Pada umumnya, mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) membutuhkan sertifikat khusus, apalagi bagi yang belum menempuh S2. Namun, Marsya Rouna Billauri, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mataram, justru bisa mengajar BIPA hingga ke Australia dan Amerika Serikat tanpa mengantongi sertifikat tersebut sama sekali.
"Ini adalah sekali pertama kali saya juga mengenal BIPA," kata Marsya, mengenang awal mula keterlibatannya di dunia pengajaran bahasa lintas negara.
Marsya punya pengalaman sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di University of Wisconsin-Madison lewat program Fulbright Foreign Language Teaching Assistant (FLTA). Sebelumnya, ia juga sempat mengajar BIPA selama satu tahun penuh di sekolah-sekolah Australia Barat.
Lantas, bagaimana ceritanya seorang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris bisa percaya diri mengajar bahasa ibunya sendiri di dua negara berbeda, tanpa modal sertifikasi formal?
Berangkat dari Nol Pengalaman BIPA
Marsya bisa terbang ke Australia karena dia lolos progam Language Assistant Program (LAP). LAP adalah program dari Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP) yang menempatkan seseorang untuk menjadi asisten pengajar bahasa Indonesia (BIPA) di sekolah-sekolah di Australia Barat selama 1 tahun.
Kala itu, Marsya mengaku mendaftar program tersebut dengan modal yang ia sebut sendiri "nol besar" untuk mengajar BIPA. Di Lombok, menurutnya, pengajaran BIPA hanya ada di kawasan turistik seperti Kuta, itu pun sebatas percakapan kontekstual untuk turis.
"Untuk standar bagaimana mengajar BIPA itu tidak ada, untuk di daerah Kuta, apalagi di daerah Mataram yang kota," jelasnya.
Meski begitu, menemukan bahwa latar belakang Pendidikan Bahasa Inggris yang ia tempuh di Universitas Mataram menjadi keunggulan tersendiri saat mengajar BIPA di Australia. Prestasinya sebagai Duta Bahasa tahun 2020 juga turut menguatkan posisinya sebagai kandidat yang unggul kala itu.
Karena itu, ia kerap menjadi sumber rujukan kontekstual bagi para instruktur lain, sekaligus memperkenalkan budaya Lombok lewat Tari Rudat, tarian penyambutan tamu yang sarat nuansa keislaman.
Bermula dari Anak-anak Pesisir Ampenan
Sebelum terbang ke Australia, kecintaan Marsya pada dunia mengajar bahasa sebenarnya sudah tumbuh sejak ia masih kuliah. Ia membuka kelas nonformal untuk anak-anak di kawasan pesisir Ampenan, Lombok.
"Mereka tidak mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris di pendidikan formal saat itu, sehingga ketika mendengar Bahasa Inggris pertama kali seperti My Name Is, mereka sesenang itu untuk mencoba," kenangnya.
Momen itulah yang menurutnya meyakinkan dirinya bahwa mengajar adalah jalan yang ingin ia tekuni, jauh sebelum ia tahu peluang itu bisa membawanya ke luar negeri.
Sempat Ragu Sebelum Berangkat ke Australia
Kabar lolos seleksi LAP datang di waktu yang tak terduga, yakni saat Marsya tengah mempersiapkan wawancara beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk keesokan harinya. Karena minimnya informasi soal program tersebut saat itu, Marsya sempat ragu apakah tawaran itu benar adanya.
Marsya sendiri mendapat informasi soal program tersebut dari unggahan status WhatsApp dosennya. Ketika Marsya memverifikasi apakah program tersebut valid, sang dosen pun tidak sepenuhnya yakin. Sebab, dalam sejarahnya, belum ada alumni kampus yang bergabung dalam program itu.
Marsya bahkan mencoba menelusuri nomor telepon pewawancaranya lewat aplikasi pendeteksi kontak sebelum akhirnya yakin program tersebut asli.
"Saya pikir mengajar bahasa Indonesia di luar negeri selain Fulbright yang kita tahu benar-benar legit, untuk negara-negara lain itu baru lumayan terdengar 2 atau 3 tahun belakangan ini," ujarnya.
Dari Geraldton, Lanjut ke Wisconsin
Setahun mengajar di Geraldton, Australia Barat, sejak 2023, menjadi modal penting bagi Marsya untuk mendaftar program Fulbright FLTA. Salah satu syarat program ini adalah memiliki minimal satu tahun pengalaman mengajar Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, syarat yang sudah ia penuhi dari pengalaman di LAP.
Ia mendaftar FLTA pada Februari, menunggu hampir setahun, dan akhirnya dinyatakan sebagai kandidat utama pada Agustus, sebelum berangkat ke Amerika Serikat pada Agustus 2025.
Selama sembilan bulan mengajar di University of Wisconsin-Madison, Marsya mengelola program rutin bernama Indonesian Language Table. Ini adalah semacam sesi mingguan tempat ia memperkenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswanya, mulai dari konsep "nongkrong" hingga genre musik hip-dut yang digandrungi Gen Z Indonesia.
Kelas Berisi Tiga Mahasiswa yang Mengubah Segalanya
Status sebagai penerima Fulbright FLTA memberi Marsya kesempatan mengikuti kelas audit secara gratis. Salah satu kelas yang ia ambil, African American Studies: Social Justice and Multicultural, saat itu hanya diikuti tiga mahasiswa.
Meski hanya tiga orang, tapi di kelas itulah, seorang profesor tiba-tiba bertanya apakah Marsya berencana melanjutkan S2. Marsya mengaku sempat ragu untuk berharap lebih, walaupun sejak awal memang ia sangat berharap bisa melanjutkan pendidikannya.
"Saya pikir saya tugasnya menyelesaikan program ini, mengajar, dan sepertinya saya terlalu meminta lebih kalau saya berharap saya bisa studi lagi di sini," akunya.
Namun sang profesor justru menawarkan diri memberikan surat rekomendasi, hanya empat hari sebelum tenggat pendaftaran S2 ditutup.
"Saya bahkan sampai kayak self-sabotage myself gitu. Apakah memang hal besar ini bisa terjadi di hidup saya?" ujarnya.
Tak sia-sia, Marsya dinyatakan diterima di program Master of Research, School of Education, University of Wisconsin-Madison, kampus yang sama tempatnya mengajar.
Berharap Bisa Bangun Sekolah di Lombok
Marsya mengaku punya cita-cita jangka panjang yang selalu ia sampaikan setiap kali ditanya soal rencana ke depan: membangun sekolah sendiri di Nusa Tenggara Barat.
"Saya ingin sekali punya sekolah yang benar-benar memaksimalkan potensi anak dan memaksimalkan apa yang anak ingin pelajari, bukan apa yang anak harus pelajari," katanya.
Saat ini, ia tengah mengupayakan beasiswa LPDP atau posisi teaching assistant untuk meringankan biaya kuliah S2-nya. Selain itu, ia juga aktif menghidupkan kembali Sama Kita Education, platform berbagi bagi pengajar-pengajar muda Indonesia yang menghadapi kecemasan serupa dengan yang pernah ia rasakan dulu.
"There's like plenty of chances, plenty of opportunities yang mungkin bisa ada dari modal kita bisa Bahasa Inggris," tutupnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


