Pada tahun 2019 lalu, Desa Adat Penglipuran masuk ke dalam 100 destinasi berkelanjutan terbaik di dunia berdasarkan Green Destination Foundation. Diperkirakan desa ini sudah ada semenjak 700 tahun yang lalu, tepatnya pada abad 13 pada masa kerajaan Bangli.
Sebuah jejak sejarah Desa Adat Penglipuran yang menandakan desa ini merupakan salah satu desa tertua di Indonesia. Dikutip dari website Pemerintahan Kabupaten Bangli, bahwa desa ini merupakan serpihan Desa Bayung Gede, Kintamani.
Desa Adat Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, serta berjarak sekitar 55 kilometer dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Dengan umur yang bisa dikatakan cukup tua, desa adat ini menyimpan banyak cerita serta budaya yang masih terjaga hingga kini.
Penglipuran: Jejak Tradisi Bali Kuno dan Pengakuan Dunia sebagai Desa Terbersih
Sejak 1993 Desa Penglipuran sudah mulai dikembangkan menjadi desa adat, dan pada tahun 2012 yang lalu secara resmi desa ini menjadi desa wisata. Kepopulerannya semakin memuncak semenjak mendapat penghargaan desa terbersih pada tahun 2016 oleh majalah Boombastis, dikutip dari jurnal milik Sofa Faizatin Nabila yang berjudul Studi Etnografi: Sejarah Perkembangan Desa Adat Penglipuran, Bali.
Mengutip dari Kumparan, Desa Penglipuran merupakan hadiah yang diberikan oleh Raja Bangli kepada masyarakat yang ikut bertempur melawan Kerajaan Gianyar. Nama Penglipuran sendiri berasal dari kata "Pengeling Pura" yang memiliki arti tempat untuk mengingat leluhur.
Sesuai dengan makna namanya, masyarakat Desa Penglipuran masih memegang teguh tradisi nenek moyang mereka, dari sistem pemerintahan, hingga hukum tradisional yaitu awig-awig. Tradisi yang mereka angkat berdasarkan konsep Tri Hita Karana yang sudah menjadi filosofi hidup masyarakat Bali.
Filosofi Tri Hita Karana dan Arsitektur Tradisional
Masing-masing kata dari Tri Hita Karana memiliki artinya tersendiri, Tri=tiga, Hita=Kebahagiaan, dan Karana=penyebab. Jika menggabungkan tiga makna tersebut maka akan berarti tiga penyebab terjadinya kebahagiaan.
Tri Hita Karana juga menekankan untuk menjauhi pandangan terhadap konsumerisme, pertikaian dan gejolak. Tiga kebahagiaan ini bersumber pada hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama
Manusia dengan Tuhan
Manusia wajib berbakti pada Tuhan bukan tanpa sebab, kita diciptakan dan dapat hidup karena campur tangan dari Tuhan. Dengan melaksanakan ibadah dan mempelajari agama sudah menjadi bagian dari terima kasih kita untuk Tuhan.
Manusia dengan alam
Manusia dapat bertahan hidup berkat bahan keperluan berasal dari lingkungan yang ditinggali. Manusia harus bisa menjaga lingkungan tersebut, tidak boleh dirusak maupun dikotori, sebaliknya manusia harus merawatnya.
Manusia dengan sesama
Manusia terlahir sebagai makhluk sosial, artinya manusia tidak bisa hidup menyendiri. Kita juga harus mengandalkan bantuan orang lain, oleh karena itu penting untuk menjaga hubungan yang harmonis antarsesama.
Dalam kepercayaan masyarakat Bali terdapat konsep arsitektur yang bernama Tri Mandala, yang juga diterapkan di Desa Adat Penglipuran. Tri Mandala adalah konsep yang membagi ruang dan zona orientasi menjadi tiga: Utama Mandala (zona paling sakral atau suci), Madya Mandala (zona tengah yang menjadi pusat kegiatan), Nista Mandala (zona paling bawah, yang dikaitkan dengan area non-sakral atau kotor).
Dampak Ekonomi Pariwisata dan Tantangan
Desa Adat Penglipuran Bali berhasil menarik wisatawan lokal maupun luar karena keunikan dan lingkungannya yang bersih dan terjaga. Selain mendatangkan peluang ekonomi dan lowongan kerja baru, kebudayaan Indonesia juga terlestarikan, hingga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
Berdasarkan penelitian jurnal Dampak Sosial Ekonomi Pariwisata dalam kehidupan Masyarakat Desa Penglipuran, Bangli, Bali, perkembangan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sebesar 150-300%.
Namun, peluang ini juga diikuti oleh tantangan yang harus dihadapi masyarakat Desa Adat Penglipuran maupun masyarakat asli Bali. Bertambahnya destinasi wisata dapat berpotensi memunculkan overtourism sehingga dapat meningkatkan kerusakan lingkungan seperti kenaikan volume sampah.
Dari fenomena Desa Adat Penglipuran ini kawan GNFI bisa melihat bahwa modernisasi dan tradisi nenek moyang bisa hidup berdampingan. Tantangan seperti overtourism tidak bisa dihiraukan, karena ini adalah salah satu ujian warga Penglipuran agar mereka akan selalu ingat terhadap nilai leluhur.
Hal ini juga perlu disadari para wisatawan, sesuai pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kawan GNFI sekalian juga harus bisa menghormati aturan di tempat kita berada.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


