belajar di lkp kerjanya bisa ke jepang sampai albania 4021 lulusan siap berangkat - News | Good News From Indonesia 2026

Belajar di LKP, Kerjanya Bisa ke Jepang sampai Albania: 4.021 Lulusan Siap Berangkat

Belajar di LKP, Kerjanya Bisa ke Jepang sampai Albania: 4.021 Lulusan Siap Berangkat
images info

Perwakilan alumni Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) dilepas untuk bekerja di 11 negara dalam Gebyar Kursus 2026 di Jakarta.


Aqiella Padya Hayya, 25 tahun, ingin bekerja di luar negeri. Tidak hanya mengejar gaji besar semata, perempuan ini sudah punya rencana jangka panjang.

Suatu hari nanti, katanya, ia ingin membuka panti jompo di Indonesia. Akan tetapi, sebelum itu, ia perlu mengantongi pengalaman yang matang. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk terbang ke Jepang.

Aqiella tidak sendirian punya mimpi bisa ke luar negeri. Malahan, ia jadi satu dari 4.021 nama yang dilepas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk bekerja di 11 negara, dalam acara Gebyar Kursus 2026 bertema "Connecting Skills, Creating Futures" di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). Bersama ribuan orang, mimpi Aqiella terasa lebih dekat saat ini.

4.021 nama yang akan terbang ke 11 negara merupakan lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Mereka adalah anak-anak muda yang belajar keterampilan praktis lewat pendidikan nonformal.

baca juga

Kenapa Jepang, Bulgaria, sampai Albania?

Jepang, Malaysia, Bulgaria, Thailand, Albania, Singapura, dan Turki jadi list 7 dari 11 negara yang dituju. Negara-negara itu membutuhkan tenaga kerja karena mereka kekurangan penduduk dengan usia produktif.

Ya, mereka sedang mengalami aging population, yakni situasi ketika proporsi penduduk lanjut usia jauh lebih besar dibanding usia produktif, sehingga tenaga kerja domestik tidak cukup untuk mengisi sektor-sektor krusial seperti kesehatan, konstruksi, dan perhotelan.

Jepang, misalnya, menjadi negara dengan populasi lansia tertinggi di dunia. Data Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang lewat AFP mencatat penduduk berusia 65 tahun ke atas sudah mencapai 36,25 juta orang, atau 29,3% dari total populasi.

Sementara jumlah tenaga perawat lansia (kaigo) di sana pada 2022 baru sekitar 2,15 juta orang. Padahal, kebutuhan pada 2040 diproyeksikan naik ke 2,72 juta. Artinya, ada potensi kekurangan sekitar 570 ribu tenaga kerja jika tidak ada langkah besar.

Tak hanya Jepang, Jerman dan Korea Selatan pun menghadapi persoalan serupa.

Dalam hal ini, Indonesia melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk menunjukkan keunggulan sumber daya manusia (SDM) di kancah dunia.

baca juga

Bukan Cuma Mencari Kerja, tapi Dilepas Sebagai Duta

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti pun tak memandang ribuan nama-nama itu sebagai pekerja migran. Mu'ti menyebut, para TKI ini akan menjadi duta Indonesia di negara tujuan.

"Mereka adalah diaspora-diaspora Indonesia yang ke luar negeri bukan semata-mata untuk mencari rezeki, tetapi mereka adalah duta-duta Indonesia yang membawa misi Indonesia, membawa misi untuk memperkuat jalinan kerja sama dan bahkan jaringan bisnis antara Indonesia dengan negara-negara lain di mana mereka berada," ujarnya, sebagaimana dikutip dalam siaran Kemendikdasmen.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menyebut momen ini bukan sekadar pemberangkatan kerja biasa.

"Hari ini kita tidak sekadar melepas 4.021 alumni, tetapi kita melepas talenta Indonesia yang membawa keterampilan, karakter, dan nama bangsa ke panggung dunia," kata Tatang.

Dua Sektor yang Paling Laris: Hospitality dan Caregiver

Dari 11 negara tujuan pada pelepasan kali ini dua sektor mendominasi penyerapan tenaga kerja adalah hospitality (perhotelan dan kuliner) serta caregiver (pengasuh/perawat lansia).

Kedua sektor itu memang termasuk yang paling sulit diisi otomatisasi, karena mengandalkan interaksi manusia langsung. Robot dan AI belum bisa menggantikan sepenuhnya pekerjaan semacam ini, sehingga permintaannya relatif stabil bahkan cenderung naik seiring populasi lansia dunia terus bertambah.

Aqiella adalah salah satu contoh sosok yang akan mencoba profesi sebagai caregiver.

Di bidang hospitality, Redianto layak disebut. Ia merupakan lulusan LKP Royal Maritim Hotel. Sebelum dilepas ke negara sebelah, ia harus mengikuti pelatihan intensif sesuai dengan standar industri.

"Saya dibekali dengan keahlian sesuai dengan standar industri, mulai dari praktik sampai dengan on job training (OJT) sehingga setelah lulus bisa langsung bekerja," jelas Redianto.

Ada juga Nur Afifah, lulusan LKP Abdi Bangsa Institute lewat jalur Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) Platinum, program bantuan pemerintah untuk pelatihan vokasi. Ia akan memulai kariernya di The Retreat Koh Chang by Hilton, Thailand.

"Saya sangat antusias dengan bidang perhotelan. Program PKK menjadi kesempatan berharga untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membuka jalan menuju karier dan meningkatkan taraf hidup," ungkap Afifah.

baca juga

Bukan Sekadar Mengirim Orang, tapi Membangun "Pipeline" Jangka Panjang

Ketua Komisi X DPR RI, Agung Widyantoro, menekankan bahwa LKP tidak boleh berhenti di sertifikasi semata.

"LKP harus mampu membaca perubahan pasar kerja agar program pelatihannya tidak tertinggal dari perkembangan industri... LKP diharapkan tidak hanya berfokus pada sertifikasi, tetapi memastikan akses pekerjaan yang nyata. Keterampilan teknis juga perlu dilengkapi dengan kemampuan digital, manajemen usaha, pemasaran, literasi keuangan, hingga pembuatan jejaring agar lulusan didorong menjadi pencipta lapangan kerja," jelasnya.

Ketua Forum Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (PLKP) Indonesia, Zulkifli M. Adam, menambahkan bahwa daya serap lulusan LKP sebenarnya cukup luas — bukan hanya ke pasar kerja luar negeri, tapi juga domestik dan jalur wirausaha.

"Ini adalah salah satu wujud konkret lembaga kursus bersama pemerintah dalam rangka menuntaskan masalah pengangguran dan kemiskinan," ujar Zulkifli.

Gebyar Kursus 2026 sendiri tidak hanya agenda pelepasan kerja. Rangkaian acaranya mencakup kompetisi keterampilan, pameran (expo), promosi program unggulan LKP, hingga sesi business matching yang menjadi ruang bagi lembaga kursus untuk langsung bertemu calon mitra industri.

Bagi anak muda seperti Aqiella, Redianto, dan Afifah, ijazah bukan lagi satu-satunya tiket untuk menuju pasar kerja global. Keterampilan yang tepat, di waktu yang tepat, ternyata bisa membuka pintu ke Dubai, Tokyo, sampai Koh Chang.

Sebagaimana ditutup Dirjen Tatang Muttaqin, "Kami percaya bahwa ketika keterampilan terhubung dengan kesempatan, maka mimpi dapat diwujudkan menjadi masa depan yang lebih baik."

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.