SD Ngupasan adalah salah satu legenda. Sekolah ini bahkan menempati gedung yang dulu dibangun Belanda dan kini ditetapkan sebagai cagar budaya.
Lokasi SD Ngupasan berada di Jalan Reksobayan, kawasan Ngupasan, Gondomanan, tepat di pusat Kota Yogyakarta. Dari sekolah, siswa bisa berjalan kaki ke Malioboro, Titik Nol Kilometer, Gedung Agung, Benteng Vredeburg, hingga kawasan Keraton.
Yang menarik, SD Negeri Ngupasan jadi salah satu sekolah tertua di Yogyakarta yang masih menempati bangunan aslinya. Sebab, aktivitas belajar mengajar di sekolah ini sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka.
Berdasarkan data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, bangunan tersebut pertama kali digunakan sebagai sekolah pada tahun 1912—jauh sebelum menjadi SD Negeri Ngupasan.
Gedung yang kini ditempati SD Negeri Ngupasan dulunya berfungsi sebagai Iste Europeesche Lagere Meisjes School, yaitu sekolah dasar untuk remaja putri Eropa pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Setelah sekolah tersebut dihapuskan pada 1930, bangunannya digunakan sebagai 1ste Europeesche Lagere Ambonsche School hingga 1942.
Sampai sekarang, bangunan itu tidak beralih fungsi. Gedung tersebut masih menyimpan jejak perkembangan pendidikan di Yogyakarta selama lebih dari satu abad.
Kemudian, sekitar tahun 1950, kompleks bangunan ini mulai digunakan sebagai Sekolah Dasar Ngupasan. Kawasan sekolah lantas berkembang pesat hingga menampung empat sekolah sekaligus, yakni SD Ngupasan I, SD Ngupasan II, SD Ngupasan III, dan SD Inpres Reksobayan.
Sayangnya, jumlah peserta didik yang terus menurun membuat pemerintah melakukan regrouping atau penggabungan sekolah pada 2006. Keempat sekolah tersebut kemudian dilebur menjadi satu dengan nama SD Negeri Ngupasan yang dikenal hingga sekarang.
Desain Arsitektur yang Unik
Selain sejarahnya yang panjang, bangunan SD Ngupasan juga memiliki nilai arsitektur yang menarik karena banyak bagian aslinya yang masih bertahan. Gedung utamanya mengusung gaya arsitektur Indis, perpaduan antara desain Eropa dan penyesuaian terhadap iklim tropis di Hindia Belanda.
Cirinya, bangunan memiliki langit-langit tinggi, pintu dan jendela berukuran besar, serta ventilasi yang memungkinkan udara mengalir dengan baik.
Desain seperti ini menjadi solusi pada masa ketika pendingin ruangan belum dikenal luas. Cahaya matahari dapat masuk secara optimal, sementara sirkulasi udara membuat ruang kelas tetap terasa nyaman digunakan.
Atapnya menggabungkan model kampung dan limasan, dua bentuk yang cukup dikenal dalam arsitektur Jawa. Bagian atap kampung terlihat pada area teras dan puncak bangunan, sedangkan bentuk limasan mengelilingi serambi di bawahnya. Seluruh bagian atap menggunakan penutup berupa genting.
Detail-detail kecil juga masih bisa ditemukan di berbagai sudut bangunan. Pada bagian depan, misalnya, terdapat ornamen geometris yang menghiasi sisi atas teras. Di area yang sama terdapat ventilasi udara yang menjadi bagian penting dari sistem sirkulasi alami bangunan.
Pintu dan jendelanya pun masih mempertahankan karakter khas bangunan kolonial. Bagian bawah menggunakan kayu, sementara bagian atas memadukan kaca untuk membantu pencahayaan ruangan. Di atas pintu terdapat ventilasi tambahan, sedangkan jendela-jendela kaca dibuat tinggi dan lebar serta dilengkapi teralis.
Bagian bawah dinding bangunan dilapisi keramik berwarna biru yang hingga kini masih menjadi salah satu ciri yang mudah dikenali. Menurut data BPCB Yogyakarta, bangunan SD Ngupasan belum mengalami banyak perubahan sehingga sebagian besar karakter aslinya masih dapat ditemukan sampai sekarang.
Nilai sejarah dan keaslian bangunan inilah yang kemudian membuat SD Negeri Ngupasan ditetapkan sebagai cagar budaya. Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tanggal 26 Maret 2007, bangunan SD Negeri Ngupasan I dan II resmi masuk dalam daftar bangunan cagar budaya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


