Tahun 1951, seorang ibu bernama Antoinette Stepanek bingung dengan nasib pendidikan anaknya. Sebab, suaminya, Dr. Joseph Stepanek, kala itu ditugaskan misi industri PBB di Jakarta.
Anak-anaknya butuh sekolah, tapi saat itu Jakarta cuma punya sekolah Belanda dan sekolah Indonesia. Ia tak menemukan sekolah berbahasa Inggris.
Antoinette akhirnya memilih untuk menjalankan homeschooling dengan kurikulum Calvert System asal Amerika. Keluarga lain yang senasib ketika mendengar ini, ikut bergabung. Agustus 1951, rumah dan halaman keluarga Stepanek di Jl. Kebon Sirih No. 76 dijadikan sebagai ruang kelas darurat.
Sebulan kemudian, sekolah ini resmi dibuka dengan nama International School of Djakarta. Pada awal pendirian sekolah, hanya ada tiga guru, dan delapan murid yang berusia 3 sampai 10 tahun, menurut riset "The Establishment of Jakarta International School in Indonesia" yang ditulis Rusdy dan Sunarti di jurnal International Review of Humanities Studies (2025).
Kawan, tak butuh waktu lama sampai sekolah ini kewalahan. Dua kelas garasi sudah kelebihan murid hanya dalam sebulan. Sekolah pun meluas ke halaman samping rumah, menambah empat ruang kelas beratap seng.
Pindah ke Pattimura, Berkat Bantuan Agus Salim
Melihat animo yang terus bertambah, pengurus sekolah sadar bahwa mereka butuh lahan yang lebih luas. Akhirnya, mereka mencari lahan baru.
Berkat bantuan Haji Agus Salim, tokoh pergerakan sekaligus mantan Menteri Luar Negeri RI, izin sewa lahan kampus pertama JIS di Pattimura, Kebayoran Baru akhirnya terbit. Izin itu terbit pada 12 Maret 1952 untuk masa 30 tahun, sebagaimana dicatat dalam riset Rusdy dan Sunarti (2025).
Kampus Pattimura resmi beroperasi tahun 1953, menampung kelas nursery, TK, hingga kelas 6. Jumlah murid saat itu sudah bertambah tiga kali lipat dibanding awal berdiri di Kebon Sirih.
Ganti Nama karena Tekanan Regulasi
Sekolah ini terus tumbuh, tapi pertumbuhan berbenturan dengan aturan pemerintah. Pada awal 1960-an, pemerintah Indonesia memberlakukan aturan baru bagi sekolah asing. Sekolah yang ingin memperoleh status yang berkaitan dengan perlindungan diplomatik harus mendapat sponsor dari kedutaan.
Setelah negosiasi panjang, pada tahun 1965 sekolah ini resmi berganti nama menjadi Joint Embassy School (JES) dengan disponsori bersama oleh empat kedutaan sekaligus: Australia, Inggris, Amerika Serikat, dan Yugoslavia. Ini tercatat sebagai kali pertama sebuah sekolah disponsori multi-kedutaan sekaligus, menurut Rusdy dan Sunarti (2025).
Menariknya, megosiasi status kedutaan itu baru rampung empat hari sebelum tragedi 30 September 1965 meletus.
Ekspansi ke Cilandak, Didorong Kepentingan Minyak
Setelah melewati masa transisi politik itu, JES terus berkembang dan ekspansi besar berikutnya lahir bukan dari kebutuhan pendidikan semata, melainkan dari kepentingan industri minyak.
Menjelang 1970-an, banyak eksekutif minyak asing memilih tinggal di Singapura dan hanya bolak-balik ke Jakarta karena belum ada sekolah internasional level SMA di ibu kota. Ibnu Sutowo, saat itu Presiden Direktur Pertamina, melihat sekolah ini sebagai kunci agar keluarga eksekutif migas mau menetap permanen di Jakarta.
Lahan 10 hektare di Cilandak akhirnya didapat lewat negosiasi panjang yang dipimpin Tirto Utomo, direktur keuangan Pertamina. Ia menghabiskan berjam-jam tiap hari selama dua-tiga minggu bernegosiasi dengan 40 pemilik lahan. Pertamina lalu menyewakan lahan itu ke sekolah dengan harga simbolis satu dolar AS per tahun.
Kampus Cilandak akhirnya diresmikan 23 Maret 1972 oleh Ibu Tien Soeharto, Ibu Negara RI saat itu.
Dalam pidatonya yang dikutip dari Department of State News Letter (1972), ia berkata, "Here gather children from various nations as they play and learn together. The hearts of children are pure; they are free from prejudice... Who knows, maybe some of these children will be leaders of their nations."
Bertahan dari Krisis ke Krisis
Perjalanan panjang ini tidak selalu mulus. Musim semi 1981, kebakaran melanda kampus Cilandak dan menghanguskan lima modul bangunan. Komunitas sekolah bergotong royong menyelamatkan arsip dan catatan yang tersisa.
Akhir 1990-an, giliran kerusuhan politik yang memaksa evakuasi wajib. Upacara kelulusan bahkan sempat digelar di Singapura karena situasi Jakarta tak memungkinkan.
Lalu awal 2020-an, pandemi Covid-19 memindahkan seluruh pembelajaran ke layar komputer. Meski begitu, sekolah ini tetap beradaptasi.
JIS Hari Ini
Melewati semua krisis itu, sekolah ini terus bertransformasi, baik nama maupun wujudnya. Dari International School of Djakarta, menjadi Joint Embassy School, lalu Jakarta International School, hingga kini dikenal sebagai Jakarta Intercultural School (JIS).
Saat ini JIS menaungi lebih dari 2.200 murid dari jenjang Early Years hingga Grade 12, mewakili sekitar 70 kewarganegaraan di tiga kampus, menurut siaran resmi sekolah yang dimuat The Jakarta Post (31 Agustus 2026).
Kepala Sekolah JIS, Maya Nelson, menyebut identitas sekolah tetap konsisten meski zaman berubah.
"While our campuses and learning tools have changed, we remain guided by the same commitment to meaningful, future-focused learning that places students at the center of everything we do," ujarnya.
Dari garasi rumah dengan delapan murid, kini JIS menjelma jadi salah satu institusi pendidikan internasional tertua dan terbesar di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


