan yang di luar kapasitas, itu malah bikin burn out," ujar Muna.
Menurutnya, menjaga keseimbangan juga berarti menyadari bahwa persoalan lingkungan pada akhirnya akan kembali berdampak kepada manusia.
"Fokus kita itu bagaimana kita mengatur keseimbangan sehingga kita punya aware terhadap kebutuhan bumi itu sendiri. Karena dampak bumi pasti dampak ke manusianya," tambahnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


